I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 68



Sudah sekitar lima kali Ara menghembuskan napas panjangnya, sejak tadi dia terus memikirkan Al. Keputusannya untuk menjauhi Al memanglah sangat berat, meskipun itu pilihan Ara sendiri, apalagi saat tadi dia tidak sengaja bertemu Al di mall. Rasanya semua kenangan yang pernah ia alami bersama Al kembali terputar oleh memori otaknya.


Saat ini, Ara sedang duduk di kursi belajar sambil menghadap laptopnya. Di sana ada beberapa artikel yang baru saja ia baca untuk lebih mengenal siapa itu Zeeshan Alashraf atau lebih dikenal Al, pria yang selama ini mengisi hari-hari Ara. Ara menyesal kenapa tidak sejak dulu dia mengetahui siapa Al yang sebenarnya, mungkin saja jika dia tahu, Ara tidak akan mau bersamanya dulu.


Sekarang, Ara harus mundur. Meskipun dalam hatinya sangat berat untuk berpaling dari Al, tapi hal ini ia lakukan karena sadar diri kalau dirinya sama sekali tidak pantas untuk Al. Bagaimana mungkin seorang rakyat jelata menikah dengan seorang bangsawan yang sangat kaya raya. Ara yakin kalau public mengetahuinya, dirinya pasti akan dikritik habis-habisan.


"Wanita ini lebih cantik, Al. Kenapa kamu harus mengejarku padahal di luaran sana lebih banyak wanita cantik dan lebih kaya dariku? Aku tidak pantas untukmu," gumam Ara. 


Saat ini wanita itu sedang membaca salah satu artikel yang menunjukkan kalau ada salah satu anak dari pejabat Turki yang pernah dekat dengan Al. Jika dibandingkan dengan Ara, wanita itu lebih jauh di atas. Lihat saja penampilannya, foto yang ada di dalam artikel itu menunjukkan kalau wanita itu sedang berjalan bersebelahan dengan Al, seperti foto paparazzi. Postur tubuhnya seperti model-model yang sangat cantik, riasannya juga tidak terlalu tebal dan dipadukan dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. 


Ara tersenyum kecut melihat itu, perbandingannya seperti langit dan bumi. Ara tidak mengerti kenapa Al tidak bersama wanita itu saja dan malah mengejar-ngejarnya, apa dia tidak malu dekat dengan wanita biasa yang tidak memiliki apa pun.


"Sepertinya aku harus benar-benar mundur dari Al. Apa kata media nanti saat mengetahui kalau Al sedang dekat denganku? Ah, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri," ucap Ara pada dirinya sendiri. 


Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan, kemudian menutup layar laptopnya. Keputusannya sudah dipatenkan untuk tidak bersama dengan Al, karena jika bersama pria itu Ara yakin kalau tidak ada yang menyetujuinya.


Apalagi Al merupakan keturunan bangsawan, pasti setiap gerak-geriknya tidak akan lepas dari sorot kamera dan Ara tidak menyukai hal itu. Ara tidak siap menghadapi kesulitan di masa depan, apalagi jika sampai melibatkan keluarganya. Karena Ara tahu kalau sudah berurusan dengan keluarga bangsawan itu akan sangat merepotkan, ya mungkin bagi Al akan biasa saja, tapi tidak untuk Ara. Dia tidak ingin kalau ada yang mengetahui hal ini dan akan segera melupakan setiap kenangan yang pernah tercipta bersama dengan Al. Sudah seharusnya Ara melakukan hal itu sekarang, agar tidak ada rasa sakit lagi yang timbul dalam hatinya.


Tidak mau berlama-lama duduk di layar laptopnya, Ara memutuskan untuk mandi. Berharap dia sedikit merasa tenang dan melupakan kejadian hari ini, saat Al mengejarnya di mall. Ara berharap kalau hal itu tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.


Setelah selesai dengan acara mandinya, Ara sudah terlihat lebih segar. Saat ini wanita itu sedang berda di kursi rias untuk menyisir rambutnya, dia juga sudah siap dengan piyamanya untuk tidur. Rasanya hari ini Ara ingin sekali tidur lebih awal karena merasa badannya sangat lelah, mumpung hari ini juga tidak ada kegiatan yang lainnya.


Selesai dengan rambutnya, Ara melangkah ke arah ranjangnya. Wanita memasukkan kakinya ke dalam selimut, dia menyempatkan untuk membuka ponselnya, melihat-lihat ternyata ada banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Al. Sejak tadi Ara memang sengaja tidak membunyikan suara notifikasi ponselnya.


Melihat banyak panggilan itu kembali mengingatkan saat-saat dimana dulu Al sering sekali menerornya dengan banyak panggilan telepon agar Ara segera menemuinya di apartemen. Tapi saat ini tidak lagi, Ara tidak akan pernah melakukan hal itu lagi.


Sudah berusaha untuk memejam, tapi rasa kantuk sama sekali tidak membuatnya tertidur, Ara menjadi kesal sendiri. Entah kenapa dia terus mengingat Al dan memikirkan tentang masalah ini kedepannya akan bagaimana.


Ara bangun dari posisi berbaringnya, wanita itu menatap depan, lalu mengusap wajahnya kasar. "Kenapa aku harus memikirkannya terus. Sadar, Ara! Lebih baik kamu melupakan pria itu secepatnya!" ucap Ara menyadarkan diri sendiri.


Dia bingung sampai kapan harus terjebak pada masalah ini. Rasanya Ara ingin sekali memutar waktu, agar dirinya tidak pernah bertemu dengan Al, si anak bangsawan itu. Tetapi, itu semua tidak akan bisa terjadi. Saat ini Ara harus menerima semua ini dengan berat hati.


***


Disisi lain, Al sedang berada di balkon apartemennya. Pria itu sedang menikmati secangkir teh sambil melihat pemandangan malam hari. Sebenarnya Al sudah mencoba untuk berusaha tidur tadi, tapi tidak bisa, lagi-lagi Ara terus memenuhi isi kepalanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menenangkan diri di balkon.


Udara malam ini terasa lebih dingin dari sebelumnya, mungkin efek mendung, tapi Al hanya memakai piyama tipis dengan lengan setengah. Entah kenapa udara malam ini seakan tidak membuatnya kedinginan sama sekali, mungkin efek kegalauan yang sedang ia alami, jadi apa pun tidak bisa ia rasakan.


"Ara. Kamu sedang apa saat ini, apa kamu juga sedang memikirkan diriku saat ini? Seperti hal aku yang sedang memikirkanmu malam ini," gumam Al sambil menyesap teh hangatnya. 


Setelah itu, Al mendongak ke langit, hanya ada kegelapan di sana. Malam ini bintang tidak bersinar karena awan mendung yang memenuhi langit kota, semua itu seakan menambah kesan kegalauan Al saat ini. Pikirannya kacau dan hatinya juga terluka karena diabaikan oleh Ara.


"Apakah saat ini kamu juga memandang langit malam ini? Mendung, sama seperti hatiku yang saat ini dilanda kebingungan." Al terus bermonolog sambil membayangkan kalau saat ini Ara juga melakukan hal yang sama seperti dirinya.


Al kembali menghembuskan napasnya, dia mengingat setiap kenangan yang pernah ia lalui bersama Ara. Semua itu seakan tidak mau hilang dalam pikirannya dan ingin terus diingat selamanya. Al bingung, entah sampai kapan Ara terus menghindar darinya, padahal banyak sekali yang ingin ia sampaikan pada wanita itu.