
“Kamu kenapa Ajeng?” tanya Rayana peka akan keadaan, ibu hamil itu juga terlihat menahan nyeri dan menyentuh perut buncitnya.
“Sakit kak, mungkin tanda mau melahirkan. Tapi ini masih bisa aku tahan.” Ajeng menyunggingkan senyum agar suaminya tidak khawatir. Ya Aksara membulatkan kedua mata mendengar kata ‘mau melahirkan’.
“Kamu yakin masih kuat? Kita bisa ke rumah sakit sekarang juga. Aku gendong ok?” paksa Aksa sudah siap, dia tidak ingin istri dan buah hatinya terlambat mendapat penanganan.
“Aksa percaya sama aku ya, ini masih awal banget ke rumah sakit. Perlu waktu beberapa jam lagi sampai pembukaan lengkap, pasti aku bilang. Maaf ya.” Ajeng membuktikan perkataannya, dia berdiri. Menopang pada meja makan, mengulurkan tangan ke depan suaminya.
Berjalan menjauh dari ruang makan.
“Untuk apa minta maaf? Itu normal sayang, wajar juga kalau aku cemas.” Tukas Aksara mencium kening istrinya, berusaha menenangkan diri walaupun debaran jantung luar biasa hebat.
Di meja makan, Maya tersenyum bahagia, sebentar lagi dirinya akan menyandang gelar nenek dari bayi milyarder. Bisa dibayangkan betapa bangganya Maya, disanjung dan tersohor karena cucunya.
“Bu kenapa senyum-senyum? Aneh tahu.” Rayana memicingkan mata, menelaah Maya. Jangan sampai Ibunya ini terserang gangguan kejiwaan.
“Bukan masalah kamu. Ibu mau ke kamar dulu, kasihan Bapak sendirian.” Rayana hanya menganga melihat tingkah Ibu kandungnya.
.
.
Pagi ini Aksara sengaja memilih libur kerja dan menemani Ajeng di rumah, menjadi suami siaga lebih tepatnya. Sebab dua jam yang lalu Ajeng gelisah, meringis kesakitan, lalu memilih jalan-jalan mengelilingi kamar.
“Yakin sayang masih sanggup? Jangan ditahan ya.” Aksa selalu menjaga istrinya, berdiri di dekat Ajeng, tidak bergerak menjauh walau hanya satu langkah.
“Iya Aksa, ini memang pengalaman pertama tapi aku sering membantu dokter obgyn di ruang bersalin. Makasih ya perhatiannya.” Sempat-sempatnya di saat mulas, Ajeng menggoda suami. Mencium bibir Aksara.
Bukan menolak tapi lebih tahu kondisi, Aksa melepas pagutan bibir. Rasanya tidak etis mengambil kesempatan ditengah kontraksi.
“Sayang, nanti bisa kita lanjut. Sekarang ke rumah sakit ya, aku takut.” Aksa memandangi perut buncit yang bergerak-gerak.
“Tapi Aksa belum wak … ah sakit.” Sekarang Ajeng benar-benar tidak mampu menopang beban tubuhnya sendiri, dia bahkan mencengkeram kedua bahu Aksa sangat kuat. “Iya Aksa sekarang. Huh huh huh.” Ajeng yang keras kepala pun luluh, dia tidak mau mengorbankan keselamatan diri serta janinnya.
Sopir pun siap mengantar Tuan dan Nyonya, rumah megah ini sudah menanti tangisan seorang bayi, penerus keluarga Caldwell.
“Aksa Ikut ya. Ibu mau menemani Ajeng. Kamu jangan egois.” Pinta Maya, sebelum diizinkan atau ditolak, tubuhnya masuk ke dalam mobil, duduk anggun di sisi pengendara.
Presiden Direktur Cwell Group sendiri tidak mempermasalahkan. Apa gunanya berdebat di waktu yang salah, benar kan? Lebih baik segera membawa Ajeng ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Ajeng tak henti meringis sembari meremas tangan suaminya. Peluh sudah membanjiri tubuh, berulang kali Ajeng mengatur napas demi meredakan sakitnya kontraksi.
Akhirnya usai menempuh waktu lima belas menit, mobil yang ditumpangi tiba di rumah sakit. Dibantu perawat, Ajeng terbaring di atas brankar memasuki ruang bersalin.
Sementara Maya panik, hatinya tidak tenang. Untuk pertama kali ibu dua anak itu merasa iba dan memanjatkan doa demi keselamatan putri serta cucunya.
Dalam hati, Maya begitu berharap bisa menemani Ajeng melahirkan, tapi bibirnya terkunci rapat. Menatap Ajeng yang mengadu kesakitan dari ambang pintu.
‘Permisi Bu, pintunya kita tutup. Maaf.’
“Oh iya, tolong bantu anak saya suster.” Maya menyatukan kedua telapak tangan, tidak lagi bisa berpikir jernih, semua fokusnya tertuju kepada Ajeng.
Berselang 30 menit, tangis bayi membahana, keras dan tegas. Maya yakin cucu pertamanya laki-laki.
Pintu utama terbuka, Aksa keluar mengikuti perawat, salah satu mantan rekan kerja Ajeng yang selalu menghasut.
Sebagai seorang Ayah baru, memasang badan bagi istri dan anak. Khawatir tangan tak bertanggung jawab melukai putranya.
Ya bayi yang dilahirkan Rahajeng berjenis kelamin laki-laki, sangat mirip dengan Aksara termasuk warna bola mata; abu-abu.
“Aksa? Itu cucu Ibu? Laki-laki kan? Ajeng gemana?” tanya Maya penasaran memenuhi relung hati. Berusaha mengintip tapi pintu kembali tertutup rapat.
“Iya” satu kata keluar dari bibir Aksara.
Setelah mendapat penanganan lebih lanjut, Ajeng bisa leluasa menggendong bahkan menyusui bayinya. Sekali lagi, dengan kekuasaan Aksa, pihak rumah sakit mengizinkan ibu dan bayi merah itu tidur dalam satu ruangan yang sama.
Malaikat kecil yang diberi nama Arjuna Bryatta Kreshnik Eberly Caldwell lahap menyusu, tidak mau berbagi sedikit saja perhatian ibunya.
“Jagoan Papa, nempel terus sama Mamah. Mirip aku ya sayang. Terima kasih Ajeng.” Aksa tidak kuasa menutupi haru. Akhirnya sebelum tahun ke empat pernikahan, dia menyandang gelar Ayah.
“Maaf ya Aksa. Salah aku dulu menunda dan … dan menolaknya, karena … kita …” Ajeng menelan ludah, malu sekali mengucapkan kata-kata penghinaan itu. Manik hitamnya melirik Maya yang menunduk, kehilangan muka.
“Iya sudahlah, itu masa lalu. Sekarang ingat janji kamu ya, jangan pakai alat kontrasepsi apapun.” Membelai rambut Ajeng yang sedikit basah akibat keringat.
Lidah Maya begitu kaku mengucap kata ‘maaf’, gengsi. Tetap menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah sama sekali, mengangkat dagu dan melihat majalah. Menolak keinginan hati kecil untuk menggendong Bryatta.
“Umm … Ajeng, Aksa. Ibu pulang ya, Bapak kasihan di rumah, ada barang yang perlu Ibu bawa besok?” mencoba basa basi, mendekati putri bungsu yang tengah menatap cucunya.
“Ya hati-hati di jalan Bu. Ada ongkos untuk pulang? Bisa pesan taksi online kan? Sopir tidak ada di rumah sakit, dia ke bandara menjemput Elang.” Tutur Aksa, bersikap acuh terhadap Maya.
“Kurang ajar ini menantu. Bukannya menghargai orangtua, tapi seenak udel sikapnya. Sabar Maya!” mengumpat dalam hati. Kalau saja Aksara masih miskin pasti Maya mencaci maki, tidak peduli dengan status Aksa sebagai suami putrinya.
Maya pun keluar ruangan, menahan kekesalan yang menumpuk. Namun setibanya di depan pintu rumah sakit, seorang sopir menyambutnya.
‘Bu Maya, mertua Bos Aksa? Silakan Bu, saya antar pulang’ membuka pintu, melayani sepenuh hati.
“Oh terima kasih. Siapa yang suruh kamu? Aksa ya?” Maya melirik interior mobil mewah ini.
‘Iya Bu, Bos besar. Katanya Ibu mau pulang, jadi saya balik lagi ke sini.’
“Ternyata baik juga dia. Aku pikir tega sama mertuanya sendiri.” Menghela napas, isi kepala Maya baru menyadari betapa baik dan bijak menantu yang telah dia hina.
TBC
***
Ditunggu ucapan selamat untuk Ajeng dan Aksa 🤗😁