I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 43



Salon berada dalam kondisi tegang, ketika Ara baru saja sampai. Bahkan bisa dia lihat, pelanggan salonnya yang sedang melakukan treatment, merasa tidak nyaman akan masalah yang terjadi. Kedatangannya langsung disambut Rina yang sudah berwajah masam, dan juga seorang wanita paruh baya yang selalu menatapnya sinis.


"Ada apa ini, Rina, apa masalahnya?" tanya Ara dengan bingung, ketika karyawan kepercayaannya itu menggiring dirinya menjauh dari kerumunan.


"Itu lho, Mbak. Orang itu datang-datang marah, dan mengeluh soal rambutnya yang rusak!" kata Rina berbisik.


Orang yang membuat keributan itu tampak mengerutkan dahi tidak senang. "Ngapain kamu tunjuk-tunjuk, sini bicara langsung kalau berani!" bentaknya marah, ketika melihat Rina menunjukkan jari padanya.


Ara yang melihat itu mendesah kasar, bisa dia lihat jika wanita pembuat onar itu adalah orang yang gampang emosi. Akhirnya Ara melepaskan Rina, lalu berjalan mendekati wanita itu dengan wajah terangkat percaya diri.


"Maaf, Nyonya. Jika boleh tahu apa--"


"Jangan panggil aku Nyonya, aku bahkan belum menikah. Namaku Naura, panggil aku Nona!" pinta Naura, wanita si pembuat onar menyela ucapan Ara.


Ara menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menampilkan senyum manis meskipun dalam hatinya saat ini memberontak tak sabar untuk mengumpat.


Dia mempertahankan sikap tenangnya saat bertanya, "Baiklah, Nona Naura, jadi apa keluhan kamu? Aku pemilik salon ini, jadi kamu bisa leluasa untuk mengatakan masalahnya."


Naura mendengkus, lalu membuka ikatan rambutnya. Wanita itu menunjuk rambutnya yang berwarna merah tampak kusut dan begitu kering. "Lihat, ini adalah pekerjaan salonmu. Aku baru saja mewarnai rambutku dua bulan yang lalu, dan sekarang hasilnya menjadi rusak parah seperti ini. Aku tidak mau tahu kalian harus bertanggung jawab dan membuat rambutku kembali seutuhnya."


Dua alis Ara terangkat, dia melangkah lebih dekat pada Naura. Tangannya terulur untuk menyentuh rambut wanita itu. "Tapi ini sepertinya pewarnaan baru. Jika sudah lama, teksturnya tidak akan begini. Lihatlah, ini terlalu kaku dan warnanya bahkan masih menyilaukan."


Naura yang didekati seperti itu menjadi geram, menampik tangan Ara begitu saja dengan kesal. "Aku tidak pernah mewarnai rambutku sejak dari salon ini. Waktuku sudah sibuk bekerja, dan tak sempat bersantai ke salon."


"Benarkah? Tapi aku ingat dulu kamu datang ke sini di hari biasa, yang artinya kamu pun mempunyai waktu luang, apalagi dengan hari weekend," sindir Ara dengan wajah polosnya menahan senyum.


Entah kenapa, Naura terlihat gugup. "Aku tidak mau tahu, ya. Kalian harus memberikan kompensasi atas rusaknya rambutku. Aku minta perawatan lengkap dari salonmu sampai rambutku pulih kembali!"  ucapnya berteriak.


"Sayangnya, rambutmu tak bisa kembali normal. Itu sangat parah, dan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memotong habis sampai ke akar-akarnya. Lagipula, aku tidak bisa memberikan kompensasi, karena itu sudah melewati batas garansi. Salonku selalu memberikan waktu tiga minggu untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Jika sudah lebih, berarti kami angkat tangan," jawab Ara menjelaskan panjang lebar.


"Dasar sialan! Apa kamu berniat untuk lari dari tanggung jawab? Kamu bahkan barusan menghina rambutku yang lebih baik digundul saja. Beraninya kamu berkata tidak sopan padaku!" Naura menggeram, menatap Ara tajam dengan dada naik turun penuh emosi. "Aku tidak mau tahu, jika kamu tidak mau memberikanku kompensasi, maka aku akan melaporkanmu ke pengadilan agar dituntut."


Dia benar-benar pandai memainkan emosinya. Tak ada raut wajah marah, maupun menyerah yang terlihat meskipun dari guratan-guratan di bawah matanya. Ara benar-benar pandai bersikap tenang, dan bertindak dengan kepala dingin meskipun lawannya adalah orang yang sangat menyebalkan sedikit pun.


Berbeda dengan Ara yang tenang, para karyawan salon itu tampak tegang. Apalagi melihat bos mereka dilabrak oleh seseorang. Sedangkan para pelanggan salon yang kebetulan ada di sana, malah terlihat antuasia menonton seolah pertengkaran itu adalah sebuah drama.


Naura yang tak tahu dan tak paham tentang pasal-pasal penuntutan menjadi kicep, dia terdiam bingung karena tak bisa menjawab. Wanita itu menatap sekitar panik, seolah mencari bahan untuk playing victim.


"Awas saja kamu, aku akan datang lagi membawa pengacara. Kupastikan, salonku akan hancur setelah aku menuntutnya!" ancam Naura kemudian, yang pada akhirnya tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk melawan Ara.


Ara tersenyum masih bersikap santai. Dia bahkan mulai menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tangan melipat dada. "Baiklah, segera buat laporan. Aku menunggu tuntutanmu. Tapi jangan nangis ya kalau nanti keadaan berbalik!" katanya sambil terkekeh pelan.


Tepat setelah itu, Naura akhirnya pergi. Para karyawan meninggalkan tempat mereka masing-masing dan berjalan mendekati Ara yang masih bersikap santai.


"Mbak, gimana ini? Kalau dituntut beneran gimana, Mbak?" tanya Rina dengan cemas. 


"Iya, Mbak. Aku nggak mau salon ini nantinya tutup. Aku mau kerja di mana lagi kalau bukan di sini," kata salah seorang karyawan yang lain. 


"Mbak, kenapa kita tidak memberinya kompensasi saja daripada nantinya ribet urusan dengan pengadilan?" tanya karyawan lagi, lainnya. 


Ara yang mendengar hal tersebut tersenyum lebar untuk menenangkan. "Jangan pikirkan soal hal itu. Tetaplah bekerja, biar aku saja yang mengurusnya. Jangan khawatir, pokoknya salon ini tidak akan pernah tutup." 


Para karyawan Ara mengangguk, menaruh kepercayaan tinggi pada bosnya itu. Setelahnya, mereka kembali bubar dan kembali ke tempat mereka masing-masing. 


Hal yang sama dilakukan Ara, wanita itu beranjak naik ke tangga dan berniat untuk datang ke ruangannya. Tetapi, baru saja beberapa langkah dia naik, suara teriakan tiba-tiba terdengar nyaring di dalam salon. Saat berbalik, Ara menemukan Naura. 


Wanita itu kembali, tapi tidak dengan pengacara yang dijanjikan. Melainkan dengan beberapa preman berwajah garang yang mempunyai banyak tato. Mereka tampak siap, bahkan membawa beberapa kayu dan benda tajam lainnya. 


"Hancurkan semuanya! Aku tidak suka dengan pemilik salon yang sombong itu!" teriak Naura memberi perintah. 


"Tidak, jangan!" Ara menggeleng cepat, dengan sorot mata yang panik tatkala melihat beberapa preman mulai menghancurkan barang-barang salonnya.