I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 22 - Salah Satu Prediksi



“Aksa ini benar kamu. Ah aku merindukan kamu Aksa. Kemana saja? Media bilang kamu menghilang tapi aku tidak percaya.” Merdunya suara khas wanita. Tiba-tiba dia duduk di samping Aksa, tidak memperhatikan wajah dua pria yang bengong satu sama lain.


“Aksa, kenapa kamu diam saja? Dan aku senang bisa bertemu kamu di sini. Maaf Elang aku ingin bicara empat mata dengan bosmu, boleh?” lirikan tajam wanita bernama Catlin ini pada Elang.


Ehem


Aksa membenarkan posisi duduknya, sebab saat ini terlalu santai tidak seperti Presiden Direktur Cwell Group. Ya hanya di hadapan Elang dia bisa menjadi dirinya sendiri.


“Elang asistenku, jadi dia tidak boleh pergi kemanapun.” Dinginnya setiap untaian kata yang keluar dari bibir Aksa, membekukan Catlin di tempat.


“Terima kasih Aksa, kau memang sahabat dan bos terbaik.” Batin Elang bersorak bahagia, bahkan melompat-lompat.


“Oh baiklah.” Wajah Catlin berubah ketus, semula ingin melepas rindu, bertukar cerita selama enam tahun ini tapi pupus sudah harapannya karena diawasi oleh Elang. “Aksa minta nomor ponsel, kamu itu terlalu menutup diri, kita masih berteman kan?” Catlin tampak percaya diri, mendekati pria yang pernah menyukainya di masa sekolah dulu.


“Elang, berikan nomor teleponmu. Jika ada hal penting bisa kabari aku, Catlin silahkan menikmati waktumu di sini, aku permisi.” Aksa bangkit, meninggalkan wanita cantik berambut pirang, tanpa ada pembahasan hangat diantara mereka.


Setelah memberikan kartu nama, Elang segera mengekor Tuannya keluar membawa iPad dan map tebal. Dalam hati dia senang dengan kehadiran Catlin tapi sayang waktunya tidak tepat.


Dalam mobil Aksa memeriksa laporan beberapa pabrik, keningnya mengkerut mengamati satu per satu. Dua orang itu sibuk dengan kegiatan masing-masing, Elang memeriksa dan mengatur jadwal Aksa.


“Tuan, lihat ini! Aku mendapat laporan dari orang kepercayaan kita. Bagaimana?” tanya Elang, benar-benar gemas akan tujuan Aksa yang perlahan mulai terlaksana sesuai prediksinya.


Pria dengan five o’clok shadow beard ini menyeringai puas melihat layar datar yang ditunjukan Elang. Dia memang tidak salah menilai orang, dan penyelidikan enam bulan lalu sangat berguna.


“Malam ini juga kita ke Indonesia, siapkan semuanya Elang. Termasuk uang tunai, aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan dengan semua uangnya.” Aksa menyandarkan kepala seraya berpikir rencana ke depannya seperti apa. Tidak apalah sedikit tega, mereka juga memperlakukan hidupnya tidak seperti manusia.


Lalu bagaimana dengan Ajeng, apa Aksa masih memiliki perasaan terhadap istrinya itu? Tentu saja, hidup selama dua tahun lebih bersama Ajeng tidak bisa dilupakan apalagi selama satu tahun awal pernikahan begitu manis dirasakan, tapi hasutan jahat mulai datang, merusak segalanya. Aksa pastikan mereka semua tidak akan tenang.


**


Di sisi lain Danang dibantu Rayana memasang iklan pada sejumlah aplikasi. Apa yang pria itu lakukan? Danang membutuhkan uang segar untuk membiayai coffee shop-nya. Tidak tanggung-tanggung perkiraan kasar saja mencapai lebih dari 500 juta, seandainya Ajeng menikah dengan Aji pasti hidupnya tidak akan sulit, pikir Danang.


“Untuk apa Bapak renovasi? Tempatnya masih bagus dan layak, bukankah belum ada satu tahun. Belum juga balik modal Pak.” Kata Rayana meletakkan ponsel mahal seharga belasan juta di atas meja.


“Kamu tahu Rayana? Ada pesaing baru di seberang Coffee Shop Bapak. Ya bapak akui tempatnya bagus mengundang orang datang. Tapi Bapak tidak terima, semua pelanggan pindah tempat, pegawai juga. Ya Bapak harus gerak cepat, seenaknya saja orang kota itu, dia harus tahu berhadapan dengan siapa.” Danang menepuk dada dengan sombong dan tertawa sebab dia yakin menang, dan coffee shop baru akan tutup sesegera mungkin.


“Wah Bapak hebat, jangan lupa ya Pak, janji Bapak. Aku tidak tahan mau sekolah lagi.” Ketus Rayana, ia mencoba sabar menunggu tapi adiknya tidak mau bercerai dari suami tak jelasnya itu.


“Rayana. Setelah Bapak pikir, daripada lama menunggu adikmu. Lebih baik kamu yang menikah dengan Aji, dia tidak kalah tampan dari mantan pacarmu itu. Uangnya lebih banyak, jangan sia-siakan kesempatan emas Rayana, setelah kamu lulus baru pisah dengan Aji, setuju?”


“Bapak kan punya banyak kenalan, apa tidak ada CEO perusahaan besar Pak? Aku tidak mau menikah dengan Aji, harus tinggal satu rumah apalagi satu kamar, menjijikan.” Rayana yang marah meraih ponselnya dan menendang kursi, lalu naik ke lantai dua, meluapkan emosi.


“Apa-apaan Bapak itu, lebih baik hidup sendiri sampai tua.” Ucapnya tanpa berpikir lebih dulu, bagaimana jika semua itu benar? Apa sanggup dia bertahan melewati hari tua seorang diri?


Sementara Danang, di lantai satu masih setia memandangi ponsel menanti pemberitahuan dari pembeli. Tidak ada jalan lain, tabungannya menipis, kalau menjual mobil harganya saja hanya 100 juta, tidak cukup untuk biaya renovasi dan modal usaha.


Terpaksa Danang menjual tanah warisannya dengan harga miring, sebab membutuhkan dana cepat. Kalau bisa, minggu ini dia sudah mengantongi seluruh uangnya, biarlah tak perlu sepengetahuan Maya. Semua itu tanah miliknya, bukan di beli bersama Maya, jadi istri tidak perlu tahu apa yang dilakukan suami, pikir Danang.


Ting


Satu pesan masuk, nomor tidak dikenal.


“Semoga bukan pihak Bank.” Gumam Danang dalam hati, ia ketakutan rumahnya di sita. Hanya tanah dan bangunan ini tempatnya bernaung dari deras hujan serta panas terik matahari.


Danang terpaksa menggadaikan sertifikat rumah demi modal usaha dan biaya kuliah Rayana, ambisinya untuk memiliki Coffee Shop sangat besar ditambah putri sulung ingin meraih gelar dokter. Sampai Danang lupa memiliki satu putri lagi, Ajeng harus membiayai pendidikan sebagai perawat dari hasil kerja sambilan di toko-toko kecil.


“Wah, ternyata bukan Bank. Syukurlah, pembeli baru, iklan di internet memang tiada duanya. Belum satu jam sudah ada pembeli yang berminat.” Danang sangat senang, apalagi orang itu langsung mengajaknya bertemu esok hari di Coffee Shop.


Di waktu bersamaan Maya masuk rumah, wajah cantiknya mulai dihiasi keriput, wanita itu merajuk.


“Kenapa Bu? Kusut banget mukanya.” Tukas Danang menahan tawa, biasanya setelah pulang arisan pasti berbagi cerita, kali ini hanya da tatapan suram dari dua bola mata Maya.


“Itu Pak, ibu lupa belum bayar uang kas untuk kelompok. Mana Ibu tidak bawa uang, Ibu malu Pak. Semua ini salah Bapak, uang bulanan kosong jadi masalah.” Ketus Maya menangis, mendapat gunjingan dari rekan ibu-ibu arisan.


“Uang toko baju kemana? Pakai saja itu Bu, uang tabunganmu kan banyak.” Danang kesal pada istrinya yang hanya bisa menjadikan suami sebagai sapi perah.


TBC


***


ditunggu dukungannya kakak semua, like, komen


Gift dan vote bisa menambah suplemen author 😁😁😁🙏