I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
BULE 73



"Tidak, Ara. Kau bukanlah simpananku, Aku mencintaimu dan akan melakukan apapun yang kau inginkan, Bahkan aku juga akan mempublikasikan tentang hubungan kita ini. Jika hal itu mampu membuatmu bahagia dan percaya jika aku benar-benar mencintaimu."


"Kau Kekasihku, milikku bukanlah simpananku. Jadi aku mohon jangan pernah lagi bicara seperti itu." Al mempertegas dengan mengklaim kepemilikan atas diri Ara.


"Tapi kau juga harus ingat, Al. Status kita berbeda, dan kita tidak akan mungkin bisa bersama. Statusmu seperti Putra kerajaan Timur Tengah, pewaris tunggal dari pengusaha berdarah Turki bernama Ekrem Zeeshan, sementara aku hanyalah rakyat jelata yang lebih pantas menjadi pelayanmu daripada istri." Ara menolak tentang Al yang sudah mengklaim kepemilikan atas dirinya.


"Kau tidak bisa lagi menarik ucapanmu, Ara. Bukankah kau sendiri yang meminta padaku untuk mempublikasikan mengenai hubungan kita? Lalu kenapa sekarang kau seolah menjilat ludahmu sendiri?" Al tak habis pikir dengan cara berpikir Ara, dia sudah bersedia mengabulkan permintaannya. Tapi sekarang Ara justru berubah pikiran dan tak mempercayai Al.


Ara putus asa, dia yang takut tentang status kebangsawanan Al. Sengaja memancing Al dengan meminta untuk mempublikasikan tentang hubungan mereka, karena Ara yakin jika Al tidak akan mungkin bersedia melakukannya. Tapi diluar dugaan, ternyata Al menerima tantangan Ara. Jika Al ternyata bersedia melakukan permintaanya.


"Jika kau masih meragukan keseriusanku, Aku berani mendatangi ibumu untuk menyampaikan dan mengatakan di hadapannya dan ingin hidup bersama denganmu." Al semakin meyakinkan Ara, dia tak lagi peduli semua tentang dirinya.


Al hanya ingin jika Ara menjadi teman hidupnya, bukan hanya teman ranjang saja. Sehingga Al bersikap layaknya seorang lelaki dewasa yang berkomitmen mengenai kehidupan selanjutnya, Al  sedang berusaha meyakinkan hati Ara jika dirinya sedang tidak main-main.


"Aku bukan meragukan cintamu, Al. Aku hanya sedang melihat bagaimana keadaan status kita yang sudah jelas berbeda, kau keturunan bangsawan, sementara aku? Tak perlu aku katakan juga mereka tahu jika keluargaku tak layak dibanggakan." Ara tetap saja menolak, semula Ara berpikir dengan menantang Al seperti itu, maka dia akan pergi dan tak lagi mengganggunya. Tapi kenyataan justru sebaliknya, sekarang Ara terjepit di antara kenyataan juga perasaan hatinya.


"Aku tak peduli hal itu, aku hanya tahu, kalau aku mencintaimu, ingin hidup bersamamu. Tanpa mengurusi mengenai status sosialnya, aku tak bisa jika hidup tanpamu, aku akan memperjuangkan cinta kita. Baik pada orang tuamu maupun di keluarga aku." Al meraih tangan Ara, menciumnya dalam. Sehingga Ara sangat tersentuh akan perlakuan Al.


Menurut Ara, jika sekarang Al hanya sedang bermain-main saja. Tidak serius dengan semua ucapannya, dikarenakan Al menginginkan Ara kembali padanya, sebagai simpanannya. Sehingga Ara tidak mempercayai jika sebenarnya Al begitu serius dengan semua yang dia katakan.


"Apa kau yakin akan menemui Bunda aku, dan meminta aku padanya? Status kebangsawanan yang kau sandang, sulit sekali untuk aku mempercayainya." Ara melepaskan tangannya, menariknya dari genggaman tangan Al.


Ara tak ingin berbangga diri, dengan percaya begitu saja mengenai semuanya, sebab Ara tahu diri jika dirinya hanyalah wanita biasa, yang rela menjadi simpanan Al selama tiga tahun. Jadi Al pasti akan melakukan segala cara supaya keinginannya bisa tercapai, termasuk menerima permintaan konyol dari Ara.


Suasana menjadi hening, Al menunggu apalagi yang sekiranya akan Ara sampaikan padanya, sementara Ara masih bingung jika Al benar-benar serius ingin menemui ibunya dan membahas masalah ini, Ara berada dalam perasaan dilema. Karena posisinya saat ini tidak menguntungkannya sama sekali.


"Kalau tak ada lagi yang ingin kau katakan, lebih baik sekarang kita pergi ke rumahmu, untuk menemui Bunda. Dan Aku akan menyampaikan semuanya." Al memecah keheningan, sedangkan Ara terlonjak kaget.


"Tunggu dulu, jangan gegabah. Al. Pikirkan baik-baik, ini menyangkut nama baik dua buah keluarga, termasuk keluarga besar di Turki, jangan hanya mementingkan keinginan mu seorang, maka kau sampai mengorbankan mereka semua, lagipula masih banyak diluaran sana, wanita yang jauh lebih segalanya dariku, sepadan dan sederajat dengan kebangsawanan keluargamu." Ara berusaha mengulur waktu, supaya Al membatalkan niatnya untuk ke rumah menemui Bundanya.


"Astaga Ara, aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu. Kenapa kau terkesan tengah menunda juga mengulur waktu, supaya aku merasa marah dan membatalkan niatku untuk menemui Bundamu." Al kesal sendiri, karena ulah Ara. Padahal tadi wanita itu yang meminta padanya untuk melakukan apa yang dia minta.


"Tidak seperti itu, Al. Aku hanya tengah mengingatkan saja. Tentang status yang tidak akan mungkin bisa kita bersama, aku menghargai kau bersedia melakukan permintaan aku, tapi setelah pengakuanmu di hadapan semua orang, keadaannya tidak akan seindah yang kita harapkan." Ara memutar tubuhnya, dia tidak tahu harus bagaimana. Rencananya ternyata gagal, Al justru semakin memaksa dan mengatakan berulang kali jika Ara adalah miliknya. Lelaki itu bukan seperti Al yang selama ini Ara kenal.


"Aku tidak peduli, sekarang juga aku akan bertemu sama Bundamu. Ayo kita pergi sekarang." Al berjalan dengan cepat menyambar tangan Ara, dan membawa wanita itu keluar dari ruangannya.


Ara terkejut, karena tangannya tiba-tiba ditarik paksa sama Al. Ara tak bisa melawannya, sebab cengkeraman tangan lelaki itu sangatlah kuat, sehingga Ara hanya bisa mengikuti Al yang berjalan cepat keluar dari ruangannya.


Semua pegawai salon menyaksikan pemandangan itu, seperti tengah menonton adegan romantis dalam sebuah drama percintaan. Tapi sungguh Ara merasa jika dia pun tak berdaya. Semula Ara mengira jika Al menyetujui semuanya, karena dia sedang membujuk Ara untuk kembali menjadi simpanannya, tapi siapa sangka, Al justru serius sampai dia memaksa akan membawa Ara kembali ke rumah untuk bertemu sama Bundanya Ara.


Tak ada yang berani bicara saat Ara keluar dari salon bersama Al, wajah keduanya terlihat tegang. Seperti sedang bertengkar, Ara hanya bisa berpesan pada pegawainya. Untuk tidak mengganggunya, karena ada urusan penting yang harus Ara selesaikan sekarang.


"Al, ini tidak main-main kan? Maksudku, kau sungguhan ingin bertemu sama Bunda?" Ara sudah ada di mobil Al, dia memastikan lagi tentang apa yang Al lakukan.


"Harus berapa kali lagi aku katakan, Ara. Kalau semua ini aku lakukan dengan sungguh-sungguh." Al menyalakan mobilnya, kemudian keduanya meninggalkan butik menuju rumah Ara. Ara pasrah, entah apa yang akan terjadi saat Al berhadapan langsung dengan Bunda dan kedua adiknya.