I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
BULE 77



Di lain sisi, terdapat seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesaran miliknya. Pria itu menyesap kopinya perlahan, dan sama sekali tidak ada yang mengganggu kegiatannya tersebut.


“Apa yang kamu dapatkan?” ucap pria itu.


Dia adalah Kakeknya Al. Pria itu sudah menyuruh orang suruhannya untuk mencari informasi tentang keberadaan Al dan apa yang sedang cucunya itu lakukan.


“Baik, Tuan. Saya mendapat informasi bahwa Tuan Al sedang menyukai seorang wanita saat ini,” ucap orang suruhannya tersebut.


Pria dengan setelan jas berwarna hitam itu mulai memberitahu tentang semua hal yang sudah dia dapatkan. Dia memastikan bahwa dia sudah mengatakan semuanya, dan tidak ada satu informasi pun yang terlewat.


Kakek Al itu hanya diam saja, tetapi raut wajahnya menunjukkan rasa tidak senang.


“Jika Tuan ingin mendapatkan informasi yang lain, saya yakin bahwa Daniel bisa memberitahu lebih banyak,” kata orang suruhan Kakek Al tersebut.


Mendengar hal itu, Kakek Al lantas mengangguk setuju. Dia tahu bahwa Daniel adalah sosok kepercayaan Al sekaligus sekretaris pribadi cucunya itu. Jadi dia akan mengulik lebih banyak informasi dari Daniel.


“Panggil Daniel ke sini!” ucap Kakek Al.


Tanpa menunggu apapun lagi, orang suruhan tersebut lantas pergi dan mengerjakan perintah atasannya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja pria paruh baya itu. Setelah dipersilahkan masuk, dia bisa melihat wajah Daniel yang penuh kebingungan.


Sebenarnya Daniel sudah bisa menebak alasan Kakek atasannya itu memanggil dirinya secara pribadi untuk bertemu. Dia sudah menduga bahwa ini memiliki kaitan dengan Al dan keberadaan atasannya itu.


“Silahkan duduk!” ucap Kakeknya Al.


Daniel mengangguk perlahan dan duduk di bangku yang telah dipersiapkan. Meskipun dia berusaha untuk mencari berbagai alasan, dia tetap saja tidak bisa menolak untuk datang.


Kakek Al adalah orang yang sangat berpengaruh, dan dia akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan keinginannya.


Kini Daniel hanya bisa pasrah. Dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan segala sesuatu tentang Al, tetapi kali ini hidupnya akan dipertaruhkan.


“Sepertinya kamu sudah mengetahui alasan saya memanggilmu kesini,” ucap pria paruh baya itu.


Dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dan meminum kopinya sejenak.


“Jadi ke mana perginya Al?” tanya Kakeknya langsung.


Pria paruh baya itu sudah tidak ingin lagi melakukan basa basi. Daniel hanya bisa berharap pada keselamatan hidupnya. Dia harus segera jujur saat ini.


Karena Kakeknya Al terus saja menekan Daniel untuk menceritakan segalanya, maka pria itu tidak memiliki alasan untuk menolak. Dia hanya bisa menatap ngeri pada beberapa pria berjas hitam yang sudah pasti akan melakukan apapun ketika diperintah.


“Siapa nama wanita itu?” tanya Kakeknya Al.


“Ara!” balas Daniel.


“Namanya, Ara,” lanjut Daniel lagi.


“Maaf, Tuan. Aku sudah tidak bisa menyimpan semuanya lagi,” batin Daniel.


Semakin Kakek Al itu bertanya, semakin pria paruh baya itu menjadi murka. Dia tidak habis pikir mengapa Al malah memilih untuk menikah dengan gadis dari kalangan biasa seperti itu.


Bagaimana bisa dia akan membiarkan cucu kesayangannya itu menikah dengan wanita yang berantakan asal usul dan kehidupannya? Dia kini menjadi penasaran apa yang membuat Al tertarik pada wanita bernama Ara tersebut.


“Kamu yakin dengan semua informasi yang kamu berikan?” tanya Kakeknya Al.


Daniel lantas mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak mungkin berbohong kepada pria paruh baya yang masih tampak sangat berwibawa itu. Dia masih sangat menyayangi nyawanya dan tidak ingin melakukan hal bodoh.


“Seharusnya kamu memberitahu semua itu kepada saya sejak awal,” ucap Kakeknya Al.


Mendengar hal itu, Daniel lantas bergidik ngeri. Jantungnya mulai berdetak dengan lebih cepat, dan dia sedang memikirkan tentang nasib hidupnya saat ini.


“Tetapi karena kamu sudah memberikan banyak informasi penting, kamu saya maafkan kali ini,” ucap pria paruh baya itu lagi.


Kini Daniel bisa bernapas dengan lega, meskipun dia masih merasa was-was. Dia tidak akan merasa tenang sebelum dia keluar dari ruangan itu. Rasanya seperti dia sedang diinterogasi atas sebuah kasus kejahatan.


“Baiklah, kamu bisa pergi sekarang!” lanjut Kakek Al lagi.


Setelah itu, Daniel dengan cepat bergegas. Dia tidak lagi berbalik ke belakang dan bersyukur karena tidak ada satupun yang mengikuti dirinya.


Rasanya dia sulit sekali bernafas selama berada dalam ruangan itu barusan.


Kembali pada Al yang kini masih berada di rumah keluarga Ara. Dia masih terdiam dan mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuk dia ucapkan.


Sebenarnya dia sudah tidak memikirkan tentang keluarganya. Dia hanya ingin Ara merasa yakin bahwa dia sudah teguh dengan niatnya. Tetapi Al perlu berusaha agar jawabannya tidak terdengar aneh dan tidak meyakinkan.


“Aku yakin bahwa aku sudah cukup untuk Ara,” ucap Al.


“Aku sangat mencintai Ara. Karena itu aku berani datang ke sini dan melamarnya,” lanjut Al lagi.


Pria itu kembali membuat semua orang terdiam, dan Ara semakin bimbang dengan keputusannya sendiri.


“Aku tidak peduli apa yang akan keluargaku katakan. Tetapi aku akan pastikan bahwa mereka setuju,” ucap Al.


Pria itu tidak pernah bersusah payah dalam mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Tetapi untuk pertama kalinya, dia berusaha agar tidak terdengar besar kepala.


Dia akan melakukan apapun agar bisa bersama dengan Ara. Tidak ada yang membuat Al menjadi bersemangat, seperti halnya ketika dia berusaha untuk mendapatkan hati Ara lagi saat ini.


Meskipun Al sadar bahwa dia tidak akan bisa membuat Ara setuju dengan mudah, dia tetap saja akan terus mencoba. Sebesar apapun rintangan yang akan terjadi nanti, dia akan berusaha untuk melewati semua itu.


Bukan hanya tanggapan orang lain. Al bahkan akan selalu berdiri paling depan jika nanti keluarganya menolak Ara. Tidak boleh ada yang meragukan sosok wanita yang pria itu cintai, termasuk keluarganya.


“Aku akan tetap menikah dengan Ara, karena aku sudah memutuskan semuanya,” ucap Al.


“Meski dengan atau tanpa restu keluarga,” lanjut Al lagi.


Ara tidak yakin dengan hal yang baru saja dia dengar itu. Dia merasa bahwa pria itu sudah kehilangan akal sehat sekarang. Dia begitu yakin dengan semua perkataannya, dan itu semakin membuat Ara takut untuk setuju.


Semakin pria itu yakin dengan ucapan, itu semakin membuat Ara menjadi ragu. Jangankan untuk memikirkan tentang keluarga Al, memikirkan tentang status mereka yang berbeda sangat jauh saja sudah mampu membuat nyali Ara menciut.


“Apa aku berhak mendapatkan cinta sebesar itu?” pikir Ara.