I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 65 Menyesal



Selesai merawat diri, merapikan penampilan. Ajeng setia menunggu suaminya bangun. Penasaran kondisi Danang, merasa bersalah karena keluarganya selalu menjadi beban. Garis-garis wajah lelah tampak sekali, Aksa kekurangan waktu tidur.


Pagi sampai siang, bekerja diselingi menjenguk mertua di rumah sakit hingga sore. Malamnya menemani Ajeng begadang, Bryatta bangun tengah malam, kembali tidur pukul empat atau lima pagi.


Aksa melenguh sedikit meregangkan otot kaku badannya. “Selesai mandinya sayang? Anak kita masih tidur, baiknya kamu juga istirahat.” Aksa membimbing Ajeng naik ke atas ranjang.


Memeluk dari belakang, dengan kepala tepat berada di pundak terbuka istrinya, menggigit kecil bagian itu. Sengaja membuang napas, membuat darah Ajeng berdesir. “Belum bisa ya sayang?” bisik Aksa, mengingat berapa lama menahan g@1r4h.


“Baru juga satu minggu, masih ada 33 hari lagi sayang, sabar ya. Aksa aku mau tanya, gemana kabar Bapak? Jangan bohong ya, apapun kondisinya kamu tetap harus kasih tahu.” Ajeng mencubit kecil punggung tangan suaminya.


“Tapi kamu janji jangan sedih berlebihan, ada Bryatta juga yang membutuhkan perhatian kamu.” Aksa menarik napas, melepas pelukannya. Berbaring menghadap langit-langit kamar.


“Iya aku janji. Boleh aku lihat rekam medis Bapak?” tembak Ajeng, yakin kalau suaminya menyembunyikan sesuatu. Tapi Aksa tidak mungkin bisa merekayasa hasil pemeriksaan dokter, iya kan?


“Rekam medis? Di rumah sakit sayang. Bapak komplikasi, dokter bilang kemampuan memompa darahnya jauh dari batas normal, satu-satunya cara transplantasi jantung. Dua ginjalnya juga rusak sayang, dan harus cuci darah, kamu pasti mengerti. Lambung dan bagian usus sulit menyerap nutrisi.” Aksa menjelaskan sebisanya dengan bahasa yang dipahami.


Dia yakin istrinya jauh lebih pintar, karena bagaimana pun rumah sakit tempat Ajeng mencari sumber penghidupan.


“Bapak?” lirih Ajeng, menangis dalam diam. Kenapa disaat Danang sudah berubah harus menderita penyakit yang obatnya sangat susah. “Transplantasi jantung? Cari di mana Aksa, mana ada orang hidup bersedia mendonorkan jantungnya?” menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.


“Aku juga baru tahu sayang, kasihan Bapak. Kemungkinan dilakukannya transplantasi jantung 50%, anak buahku mencari pendonornya, untuk ginjal juga masih ada harapan tapi lambung dan usus, dokter angkat tangan.” Bukan menakuti, tapi Ajeng harus tahu titik terendah kondisi Danang saat ini.


Setelah mendengar penuturan suaminya, siang dan malam tak henti melambungkan doa untuk Danang. Ajeng semakin pasrah, berserah diri ketika menjenguk Ayahnya tepat di hari ke 14. Dia tidak pura-pura atau berharap semu, karena memang tidak ada lagi harapan untuk Danang.


Istri dari Aksara ini semakin kesal, lantaran Maya dan Rayana sama sekali tidak menjenguk Danang. Kakak dan Ibunya sibuk promosi toko baju mereka, sampai mengajukan kerja sama dengan agensi model kecil di Ibu Kota. Rayana beruntung Manajernya bersedia, tetapi tidak bisa membayar mahal.


Rayana gencar pasang iklan di sosial media, demi menggaet lebih banyak pelanggan. Dana yang dikeluarkan terlalu berlebihan tanpa diskusi lebih dulu dengan Aksa.


Ajeng berulang kali menghubungi kakaknya tetapi kesulitan, sebab Rayana dan Maya kini tinggal di rumah lama mereka. Ya Aksa memberi tempat tinggal gratis dengan catatan tidak mengganti, merusak atau membuat kerusuhan di rumah.


“Kamu kenapa lagi sayang?” tanya Aksa, melihat istrinya mondar mandir dalam rumah.


“Kak Rayana dan Ibu, teleponnya tidak tersambung. Aku bosan menghubungi mereka. Siang tadi aku datang ke rumah sakit, keadaan Bapak semakin menurun Aksa. Tahu sendiri kan, aku masih punya anak kecil yang harus di susui, tidak sebebas kakak dan ibu.” Ajeng mengomel, sambil bertolak pinggang.


“Kamu mau menemani Bapak? Boleh. Tapi jangan lepas tanggung jawab, Bryatta tetap memerlukan nutrisinya.” Aksa mengizinkan Ajeng dengan catatan meninggalkan ASI di rumah.


Secepat kilat Ajeng menyambar mesin pompa, membutuhkan waktu lebih dari 45 menit untuk bersiap. Ibu muda ini benar-benar beruntung bisa memiliki seorang suami yang mengerti dan baik hati seperti Aksara Kaisar Caldwell.


Ajeng berjanji mengabdikan diri menjadi istri dan ibu yang baik. Terlampau banyak kemurahan hati suami yang dirasakannya.


**


Tidak tahu kenapa tubuh Ajeng berkeringat, dadanya berdebar tidak terkondisi. Pikirannya tertuju hanya kepada Danang.


Wanita ini juga tidak membalas salam yang diberikan oleh rekan sesama perawat, bukan sombong tapi panik. Tangannya saja banjir keringat entah kenapa ruang perawatan terasa jauh.


Namun Ajeng sedikit bernapas lega karena Danang masih melengkungkan senyum, tangannya berusaha menggapai Ajeng.


“Ajeng sini nak.” Panggil Danang lirih, sangat lemah. “Bapak minta maaf ya Ajeng, mohon maaf sebesar-besarnya. Harapan Bapak, kamu, Aksa dan Juna bisa hidup bahagia jauh dari gangguan apapun.” Imbuh Danang menahan sakit di dada.


“Iya, Bapak istirahat sekarang ya, jangan banyak pikiran lain.” Ajeng memijat tangan kanan Danang, lalu mencium punggung tangannya.


Menemani pria sepuh ini, walaupun Danang hanya terlelap tidur.


Tiba-tiba tengah malam, Ajeng merasa ada sesuatu yang ganjil. Detak jantung Ayahnya lenyap, bahkan tidak bernapas sama sekali.


Rahajeng Prameswari menjerit, pukul 00.15 waktu setempat. Danang dinyatakan meninggal dunia.


Anak buah yang bertugas menjaga di rumah sakit melapor kepada Aksara. Keadaan istrinya cukup memprihatinkan, tatap kosong dan hampir pingsan. Tapi Ajeng cukup tegar, dia mengikuti perawat membawa Ayahnya ke ruang jenazah, sedangkan satu pengawal menyelesaikan administrasi.


**


Iring-iringan mobil pengantar jenazah tiba pukul satu dini hari. Maya dan Rayana terkejut, karena rumahnya mendadak ramai. Beberapa pelayat mulai memenuhi halaman.


“Ajeng ada apa ini? Siapa yang meninggal?” Maya mengucek mata, nyawanya belum terkumpul. Air liurnya begitu kelat, ketika membuka penutup.


“BAPAK? YA AMPUN PAK, kenapa Bapak?” Maya tidak dapat menguasai diri, tubuhnya lemah dan terbanting ke lantai.


“Ajeng ini bohong kan? Mimpi kan? Kamu bercanda, jangan mempermainkan kakak ya!” Rayana tidak menerima kenyataan begitu saja. Dua minggu tidak menjenguk dan mendengar suara Danang. Semua dia limpahkan kepada adik iparnya.


“Untuk apa aku bohong? Kakak pernah menjadi dokter kan? Seharusnya lebih paham.” Ajeng dikuasai amarah, tidak habis pikir Rayana dan Maya mengabaikan Danang.


.


.


Hingga pagi menyapa, pusara Danang penuh taburan bunga. Maya masih tidak sadarkan diri, tekanan darahnya rendah, kehilangan belahan jiwa yang menemaninya selama ini sangat berat.


Menyesal, sekarang hanya menyalahkan diri sendiri dan waktu yang terlalu cepat berjalan tanpa mau menunda.


Sama halnya dengan Rayana, tergugu memandangi tanah basah pemakaman. “Pak, maaf Pak. Rayana salah. Maaf Pak.” Beribu kali kalimat itu terlontar dari bibir tipisnya, tetap saja tidak mengubah apapun.


Rayana semakin sesak napas saat satu panggilan telepon memberinya kabar buruk. Ya akibat terlalu memercayai orang baru, toko bajunya ditipu. Menderita kerugian lebih dari 300 juta. Bahkan Rayana terlanjur membayar biaya endorse ke sejumlah selebgram demi meramaikan toko.  


Sekarang tidak ada lagi tumpuan hidup yang bisa dijadikan sandaran. Rayana dan Maya, hanya bisa berlindung di bawah naungan Aksara.


Setelah satu bulan lebih kepergian Danang, ibu mertua itu datang menghampiri menantunya yang sedang memangku Arjuna Caldwell.


“Maafkan Ibu ya nak Aksa. Banyak merepotkan. Ibu salah, maaf juga atas nama Bapak, semoga Nak Aksa tidak membenci Bapak.” Maya memohon, mengemis kasih sayang menantunya.


“Ibu berjanji tidak akan mengusik rumah tangga kamu dan Ajeng. Maaf Ibu memanfaatkan Ajeng untuk minta uang. Maaf juga atas semua perlakuan Ibu dan Rayana. Ibu mohon jangan putus hubungan dengan Ibu dan Kakak Ipar kamu. Makasih atas kebaikan kamu Aksa. Tolong jaga Ajeng dan cucu ibu ya.” Maya benar-benar membuktikan janjinya, dulu dia berkata akan bersujud di kaki Presiden Direktur Cwell Group.


Tapi Aksa tidak setega itu, dia bukan Tuhan yang harus di sembah. “Berdiri Bu, jangan seperti itu. Saya akan menjaga Ajeng dan Arjuna. Ibu juga Rayana harus janji hidup sehat, saling menyayangi, menjaga satu sama lain, anggap itu sebagai bayaran atas semua kesalahan Ibu.” Tukas Aksa memberi sedikit senyum.


Maya memeluk menantunya untuk pertama kali, dia tak kuasa harus hidup berjauhan dengan anak, menantu dan cucunya. Ya Aksa membawa Ajeng dan Arjuna pulang ke mansion utama di Swiss, ke tempat seharusnya mereka tinggal dan menjalani hidup.


“Kamu siap sayang?” tanya Aksa begitu erat memegang tangan Ajeng. “Aku janji di sana kamu selalu tersenyum. Terima kasih bersedia ikut aku pulang.” Tukas Aksa.


_Tamat_


***


Terima kasih kaka semua atas dukungannya


Maaf apabila alur/penokohan/setiap chapter tidak memuaskan🙏


seperti janjiku 5 orang teraktif dipilih ya