
Sesuatu yang sangat ganjil di temukan pada bagian belakang buku bisnis milik Ayah Aksa, tepat sebelum halaman terkahir terdapat kertas menempel. Aksa perlu memisahkan dua bagian yang merekat menjadi satu.
Merusak dua lembar kertas hingga terpisah, foto hitam putih seorang pria dan wanita, mungkin sepasang kekasih, pikir Aksara. Semakin diamati wajah keduanya tidak asing, Aksa berlari menuju rak lain. Mengambil sebuah album foto, mencocokkan sosok dalam gambar.
“Dad?” kedua mata Aksa terbuka lebar, Arnold Caldwell; Ayah dari Aksara tampak memeluk dan mencium pipi seorang wanita. Dia adalah Ibu dari Andres, ya suami Rahajeng ini memang tahu Ayahnya pernah menjalin hubungan dengan mendiang Ibu Andres.
“Siapa di dalam sini?” Aksara menunjuk pada perut buncit wanita, sudah dipastikan dalam keadaan hamil. Dia sendiri mulai memiliki asumsi lain tentang dirinya.
Tidak ada keterangan lebih lanjut, petunjuknya terhenti. Aksa yakin bayi yang tengah di kandung oleh perempuan itu adalah anak Ayahnya.
Tengah malam Aksa menyambangi kamar tidur Ayah Elang di bangunan lain, membawa buku bisnis milik Arnold.
Untuk saat ini yang dapat dimintai keterangan hanya orang-orang terdekat keluarganya, mengabdi selama puluhan tahun. “Pasti paman tahu apa yang terjadi 29 tahun lalu.”
“Aksa? Ada apa?” Elang mengamati Bosnya dari atas ke bawah, tidak biasanya Aksara keluar kamar tengah malam. Membawa buku tebal, mana mungkin kan dia tidak mengerti isi dari bacaannya.
“Ada yang ingin aku tanyakan.” Aksa menggerakkan bahu, dia menanti pintu kamar Ayah Elang terbuka.
“Tuan Muda Caldwell, memerlukan sesuatu?” tanya pria sepuh berambut putih.
“Ya Paman tentu, bisa kan? Aku sangat ingin mengetahui hal ini.” Aksa masuk ke kemar diikuti Elang yang juga penasaran. Hubungan Aksa dan Elang hanya formal di hadapan publik. Dua pria itu tak terpisah lagi, layaknya saudara kandung.
Tak menunda waktu lebih lama, Aksara menunjukkan buku bisnis serta foto sepasang kekasih di dalamnya. “Bisa bantu jelaskan ini, Paman? Apa Daddy memiliki anak dari wanita lain? Di mana dia sekarang?” Aksa kesulitan menelan air liur yang begitu pekat. Sakit sekali mengetahui Ibunya dikhianati oleh Ayahnya sendiri.
Ayah Elang mengamati seksama, jujur saja tidak tahu apapun mengenai hubungan antara Tuan Muda Arnold dengan Ibu Andres. “Maaf Aksa, Paman sama sekali tidak bisa membantu. Aku pikir jalinan asmara Tuan Arnold bersama pelayan hanya omong kosong.” Imbuh Ayah Elang, benar-benar kebingungan. Kejadian itu mungkin saja lebih dari 30 atau 35 tahun lalu.
Aksara kembali ke kamar tanpa membawa hasil apapun, dia sudah memiliki jawaban dalam kepala. Memerlukan konfirmasi saja atas sebuah kebenaran. “Bantu aku, tes DNA. Aku ingin hasilnya sebelum kita pulang ke Indonesia!” perintahnya kepada seseorang melalui sambungan telepon.
“Kenapa kakek menyembunyikannya? Apa dia juga tahu kalau dalam tubuh kami mengalir darah yang sama?” Aksa melirik wajah cantik mendiang Ibunya, senyum itu begitu manis dan tulus. “Mom, kau menikahi pria yang salah.” Tukas Aksa, mendadak membenci sosok Arnold.
Siang hari sebelum berangkat ke area pemakaman, Aksa mengunjungi rumah sakit, mengambil tes DNA. Kemudian bertandang ke kantor pengacara keluarga Caldwell.
Pria dengan five o’clock shadow beard ini yakin ada seseorang yang mengetahui silsilah keluarganya dengan baik. Tanpa janji lebih dulu, Aksa menerobos masuk ke ruangan kerja pengacara.
“T-tuan Muda Caldwell, maaf saya tidak mengetahui kehadiran Anda.” Ucapnya terkejut mendapati Aksa duduk di atas sofa. “Apa yang bisa Saya berikan, Tuan?” tanyanya sangat gugup.
“Anda mengabdi lebih dari puluhan tahun. Aku ingin tanya siapa saja anak Arnold?” tegas Aksa berusaha bersikap santai menutupi keterkejutan membaca laporan tes DNA.
“Jawab saja Paman, jangan takut, mereka semua tidak ada lagi di dunia. Apa karena itu, dia membunuh keluargaku? Menginginkan sebuah pengakuan? Menanamkan dendam berlebihan sampa kami saling membunuh?” Aksa menyerahkan amplop ke tangan pengacara.
“B-agaimana Anda tahu? Hal ini sudah tertutup rapat selama 36 tahun. Bahkan saudara Anda tidak tahu kebenaran ini.” Pengacara menunduk, membuka kacamata dan menyeka Kristal bening yang menetes.
Ayah Aksara memiliki hubungan terlarang bersama seorang pelayanan mansion. Hingga wanita itu hamil, namun Henry menolak, menentang keras. Mana mungkin keturunan Caldwell lahir dari seorang pelayan.
Henry mengasingkan wanita itu sangat jauh, memberi kebutuhan cukup, dengan catatan tidak lagi mencari Arnold. Kakek Aksara yakin putra tunggalnya akan melupakan sosok penggoda jika memiliki istri yang dinilai lebih baik dari pelayan.
Ternyata tujuan Henry berjalan mulus, Arnold mampu melupakan pelayan itu dan menikahi Ibu Aksara, keduanya hidup bahagia. Wajah pasangan suami istri yang terkenal harmonis memenuhi majalah, Ibu Aksa setia mendampingi suaminya perjalanan bisnis sekalipun tengah hamil.
Dendam mulai tertanam sejak pengasingan, dan pelayan itu membalas satu persatu, memulainya dengan menembak pria yang dicintai tepat di saat istrinya melahirkan. Hari itu juga Aksa kehilangan ayahnya.
Aksa berdiri, menertawakan kehidupan yang dimulai dari kesalahan, merebut milik orang lain. “Jadi aku melenyapkan nyawa kakak kandungku sendiri? Hah dunia yang lucu.” Menarik napas, mengepalkan kedua tangan. Tatapannya kosong ke depan.
“Tuan Besar tidak akan pernah mengakui Andres sebagai keturunan Caldwell. Anda dan Andres berbeda.” Imbuh pengacara, yang selama ini membantu Henry Caldwell.
“Tentu saja, kami lahir dari Ibu yang berbeda. Seharusnya kehidupan ini milik Andres, benar kan? Tapi keegoisan kakek, membuat kami berselisih, dan pada akhirnya tetap membawa Andres pulang. Memberi nama keluarga di belakangnya, mengikat Andres dengan akta adopsi.” Aksa tidak habis pikir hampir 30 tahun hidup dibohongi.
“Ibuku juga tidak tahu kan? Suaminya memiliki putra pertama dari wanita yang lebih dicintainya?” Aksa keluar ruangan, diikuti Elang, keduanya melangkah mantap menuju pemakaman. Bahkan tanah bersemayam jasad Andres pun di tempatkan di area lain.
Aksa memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Andres dari blok lain ke area khusus keluarga Caldwell. Anggap saja sebagai penghormatan terakhir.
Usai mendapat tempat yang layak, Aksa menangis di pusara Andres, lalu memandang sisi lain, dimana tempat istirahat Ayah dan Ibunya bersisian.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Aksa, dia hanya terpukul akan kenyataan yang baru saja terkuak. Itulah alasannya Henry selalu menjadikan Aksa prioritas dan menjadikan Andres sebagai pengawal pribadi.
“Istirahatlah dengan tenang.” Aksa pergi, melepas segala luka. “Elang. Kita ke Indonesia sekarang juga. Kalau kau ingin tetap tinggal, silakan!” bergegas memasuki mobil menuju bandar udara.
Mengingat Ajeng dan calon anaknya, yang saat ini menunggu di rumah. Untuk menghilangkan rasa duka, Aksa menghubungi Ajeng, hanya wanita itu yang sanggup menghapus rasa sakit atas peliknya masalah keluarga Caldwell.
TBC