I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
Ekstra Part 10



Kesal menjadi bahan olok-olok Catlin, Elang mengikuti temannya itu sampai ke kamar. Membawa semua koper Catlin.


Sorot mata Elang sangat tidak bersahabat terhadap Catlin, kali ini mulutnya sangat keterlaluan. Dia masih normal, wajar kan belum menemukan seseorang yang cocok? Daripada salah memilih pasangan lebih baik menunda pernikahan.


Lagipula banyak wanita mengantre di luar sana, mulai dari gadis, janda muda bahkan tante-tante. Kalau mau, Elang bebas tinggal menunjuk salah satu atau mungkin dua diantara mereka.


“Matamu itu kenapa? Sakit ya? jangan lihat aku terus nanti kamu jatuh cinta bisa repot.” Seloroh Catlin, sibuk memeriksa notifikasi ponsel yang terus berisik mengganggu ketentraman jiwa.


“Ck, jatuh cinta apanya? Maaf Nona, aku itu masih sangat normal, mataku sangat baik tidak mungkin memilih perempuan seperti Anda.” Sengit Elang, langsung menimbulkan aura permusuhan diantara mereka.


“Apa kamu bilang? Memang aku kenapa? Asal kamu tahu ya Elang, pengusaha muda di negeri ini mengantre mengejar cintaku, tidak hanya pengusaha tapi petinggi pemerintahan juga. Ck, manusia kutub utara sepertimu pantasnya bersama ibu beruang di dataran es, tahu?” Catlin mendekat bahkan mendongak, menatap jengah kepada Elang. Bertolak pinggang, menunjukkan bahwa dia bukanlah wanita sembarangan.


Posisi keduanya sangat dekat berjarak kurang dari 30 cm. Harum aroma parfum masing-masing dapat terhirup dengan mudah.


“Wanita seperti Anda layak mendapat hukuman, jangan sembarang menghina orang lain. Anda tidak tahu apa-apa mengenai seorang pria, sebaiknya jaga mulut Anda.” Tukas Elang, mengeratkan gigi, rahang tegasnya berkedut pelan, menelan kelatnya saliva.


Catlin memutar bola mata, pria seperti Elang mengatakan bahwa dirinya layak menerima hukuman. “Asisten gila. Kenapa aku bisa memiliki teman seperti ini?” keluh Catlin dalam hati.


“Hukuman? Hukuman ap …. hmmmph.” Mulut rewel dan bawel itu seketika tidak bersuara. Elang membungkam bibir Catlin dengan ciumannya. Bukan menempel. Terkesan liar, sentuhan l1d-@h Elang mampu memberi sengatan listrik kepada Catlin.


Mereka dua orang dewasa yang tidak polos lagi. Dalam keadaan pintu terbuka, Catlin membalas semua sentuhan, wanita ini juga refleks mengalungkan satu tangan di leher temannya.


Keduanya bergerak hingga membentur ranjang di tengah ruangan.


BRUK


Tubuh Catlin jatuh begitu saja di atas kasur, Elang masih tetap menutup mulut Catlin dengan bibirnya, saling bertukar saliva. Bahkan kancing kemeja Elang sudah terbuka.


“CATLIN LUCERO?” teriak pria paruh baya dari ambang pintu. Tuan Besar Lucero menyaksikan tingkah agresif putrinya. Dia menggeleng kepala, karena kelakuan Catlin.


Kemudian mata tajam Tuan Lucero beralih kepada Elang yang sibuk mengancingkan kemeja.


“Ck anak muda, kalian itu sudah dewasa. Aku tidak mau cucuku lahir di luar pernikahan. Aku tidak menyangka kalian memiliki hubungan spesial. Sekarang juga ikut aku ke badan kependudukan, kalian menikahlah dulu, setelah itu baru memikirkan pesta.” Tuan Lucero menarik tangan Elang.


Sementara Catlin menganga mendengar semua ucapan Ayahnya. “Daddy salah. Tidak … tidak, mana mungkin aku menikahi Elang. Bahkan dia saja tidak menyukai wanita.” Gerutu Catlin, mengacak rambutnya sendiri.


Di sisi lain


Elang duduk dalam mobil berhadapan dengan Tuan Lucero, “Jadi kalian sudah berapa kali melakukannya? Jangan-jangan cucuku sudah tumbuh dan berkembang. Keterlaluan kalian berdua. Kau harus bertanggung jawab.” Tegas Tuan Lucero, segera menghubungi keluarga Elang di Swiss.


“Kami hanya teman Tuan, tidak lebih.” Elang membantah memiliki hubungan khusus dengan Catlin Lucero. Tapi bukti sangat jelas, keduanya tertangkap basah di dalam satu kamar yang sama.


“Teman? Teman ranjang maksudmu? Kalian sudah dewasa, mapan untuk berumah tangga. Jangan lari dari tanggung jawab, ku lempar kau ke laut, biar merasakan seberapa tajam gigi ikan hiu. Tidak ada penolakan, alasan apapun tidak ku terima. Nikahi Catlin hari ini juga. Mana kartu identitasmu?” pinta Tuan Lucero.


Elang terpaksa menyerahkan dompet berisi kartu identitasnya kepada pria sepuh yang memiliki kekuasaan di pemerintahan ini.


"Benarkan nasibku sial kalau bersama Nona Catlin." Elang membatin.


****


jempolnya untuk Elang 🙏


gift dan vote juga komentar boleh 😉🙏