
Ajeng hanya mengandalkan Google mencari tahu siapa pemilik Cwell Group, seharian ini di kamar kos menghabiskan waktu libur. Setiap situs yang memuat berita Cwell Group pasti dilihat, dibaca dengan seksama. Tapi hingga setengah hari mencari tahu hanya ada satu nama yaitu Henry Caldwell sang pemilik yang diketahui sudah meninggal dunia.
“Kalau dilihat dari usia, memang beliau tidak akan mungkin memimpin perusahannya, wafat pada usia 90 tahun. Lalu di sini tidak disebutkan siapa anaknya, ya benar pasti Tua Muda Caldwell yang menjalankan usaha ayahnya.” Gumam Ajeng berasumsi sendiri. Mencatat semua informasi pada buku kecil, semakin banyak situs dilihatnya, maka semua membuat Ajeng pusing, tidak memiliki keterikatan satu sama lain.
Untuk membayar seorang detektif swasta tidak memiliki biaya, Ajeng ragu menggunakan uang di akun lainnya. Takut ketika dia pakai, tiba-tiba seseorang datang dan menuduhnya mencuri. Namun karena rasa penasaran dan keras kepala, dia nekat menjual kalung yang melingkar di leher. Lebih tepat menggadaikan kalung itu dengan tenor enam bulan dilunasi.
Akhirnya ditambah sisa uang dalam tabungan dan hasil menjual perhiasan, Ajeng pergi ke ibu kota menggunakan bus, mencari kantor detektif. Merasa perlu melakukan ini, khawatir keluarga dicelakai oleh seseorang.
Tapi mencari detektif yang bersedia dibayar murah tidak mudah, sampai malam hari dirinya baru mendapat detektif swasta yang bersedia membantu, namun hanya sebatas sampai siapa pemilik Cwell Group dan ahli warisnya.
Ajeng pun kembali ke kosan tepat pukul satu dini hari, lagi-lagi tidak bisa tidur nyenyak, mendapat telepon dari Rayana.
“Kenapa kak?” jawab Ajeng ketus, malas berurusan dengan Rayana. Teringat akan niatnya yang berusaha mencuri buku nikah Ajeng.
“Apa? Terus?” Ajeng Syok mendengar kabar bahwa sore tadi pihak bank memasang segel pada rumah kedua orangtuanya.
Esok hari Danang, Maya dan Rayana memutuskan keluar dari rumah, karena tidak sanggup membayar tunggakan yang besar. Danang pun pasrah, lagipula dirinya telah mempersiapkan tempat tinggal di sekitar Coffee Shop.
**
Ajeng turut membantu kedua orangtuanya, walaupun Maya masih menyindir dan menyalahkan Ajeng. “Semua ini salahmu Jeng, harusnya kamu cepat nikah dengan Aji. Bukan Rayana.” Isak tangis Maya meratapi nasib yang harus tinggal di rumah kecil.
“Sudahlah Bu jangan salahkan Ajeng, rumah yang Bapak sewa juga bagus, ada halaman dan kolam ikan. Layak huni Bu. Nanti setelah hutang arisan dan hutang lamaran lunas, Bapak kumpulkan lagi uang untuk menebus rumah kita.” Tutur Danang sangat meyakinkan. Apalagi dengan keadaan coffee shop sekarang, dia jamin walaupun lambat pasti hutang banknya bisa lunas suatu saat nanti.
Danang tidak ingin mencari musuh lagi karena uang lamaran Rayana, keluarga Aji memberi ancaman serius dan tidak main-main. Apalagi pernikahan digelar dua bulan lagi, maka uang harus terkumpul sesegera mungkin.
Walaupun Danang masih diizinkan tinggal di rumahnya, namun beban mental dari warga sekitar tidak kuat ditanggung oleh Maya dan Rayana, dua wanita itu kerap menangis mendapat sindiran menyayat hati.
“Ajeng? Kamu tidak kerja? Tumben kamu libur hari minggu?” tanya Danang sembari memasukan tas satu persatu ke rumah sewa.
“I- iya Pak, Ajeng kurang sehat.” Jawab istri dari Aksara Kaisar, karena kurangnya tidur dan pola makan yang tidak teratur membuat Ajeng belakangan mengeluh sakit lambung.
“Jaga kesehatan kamu ya nak.” Lembutnya suara Danang yang sangat Ajeng rindukan sejak masa sekolah dulu, lama sekali dia tidak mendapat perhatian seorang Ayah.
“Iya Pak pasti.” Ajeng ingin sekali memeluk Danang tapi urung sebab rasa sungkan menghalangi begitu besar.
Ajeng yang kelelahan duduk di teras rumah, meluruskan kakinya dan membuka email beberapa kali belum ada hasil penyelidikan detektif.
Tak berselang lama satu email masuk disertai dua lampiran, satu berkas mengenai pewaris dan silsilah keluarga Caldwell, satu lagi berisi daftar lokasi perusahaan induk dan anak di mancanegara.
Sembari menyandarkan kepala pada dinding, Ajeng membaca satu per satu lembaran yang dipenuhi kata-kata. Nama 'Aksara' yang tertera sejenak menggetarkan hati, Ajeng tetap berpegang teguh bahwa terdapat banyak Aksara di dunia ini bukan hanya satu.
Ketika sampai pada dua halaman terakhir, dua bola mata Ajeng terbelalak melihat wajah suaminya terpampang nyata. Iya tidak salah lagi Aksa muda sangat mirip dengan Aksara, suami dari Rahajeng. Tangannya gemetar melihat banyak gambar suami dengan sosok Henry Caldwell yang Ajeng lihat di Google.
Susah payah Ajeng menelan saliva, membaca beberapa paragraf terakhir, bahwa Tuan Muda Caldwell telah kembali sejak menghilang beberapa tahun lalu.
Deg
Debar jantung Ajeng tidak menentu, wanita ini meminta Danang menunjukan semua berkas-berkas, pembelian tanah hingga perjanjian kerja sama.
“Pak boleh Ajeng lihat tanda bukti pelepasan tanah waris Bapak, juga surat dari investor?” tanya Ajeng sangat gugup.
“Boleh, ada di koper hitam nak, awas hilang ya.” tunjuk Danang pada tas diujung sudut ruangan.
Secepat kilat Ajeng membuka satu persatu, tercetak jelas nama ‘Aksara Kaisar Caldwell’ sebagai pemilik tanah. Wanita ini pun berlari menghampiri ayahnya, menunjukkan gambar orang-orang di dalam silsilah. Semua tidak Danang kenali kecuali satu orang yaitu Elang.
Ajeng yakin suaminya terlibat dengan hancurnya usaha kedua orangtua, pasti Aksa memerintahkan orang kepercayaan untuk bertemu Ayahnya.
Sakit hati Ajeng mengetahui kebenaran yang bahkan harus ia selidiki sendiri. Semua karena balas dendam Aksa pada mertuanya. Tapi kenapa diakhir harus membantu, dan ini yang Ajeng tidak mengerti.
“Kamu ingin Bapak dan Ibu ketergantungan pada gaji dari kamu Aksa?” lirih Ajeng dalam hati. Tapi dia juga menampik semua salah Aksa, jelas saja suaminya itu sakit hati mendapat perlakuan buruk selama dua tahun. Sekarang Aksara bukanlah pria sembarangan, dengan mudah menjatuhkan lawan.
Danang dan Maya masih bisa bernapas pun sebuah anugerah. “Kamu masih memiliki hati nurani Aksa, tidak menjadikan Bapak dan Ibuku gembel jalanan. Terima kasih atas bantuannya.” Lirih Ajeng menitikkan air mata yang tak bisa terbendung.
Kepalanya berpikir keras pada semua kejadian, dari mulai kiriman uang dalam jumlah besar ke rekeningnya, tiba-tiba rekan kerja yang menghina menghilang begitu saja, sampai pada pengendara motor Ducati Desmosedici.
“Aksa apa itu kamu?” Ajeng semakin menangis, Aksa benar-benar meninggalkannya dan kembali pada keluarganya di Eropa. Tapi Ajeng tidak mengerti kenapa Aksa melakukan hal baik untuknya?
Setelah membantu Danang dan Maya, Rahajeng kembali ke kosan meratapi semua kenyataan yang membingungkan.
Dia kembali bekerja di rumah sakit, melewati hari demi hari, pura-pura tidak mengetahui apapun. Ya sekarang Ajeng tahu Direktur Rumah Sakit memberi perlindungan padanya, mungkinkah karena Aksa?
Satu minggu dilalui penuh senyum palsu dari Ajeng untuk menghadapi keadaan, sesungguhnya ingin menemui Aksa tapi kemana? Swiss? Ajeng tidak punya uang untuk membeli tiket pesawat yang harganya mahal.
Dia yang sedang istirahat di kantin, tiba-tiba mendengar rekan-rekannya bicara mengenai pengumuman resmi Presiden Direktur Cwell Group. Seketika acara siaran langsung pada televisi mengundang perhatian banyak orang.
Detak jantung Rahajeng pun di atas normal, apalagi sosok pria tampan mulai berjalan mendekati wartawan.
TBC
***
2 atau 3? 2 aja ya..
terima kasih atas dukungannya kakak kakak 🙏😁