
Mendengar Khansa menyebut nama Al, segera Ara merebut ponselnya dan langsung membuka chat itu sembari berdiri, menjauh dari adiknya.
"Ekhem," Khansa berdehem. Dia mengira itu pasti kekasih kakaknya.
"Aku rindu masakan kamu," tulis Al.
Apa dia tidak lelah mengirimkanku pesan sedari tadi? Seperti itulah pria, akan ada dan datang saat butuh, akan hilang saat tidak membutuhkan. Batin Ara menanggapi sikap Al. Jika orang lain melihat sikap Al, orang akan berpikir jika pria itu seperti pria yang menggilainya. Namun tidak ada yang tahu jika setelah bertemu, dan setelah berpisah maka tidak akan ada komunikasi antara mereka, Ara bahkan dilarang menghubungi pria itu lebih dulu jika bukan Al yang menghubunginya.
"Aku nanti masakin makanan kesukaan kamu," balas Ara kemudian mematikan ponselnya dan menggenggamnya erat, tak mau ada yang tahu mengenai kasus besar yang dia sembunyikan selama ini.
"Kakak ... itu pasti—"
Ara segera mengelak. "Bukan! Dia teman Kakak. Emmm ... Kakak sepertinya tidak bisa membantu kamu, minta tolong ke Keisha saja. Kakak sedang terburu-buru," pungkas Ara kemudian mengambil tas jinjingnya lalu segera keluar dari kamar.
Khansa mendengus. Kemudian menyusul kakaknya ke luar.
"Malah kabur dan sembunyi di sini," ucap Keisha yang sudah menunggunya di balik pintu kamar Ara.
Khansa terkejut sekali, dia kira siapa, ternyata kembarannya. Dengan hati yang masih berdebar karena kaget, dia berdalih. "Tadi, aku sedang mencarimu, Kei. Aku kira kamu ke kamar Kakak."
Keisha mendelik tak percaya. Kemudian pergi meninggalkan Khansa.
"Ih! Seharusnya kembar itu selalu support satu sama lain, dan satu frekuensi. Apakah sebetulnya aku dan dia bukan benar-benar kembar? Huft!" gerutu Khansa.
"Aku mendengar ucapanmu, Khansa!" teriak Keisha dari jauh.
Melihat Diana sedang membersihkan halaman, Ara langsung mendekati sang Bunda untuk berpamitan. Diana takjub melihat putrinya sendiri yang tampak memesona serta bersinar seperti kupu-kupu malam.
"Kamu mau ke mana, Sayang?"
Ara tersenyum, meski hatinya kembali merasa bersalah. Melihat kedua mata Diana yang teduh dan tampak tulus seolah tanpa dosa itu selalu berhasil membuat Ara ingin taubat dari perbuatannya dan memutuskan hubungan gelap dengan pria itu.
Entahlah sorot mata Diana selalu membuatnya merasa bersalah karena telah menghidupi keluarga dengan uang haram, meski sebetulnya tak sepenuhnya haram karena dia mendapatkan penghasilan dari salonnya.
"Ara?" tanya Diana sembari melambaikan tangan di depan wajah Ara yang sedang melamun.
"Eu ... aku mau bertemu—"
Khansa tiba-tiba datang, memotong ucapan Ara. "Mau bertemu laki-laki, Bun. Betul, Kak?"
Ara mengatur napas sebisanya supaya tidak tampak gugup di depan Diana.
Ara terdiam, mau bicara tapi tiba-tiba gugup karena lagi-lagi, dia sangat sukar untuk berbohong di depan Diana. Entah kenapa, ketika dia berbohong, pasti Diana akan tahu dan akhirnya Ara mengaku. Namun, kali ini dia berusaha benar-benar untuk menyembunyikannya, dan berbohong pada Diana. Sekali ini saja. Mungkin. Atau ... sekali berbohong pasti akan kecanduan untuk kembali mengulangi.
TIIIIING.
Panggilan telepon dari ponsel Ara berbunyi, segera dia mengangkat teleponnya, dan berjalan menjauh dari Diana serta kedua adik kembarnya.
"Iya."
"...."
"Besok aku urus laporan itu! Jangan lupa berikan diskon setengahnya!"
"...."
"Oke?"
Diana kembali melanjutkan kegiatan menyapu ketika Ara sedang menerima panggilan yang sepertinya dari salah satu pegawai salonnya.
"Khansa, tadi kamu bilang Kakak mau bertemu laki-laki?" tanya Keisha, tumben sekali dia kepo dengan apa yang sedang menjadi perbincangan.
"Namanya Al," jawab Khansa sembari mengangguk.
"Nama yang sama," balas Keisha.
Diana yang diam-diam menguping pembicaraan si kembar, segera mendekati kedua anak gadisnya. Dia kembali penasaran, apakah betul putri sulungnya sudah memiliki kekasih? Siapa kekasihnya itu? Diana sedikit senang karena setidaknya jika sudah ada kekasih, Ara bisa segera melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.
Namun, mengingat masa lalu, Diana menggeleng kuat. Dulu dirinya dan Arya menikah ketika masih muda, memang awalnya pernikahan bertahan dengan penuh kasih sayang, tapi belasan tahun kemudian datang musibah yang berhasil membuat Diana trauma hingga saat ini.
Diana sama sekali tak ada niatan untuk menikah dan mencintai pria lagi. Dia juga tidak terlalu menyarankan Ara untuk menikah cepat atau dijodohkan dan semacamnya, karena dia tak mau anak gadisnya mendapat kisah memilukan yang sama sepertinya beberapa tahun lalu.
"Sayang, siapa dia?" tanya Diana ketika Ara kembali padanya setelah selesai telepon.
"Dia pegawai salonku, Bun."
Diana menggeleng, "Bukan itu! Maksud Bunda, siapa yang akan kamu temui sore ini?"
"Itu ... temanku!"
"Apa dia, Al? Siapa Al? Kenapa bunda baru mendengar namanya. Apa benar dia kekasihmu?" tanya Diana.