
Perlu waktu lebih dari 21 hari untuk membiasakan diri dengan rutinitas baru, setuju? Begitupun dengan Ajeng.
Ibu muda ini bahkan sempat mengalami syok selama dua minggu lebih, ya bayangkan saja dari Asia, lebih tepatnya bagian Tenggara. Tiba-tiba harus beradaptasi dengan Benua Biru. Segalanya berbeda jauh, Aksa setia menemani istrinya, 14 hari tidak masuk kantor.
Ajeng masih takut tinggal di mansion yang luasnya tidak tanggung-tanggung. Banyak maid serta petugas keamanan tetap saja Ibu satu anak ini lebih nyaman di ketiak suaminya.
Terutama penggunaan bahasa, Ajeng akui dia lemah. Padahal dalam mansion, Aksa mempersiapkan penerjemah khusus, usianya 50 tahun. Tetapi belum sanggup memberi kenyamanan .
Hari ini, tepat 90 hari pasca pindahnya Rahajeng, tidak ada rasa canggung lagi di mansion. Hanya masih takut kalau keluar dari kediamannya. Takut lupa jalan pulang.
Bryatta tidak lagi ketergantungan 100% kepada Ayah dan Ibunya. Membuat Aksa lebih leluasa membawa Ajeng pergi kemanapun, menikmati Kota Zürich.
Aksara memberi kejutan istimewa untuk istri tercinta, berkeliling di Danau Zürich. Lengkap dengan boat khusus, memandangi sunrise dan segarnya udara pagi. Dua insan itu menikmati waktu yang tidak pernah didapatkan ketika awal menikah dulu.
“Aksa geli, berhenti dong! Katanya lapar, mau sarapan kan? Ada nasi untuk aku?” tanya Ajeng malu-malu, sambil berulang kali menaikan bahu karena ulah suaminya.
“Ada, nasi goreng kesukaan kamu, aku sendiri yang masak sayang. Nasi goreng kencur spesial untuk Nyonya Caldwell.” Tutur Aksa begitu memuliakan istrinya.
Dunia luar menobatkan Aksara sebagai sosok suami idaman para istri, selalu memanjakan Ajeng dengan caranya sendiri. Tapi mereka tidak tahu, Ajeng sering melewati malam sepi, lantaran suaminya perjalanan dinas ke berbagai negara.
Aksa tidak membawa istri turut serta karena Bryatta masih membutuhkan ASI, waktu perjalanan bisnis pun tidak sebentar bisa tiga sampai sepuluh hari.
Sebagai gantinya Aksara memberi waktu luang dengan membawa istrinya keliling kota atau masih di dalam Swiss.
“Maaf kenapa lagi, sayang?” Aksa merotasi tubuh Ajeng yang sedikit berisi, tidak lagi kurus.
“Maaf karena terus merepotkan. Kamu juga jadi bertanggung jawab atas Ibu. Sekali lagi makasih banyak.” Sedih, bahagia, marah diaduk menjadi satu.
“Sama-sama … sebenarnya aku juga sayang sama ibu, aku tahu sakitnya kehilangan orangtua, jadi anggap saja sebagai bakti seorang anak terhadap ibunya.” Imbuh Aksa dalam hati, setiap bulan mentransfer lima juta rupiah untuk kehidupan Maya. Aksa rasa cukup, nominal itu untuk hidup sendiri.
“Sekarang kita sarapan sayang, nanti nasi gorengnya dingin. Kamu perlu nutrisi lebih untuk nge-charge tenaga aku. Tahu ya sayang?” seringai Aksara, langsung menggendong istrinya.
Momen seperti ini tidak pernah mereka sia-siakan. Harus di manfaatkan dengan sangat baik.
Usai sarapan Aksara membawa istrinya menepi, ke Rapperswill, kota bunga mawar yang sangat indah. Tapi tujuan Aksa dan Ajeng berbeda. Jika Ajeng ingin memandangi cantiknya kebun bunga mawar, sedangkan Aksa lebih mengutamakan mengungkung istrinya di resort.
Mata Ajeng berbinar, cairan bening menetes setelah melihat betapa indahnya kamar ini ditambah private pool bernuansa romantis. Hamparan bunga mawar berada di sisi kanan dan kiri.
“Mau berenang?” bisik Aksara di telinga Ajeng. “Airnya hangat, aku takut istriku takut dingin.” Aksa membimbing Ajeng berjalan melalui pintu kaca.
“Tapi aku lupa bawa baju berenang Aksa.” Ajeng tersenyum samar karena gagal menikmati kolam berenang berukuran sedang itu.
“Kenapa harus pakai baju berenang?” Aksa mengerutkan kening, pura-pura berpikir.
***
Jangan lupa dukungannya untuk Aksa 🙏
Terima kasih