I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 24 - Memaksa



Setelah menerima uang tunai, Danang dilanda hasrat berlebih untuk mengalahkan coffee shop pesaingnya. Dibantu Rayana, mencari arsitek terkenal, beruntunglah tidak membayar mahal sebab luas bangunan yang diinginkan disesuaikan dengan anggaran.


Waktu yang dijanjikan kurang dari dua bulan, terpaksa pria itu harus menutup gerai sementara waktu demi meraup keuntungan melimpah ruah dan terkenal. Bahkan anggaran mengundang selebgram pun di sisihkan.


Tidak hanya renovasi, Danang membeli mesin baru, harganya sangat fantastis. Dia sendiri memesannya dari luar negeri dibantu putri kesayangan. Sisanya akan digunakan untuk menggaji karyawan sebelum coffee shop-nya menerima keuntungan.


Sementara waktu hidupnya bertopang pada penghasilan Maya di toko baju, lalu Rayana terpaksa memberi bantuan kepada Ibu dan Bapaknya. Dia sempat iri kepada Ajeng, adiknya itu tidak memberi apapun untuk kedua orangtua.


Danang dan Maya baru pulang dari toko, terkejut mendapati rumah dalam keadaan gelap. Ini malam hari, jadilah semakin tak terlihat apapun.


“Pasti Rayana lupa bayar listrik ini. Bu telepon dia, jangan main terus, mentang-mentang gaji besar dia seenaknya saja.” Rasa lelah semakin memuncak menjadi amarah, berharap di rumah bisa istirahat tapi menunggu di teras sampai putri kesayangannya pulang.


“Ya Pak sebentar” Maya menekuk wajah, tidak senang mendapat tekanan perintah dari suaminya. "Sudah mencari uang di toko seharian, hasilnya harus dibagi dua dengan suami, sangat tidak etis." Pikir Maya. Bahkan sudah dua kali dia absen arisan warga sosialita.


“Pak, aduh … pulsa internet Ibu habis, Pak.” Keluh Maya, dia lelah berdiri. Duduk juga percuma kalau hanya di atas lantai, sakit. Karena satu-satu kursi digunakan Danang.


“Apa iya, Bapak harus jual mobil untuk beli pulsa, iya Bu?” sentak Danang, menyerahkan ponsel keluaran terbaru dari dalam saku celana. “Ini Bu.”


“Jangan dijual Pak, nanti apa kata tetangga? Kita disangka jatuh miskin. Ibu malu Pak.” Keluh Maya membayangkan betapa banyak hinaan yang akan diterimanya. Selama ini terlalu membanggakan diri, bisa memiliki rumah besar, anak seorang dokter, coffee shop besar dan toko baju.


Sepasang suami istri itu menunggu hingga larut, rupanya Rayana menginjakkan kaki di rumah pukul sebelas malam.


Anak yang selalu menjadi kebanggaan keluarga langsung menerima amarah Danang. Bahkan emosinya semakin meradang mendapati putrinya pulang bersama seorang pria.


Detik itu juga Danang menghubungi kedua orangtua Aji, untuk menjodohkan putrinya dengan Aji. Dia tidak mau menjadi bahan gunjingan tetangga.


Bagi Danang dan Maya, dua anaknya adalah investasi. Apa yang telah ditanam harus bisa mengembalikannya di masa depan. Sedangkan Ajeng masih kukuh mempertahankan status pernikahannya, anak bungsu itu dianggap gagal memberi kebanggaan pada dua orangtua.


“Kamu harus mau Rayana. Ingat pesan Bapak. Ambil hati kedua mertua mu, dan buat Aji bertekuk lutut, Bapak jamin seluruh harta warisan pasti jadi milik kita.” Mata hijau Danang semakin melebar, berangan-angan mengipas keringat dengan uang, tidur di atas tumpukan uang dan satu lagi, ia bisa membuka cabang coffee shop di berbagai kota.


“Tidak mau Pak. Sesuai perjanjian seharusnya Ajeng bukan aku.” Rayana berani membentak kedua orangtuanya, dia merasa tidak perlakukan dengan baik.


“Ayana, turuti saja. Kamu beberapa kali pulang malam. Kuping ibu panas mendengar nama putri kesayangan ibu di hina saat arisan.” Maya semakin memojokkan putri sulungnya.


Tentu saja Maya memiliki misi khusus, wanita itu memiliki hutang arisan. Ia kesulitan membayar tas dan berlian serta mobil mewah. Maya tidak berani minta uang kepada suaminya, karena Danang hanya tahu bahwa istri tercinta turut serta dalam arisan berlian.


Sebelum wajahnya tercoreng, Maya ingin putri sulungnya menikahi Aji dan bisa membantunya membayar semua hutang.


“Kalau begitu, ibu saja yang menikah lagi! Aku masih waras.” Gadis itu menghentakkan kaki, berlari ke kamarnya dan mengunci diri.


Dalam kamar, Rayana menangis sesenggukan. Kenapa Ibu dan Bapaknya bisa setega itu?


Mendadak wajah pilu Ajeng memenuhi kepala. “Ajeng? Apa mungkin kamu juga merasakan hal ini?” tanya Rayana dalam hati, seketika kepalanya kembali pada sediakala. “Tapi aku tidak pernah dekat dengan pria miskin seperti Aksa. Jadi yang sepantasnya menikah dengan Aji, itu kamu Jeng bukan aku!” Rayana melempar guling dan bantal pada hiasan di atas meja. Kedua tangannya mengepal kuat, kuku cantik menancap pada telapak tangan.


**


Beberapa hari dilewati Ajeng cukup baik, suasana kerja minggu ini sangat nyaman. Entahlah, mungkin karena hampir 60% rekan baru.


Perlahan berita buruk tentang dirinya mulai berkurang, bahkan dalam satu hari telinganya terasa sejuk tanpa mendengar cemoohan dari mulut berbisa sesama wanita, ingat dan catat wanita. Mereka sangat sering mengomentari Ajeng dan menyudutkannya.


‘Ajeng? Dokter Rayana mencari kamu. Sepertinya penting.’


Enggan membuang tenaga lebih dalam, Ajeng menemui kakak kandungnya di poli umum.


Tok … tok


“Permisi, dokter. Ini perawat Rahajeng.” Ajeng tidak berani masuk begitu saja tanpa persetujuan Rayana. Ini rumah sakit bukan rumah, ada batasan diantara mereka.


“Masuk” suara Rayana tidak terdengar seperti biasa. Perempuan cantik ini bahkan terlihat lesu, mungkin sakit.


“Ajeng? Boleh malam ini aku menginap di kosan kamu? Kamu tahu, Ibu dan Bapak memaksaku untuk menikah dengan Aji.” Ungkapnya dengan wajah menunjukkan rasa sakit hati mendalam.


“Jangan sampai nasibku berakhir naas melebihi Ajeng, aku tidak mau jadi buah bibir orang-orang, menikah dengan pria biasa saja, pengangguran juga, memalukan.” Rayana membatin, mengharapkan sosok sepadan bahkan melebihi dirinya, datang menyelamatkan hidup.


“Tapi kamarku kecil ka, hanya ruang tidur dan dan kamar mandi.” Ajeng merasa risih ada orang lain, sekalipun ini kakaknya. Relung hati Ajeng dan otaknya kompak, merasa ada hal yang akan terjadi ke depannya.


“Boleh ya Ajeng, satu hari ini. Masa kamu tega sama aku?” Rayana merajuk, wajah cantiknya menekuk, punggungnya pun bersandar pada kursi.


“I-iya boleh kak.” Ajeng mengukir senyum tipis. Bingung mau menolak tapi kasihan. Hah kenapa bukan Aksa yang tidur di kamar kosannya.


Keluar dari ruang dokter umum, tanpa sengaja Ajeng berpapasan bahkan hampir menubruk direktur rumah sakit.


“Maaf Dokter.” Ajeng menundukkan kepala, tidak berani menatap bola mata kehijauan itu.


“It's Ok Nyonya. Maksudnya A-jeng.” Direktur itu mempersilahkan perawatnya untuk jalan lebih dulu, sedangkan dirinya lekat-lekat memperhatikan dari mana istri bosnya itu keluar.


“Apa yang mereka bicarakan? Aneh sekali.” Gumam pria setengah baya. “Harusnya dalam ruangan terpasang CCTV.” Ekor matanya melirik ke dalam ruangan. Gegas menghubungi seseorang, melaporkan apa yang terjadi. Meskipun kecil bagi sebagian orang tapi menurutnya ini sangat penting.


“Semoga Nyonya Caldwell tidak dalam bahaya.” Dokter bedah ini terus berjalan melakukan pengawasan secara rutin.


TBC


tekan jari dan berikan gift serta vote


maaf maksa 🤧