I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 33 Teman?



“Aksa kita mau ke mana?” Ajeng melihat penampilan rapi suaminya, tidak formal tapi masih sangat menakjubkan. Ajeng memegang pakaian yang sengaja Aksa beli, bingung sebenarnya ke mana mereka akan pergi.


“Ganti baju sayang. Kita akan mengunjungi seseorang yang sangat penting.” Aksa menarik istrinya, hingga Ajeng terperangkap dalam pelukan erat, pria itu menghujani wanitanya dengan banyak kecupan di wajah. Kemudian mulai melepas kancing piyama yang digunakan Ajeng. Melempar kain itu ke atas kasur, Aksa tersenyum sembari membelai pipi merah istrinya.


“Istriku manja ya. Ini pakai lah.” Aksa meraih dress cantik yang masih terbungkus, 5lalu membantu Ajeng melekatkan pada tubuhnya.


“Selesai. Bajunya cocok di kamu. Sebentar ya Ajeng, aku punya sesuatu.” Aksa memutar badan dengan tonjolan otot dada, biceps, serta triceps yang terpahat gagah. Jangan lupakan bagian otot punggung yang begitu terbentuk. Ajeng nyaris saja meneteskan air liurnya, dia penasaran dan ingin melihat bagaimana Aksa melakukan pull up.


Aksa melingkarkan jam tangan pada pergelangan Ajeng, ya couple, sama dengan miliknya. Sengaja Aksa pesan khusus, menambahkan pelacak di bagian dalam, hanya untuk antisipasi saja.


“Kamu suka?” tanya Aksa. Namun wanita dengan bola mata hitam itu membeku, tidak menjawab sama sekali.


Ajeng malah fokus memperhatikan otot dada tepat di depan indra penglihatannya. Jantungnya berdetak dengan kecepatan tinggi. Darah pun tersalur deras ke seluruh tubuh, membawa oksigen sampai pada otak dan mengeluarkan hormon pemicu adrenalin.


“Sayang?” Aksa mengikuti arah pandangan istrinya dan terkekeh. Dulu tubuhnya kurus akibat kekurangan waktu istirahat dan nutrisi, ingat ya menjaga bentuk tubuh seperti ini tidak mudah. “Bukan kah tadi kamu sudah merasakannya? Kurang? Mau lagi?” goda Aksa, tangannya beralih pada satu kotak karton di atas ranjang, membuka perlahan, memasang sepatu cantik yang membingkai dua kaki jenjang Rahajeng.


“Iya. Hah? Eh?” jawab Ajeng tanpa sadar, semburat merah semakin menjadi pada pipi. Wanita ini baru sadar kalau penampilannya sudah sangat sempurna malam ini, sungguh malu dirinya.


Sementara Aksa tertawa puas, bisa menjahili Ajeng. Boleh juga dimasukkan ke jadwal pribadi, untuk membunuh waktu jenuh.


Aksa menggandeng tangan Ajeng menuju luar hotel, kali ini tidak mengemudi sendiri sebab ada misi kecil yang akan jalankan, bersama seorang sopir dan tentu saja dua mobil pengawal menjaga.


Mereka menuju restoran, tempat Aksa mencari sumber penghasilan selama tiga tahun lamanya. Rumah makan itu kini telah dibalik nama menjadi milik Rahajeng Prameswari. Betapa baiknya Aksa, tentu saja semua tanpa sepengetahuan Ajeng.


Elang telah reservasi tempat terindah di restoran. Aksa membawa Ajeng ke dalam, semua karyawan tidak ada yang mengenal sosok pria di depannya termasuk Rudi. Karena Aksa menggunakan kacamata serta topi.


“Ajeng? Kamu sama siapa? Wah hebat, lepas dari Aksa dapat bos.” Sinis Rudi, matanya tidak berkedip memandangi wajah Ajeng, dia memang mengagumi istri dari Aksara, hanya sekadar kagum tidak lebih.


“Hah, ini s-suamiku.” Ajeng tergagap, aura restoran ini menjadi menyeramkan.


Sampai keduanya duduk di kursi yang telah di pesan, Aksa masih menyamar. Dia menunggu Rudi mengantar semua makanan pesanan.


Dan


Inilah waktu yang dinantikan, Rudi selesai menata setiap sajian di atas meja, tapi tidak sengaja menjatuhkan sendok, dengan cepat mengambil benda itu tepat di bawah kaki Aksara.


Dia masih menunduk kaku dan memohon maaf atas kesalahannya. “Maaf Pak.” Ucap Rudi dengan nada sombongnya. Aksa pun berdiri melepas kacamata dan topi, menatap sengit pada Rudi.


“Maaf? Sendok itu hampir menggores sepatuku. Tahu?” suara sedingin es menjalar ke telinga Rudi, seketika mendongak, jantungnya seakan copot. Rudi berjalan mundur, tidak menyangka pria di depannya ini Aksara.


“Aksa?” suara Rudi tercekat di tenggorokan. Bibirnya terkunci rapat, tidak mampu berkata-kata. Menelisik penampilan Aksara yang begitu sempurna, bagai langit dan bumi dengannya. Jutaan pertanyaan muncul di kepala Rudi, penasaran dari mana si gembel Aksa bisa memperoleh harta?


Isi kepala Rudi mengingat dirinya pernah melihat Aksa mengendarai supercar. Jadi sekarang bos-nya memberi Aksa kepercayaan? Ternyata langkahnya mengusir Aksara dari restoran salah besar.


“Sebaiknya minggir, kami mau makan.” Menunjuk wajah Rudi dan mengibaskan tangan.


“Sombong kamu Aksa, baru jadi anak buah bos sudah begini gayanya. Awas kamu.” Gumam Rudi dan sayangnya telinga Aksa masih menangkap jelas.


“Kita lihat sebentar lagi.” Aksa memilih menikmati hidangan malamnya bersama istri tercinta.


Rudi pun berjalan ke dapur, mendadak di hadang satu orang pria bertubuh kekar, memerintahkan masuk ke mobil hatchback abu-abu yang terparkir. Tapi pria itu menolak dan melawan, akhirnya dengan terpaksa, memukul titik saraf hingga pingsan.


Tidak lama dari kamera terlihat sedan sport mulai membuntuti dari belakang, dan satu SUV lagi menempel rapat pada kendaraan Tuan dan Nyonya Caldwell.


Keempat mobil itu parkir di sebuah bangunan tua, gelap, kumuh, berlumut dan menjijikan.


Rudi di seret keluar, kemudian diikat pada kursi besi. Dengan rantai mengelilingi tubuh, tangan dan kaki tidak bisa bergerak.


“Aksa, apa yang kamu lakukan?” cicit Ajeng ketakutan, benar-benar sisi lain suami yang baru diketahuinya. Aksa begitu kejam, beruntunglah Ajeng masih dibiarkan bernapas atau mungkin belum, ya tidak ada yang tahu.


“Tikus itu harus diberi materi khusus sayang. Kamu diam di sini, jangan bergerak, jangan jauh dari aku atau pengawal. Kamu lihat kan?” Aksa menunjuk sekeliling mereka, demi apapun ini bukan tempat yang layak untuk manusia. Tiga ekor ular besar di sudut ruangan, satu anjing berambut hitam dan tebal berjalan mondar mandir.


“Hah, siapa kalian? Apa yang kalian lakukan? Lepas, aku laporkan ke polisi!”seru Rudi terbangun dari mimpi indah tapi terjatuh pada mimpi buruk.


“Aksa? Semua ini perbuatanmu, hah? Kurang ajar kamu Aksa.” Teriak Rudi, berani meludah. Oh menjijikan bukan, dia tidak tahu berhadapan dengan siapa.


“Kita bermain sebentar Rudi. Aku tidak menyangka orang sepertimu dengan tega menuduh dan merencanakan sesuatu yang buruk untukku, sampai semua bukti mengarah padaku. Tapi jejak-mu sangat jelas tertinggal, masih kotor, mudah ditemukan.” Sengit Aksa mulai bangkit dari duduknya, melepas genggaman tangan Ajeng.


“Cara yang sangat murahan.” Aksa bersedakap dada, mendekati Rudi, namun tetap berjarak dua meter.


“Kau tahu ya? Tapi sudah terlambat Aksa, lagipula hidupmu juga sudah enak kan? Aku hanya ingin dipercaya oleh bos, memiliki uang tip banyak.” Jawab Rudi mengakui perbuatannya.


“Lantas ke mana uang brankas yang kau curi? Judi? Atau dihabiskan bersama salah satu staf keuangan? Kalian bekerja sama menjebakku.” Geram Aksa tidak habis pikir, orang yang dianggap teman sangat tega mendorong masuk ke jurang. Aksa menunjukkan map, berisi bukti kecurangan Rudi.


“Bukan urusanmu, lepaskan aku, dasar sampah tidak tahu diri.” Hina Rudi bukannya memohon maaf, malah semakin membenci Aksara karena berhasil menemukan bukti bahwa dirinya yang mengambil uang restoran.


“Kau itu sama dengan hewan di bawah kakimu.” Aksa menghela napas, kembali duduk. Menatap tajam Rudi.


Pria itu mulai menunduk, sontak kedua netra melotot. Empat ekor buaya di bawah sana siap mencabik-cabik bahkan menelan langsung Rudi.


“Oh ya, mereka kelaparan. Aku belum memberinya makan, jadi lebih agresif.” Ucap Aksa bergidik ngeri menambah ketakutan pada Rudi.


“Lepaskan aku Aksa, semua ini karena aku terjebak hutang. Aku tidak sanggup membayar semua hutangku. Jangan Aksa, aku mohon. Kita teman kan?” Semula Rudi tidak takut tapi buaya itu mulai membuka mulut, menganga tepat di bawah kursinya.


“Lebih takut buaya ya? Apa katamu tadi? Teman? Aku hidup tidak memliki teman, apalagi tega menjebak rekan kerjanya.” Aksa memijat pelipis, sembari tangannya memerintah kepada anak buah, melepaskan ular-ular besar itu tepat di kaki Rudi.


“Hey, jangan. Tidak … aku. Beri kesempatan Aksa jangan seperti ini, aku lebih baik dipenjara.” Celana Rudi sudah basah, dia juga mulai menangis ketakutan. Apalagi melihat Phyton Albino mulai merayap naik pada pahanya, menjulurkan lidah seolah siap menelan Rudi.


“Apa katanya tadi? Penjara? Enak sekali.” Balas Aksa tertawa kejam, lalu kembali mendekati Rudi.


“A-ampun Aksa, aku bersedia melakukan apapun asalkan kamu bebaskan, j-jangan jadi santapan ular.” Tubuh rudi gemetaran. Dia pun pingsan saat kepala ular tepat di depan dadanya.


TBC


***


ditunggu jempolannya kakak 🙏