
"Kamu ini gila, ya!" pekik Maya menatap marah anaknya. Wanita paruh baya itu menggeram, bahkan sampai mendorong pelan kepala anaknya dengan jari telunjuk.
"Mama menyebutku gila?" Sherly memekik, dia terlihat tercengang dengan ucapan sang ibu. Ada kemarahan dan kekesalan yang merambat jadi satu memenuhi ruang hatinya.
"Iya," bentak Maya. "Kenapa kamu menanyakan hal ini pada papamu? Kamu ingin papamu berpaling pada keluarganya dulu dan malah meninggalkan kita gara-gara mengingatnya? Dasar bodoh!" omel Maya dengan napas yang memburu. Wanita paruh baya itu berjalan mondar-mandir, kedua tangannya bertolak pinggang, dan dadanya terlihat naik turun penuh emosi.
"Salah Mama sendiri tidak mau menolongku. Jika saja Mama mau diajak kerjasama, tidak mungkin aku menyinggung hal ini pada papa!" ketus Sherly yang tidak ingin disalahkan.
"Tch, apa sebenarnya yang kamu mau, Sherly, apa yang kamu inginkan?" tanya Maya geram.
"Bukankah sudah kubilang, Ma? Aku penasaran dengannya. Penampilan Ara sekarang berbeda, dia sangat cantik bahkan bisa berbelanja banyak hal. Aku ingin tahu dari mana dia mendapatkan uang, aku hanya takut jika selama ini diam-diam papa menemuinya dan memberikannya uang. Aku ingin menyelidikinya bukan hanya persoalan aku penasaran saja padanya, Ma. Aku ingin tahu betul-betul jika papaku tidak terlibat dengannya lagi." Sherly berdusta, demi mendapat perhatian sang ibu dia sampai berbohong dengan asumsinya tentang sosok Ara. Padahal dia yakin, selama ini ayahnya tak pernah melakukan hal tersebut. Sherly percaya ayahnya tak lagi berurusan dengan masa lalu.
Maya terdiam mendengar hal tersebut. Dia terlihat mencerna ucapan sang anak dan seperti memikirkannya. Dia mulai duduk di sofa, masih dengan melipat tangan di dada, tatapannya tampak kosong mengarah ke depan.
"Ma, aku hanya ingin membuktikan jika kecurigaanku tidak benar!" tutur Sherly, kembali merayu ibunya. Dia duduk di samping ibunya, sambil mengusap paha sang ibu dengan cengkraman pelan.
Maya memejamkan mata sekilas, satu tangannya memijat pangkal hidungnya akibat rasa pusing yang tiba-tiba mendera. Dia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya bertanya, "Apa yang ingin kamu ketahui? Bantuan apa yang Mama bisa lakukan untukmu?"
Perlahan senyum Sherly merekah. "Tak banyak, aku hanya ingin tahu nama lengkap, tanggal lahir dan juga fotonya."
"Mau apakan semua hal itu?" tanya Maya penuh selidik.
"Aku hanya ingin mencari tahu di mana dia tinggal. Temanku akan membantu," kata Sherly percaya diri begitu antusias.
Maya tiba-tiba berdiri, wanita itu tampak mendesah kasar lagi. "Mama tidak tahu tanggal lahirnya, namanya pun yang Mama tahu hanya Arabella. Tapi untuk fotonya, Mama menyimpannya. Mama pernah diam-diam bertemu dengannya di suatu tempat dan memotretnya. Kamu memang benar, Sherly, dia memang terlihat lebih cantik sekarang," simpulnya dengan rumit.
"Kenapa Mama tidak menceritakan selama ini padaku?" tanya Sherly memekik.
"Karena bagi Mama itu tidak penting," sahut Maya masih ketus.
"Boleh aku minta fotonya sekarang juga?" tanya Sherly mendesak.
Maya mengangguk, dia segera mengeluarkan telepon genggamnya. Dia mengotak-atiknya galeri yang menyimpan foto-foto. Sedikit lama saat dia harus men-scroll layar sampai bawah karena dia memotretnya sudah lama.
Setelah dia menemukannya, Maya langsung mengirimkan foto itu pada anaknya. "Meskipun sedikit blur, tapi itu tetap jelas jika hanya untuk melihat wajahnya."
Tersenyum senang, Sherly segera membuka teleponnya. Dia melihat foto-foto Ara yang dikirimkan sang ibu. Tak membuang waktu lagi, dia segera mengirimkannya pada temannya. Tak lupa dengan nama Arabella. Sherly benar-benar meminta tolong temannya itu untuk menemukan alamat Ara, meskipun dengan sedikit info yang dia miliki.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Maya menatap anaknya penuh selidik.
"Aku akan menyelidikinya, Mama. Aku harus memastikan jika dia benar-benar tidak berhubungan dengan papa. Setelahnya, kita lihat saja dulu apa yang akan terjadi," tutur Sherly tersenyum penuh arti.
"Jangan sampai papa tahu, dan jika sudah terbukti tidak ada sangkut pautnya dengan kita, hentikan rasa penasaranmu, Sherly. Jangan sampai kamu mempunyai masalah dengannya. Mama tidak ingin terlibat dengan masa lalu," ungkap Maya memelas dengan rasa frustasi.
"Tentu saja, Mama. Aku tidak akan--"
Tok... Tok... Tok...
Belum sempat Sherly menyelesaikan ucapannya, pintu kamar diketuk dan suara ayahnya terdengar memanggil. Praktis Sherly langsung menatap ibunya dengan mata yang melebar.
Maya hanya memejamkan mata sekilas, lalu beranjak membuka pintu yang terkunci. "Pa," panggilnya lirih.
"Apa kalian baik-baik saja, kalian tidak bertengkar, kan?" tanya Arya menatap dua wanita berbeda usia di depannya itu dengan cemas.
"Ya, aku hanya memberikannya sedikit nasehat." Maya segera merangkul lengan Arya dengan manja. "Tolong lupakan apa yang dikatakan Sherly tadi, ya," pintanya dengan lembut.
Arya mengangguk, meskipun dia tidak puas dan sangat ingin tahu dia memutuskan untuk tetap diam sambil menyimak. Dia akan mengamati kenapa tiba-tiba Sherly menanyakan soal Ara, dan sikap istrinya yang mendadak marah tadi.