
Sherly duduk di teras, udara malam yang dingin tak membuatnya ingin masuk ke dalam. Dia mendengar bagaimana ibunya dan ayahnya bertengkar tadi, dan melihat kepergian mereka masing-masing. Sherly khawatir, dan juga penasaran dengan apa yang telah terjadi.
Dia baru saja menyesap susu panasnya yang dibuatkan oleh pembantu rumahnya, ketika melihat mobilnya masuk ke pekarangan rumahnya. Cepat-cepat, Sherly meletakkan kembali gelasnya, dan menghampiri ibunya yang turun dengan wajah marah.
"Ma, ada apa?" Tentu saja, hal ini membuat Sherly heran. Dia segera menggandeng sang ibu untuk masuk ke dalam. Terus memepet agar ibunya itu cepat mengungkapkan apa yang telah terjadi kepadanya.
Maya masih belum menjawab, hanya menggeleng dengan helaan napas kasar. Wanita paruh baya itu bahkan memegangi kepalanya selama berjalan naik menuju kamarnya. Dia masih membiarkan Sherly membuntutinya tanpa berniat mengusir.
Tepat ketika dia sampai kamar, Maya menjatuhkan dirinya kasar di sofa. Wanita itu memejamkan mata, dengan tangan lunglai di sebelah pahanya masing-masing.
"Ma," panggil Sherly sekali lagi. Menatap ibunya dengan cemas.
Hal ini membuat Maya akhirnya mau membuka mata. Mau tak mau, dia menoleh untuk menatap sang anak. "Aku tahu kamu penasaran, Sherly. Tapi tidak bisakah kamu menyimpan pertanyaanmu itu untuk besok? Aku benar-benar merasa kesal sekarang."
"Sayangnya ... tidak," jawab Sherly tersenyum meringis.
Maya mendesah, dia menepuk bagian sofa di sebelahnya. Lalu setelah anaknya duduk di sampingnya, dia segera berkata, "Papamu benar-benar keterlaluan."
"Kenapa?" tanya Sherly mengangkat sebelah alisnya.
"Ternyata, selama ini pergerakanmu diawasi oleh papamu. Papamu tahu semua hal yang kamu lakukan bukan dari Diana, melainkan dari dirimu sendiri." Maya menjelaskan meskipun rasanya masih sangat enggan.
"Aku?" beo Sherly dengan bingung.
"Ya, Sayang. Ternyata dugaan kita salah, bukan Diana atau Ara yang melaporkanmu pada papa. Tapi papa memang benar-benar tahu sendiri." Maya mendesah kasar. "Ah, kita bodoh karena bertindak gegabah. Sekarang papamu marah karena kitanya mendatangi rumah Diana."
"Lalu bagaimana sekarang, Ma?" tanya Sherly ikut panik.
"Entahlah, tapi Mama sempat marah tadi saat papamu berkata akan ke sana meminta maaf. Mama kira tadi papa pergi ke sana, tapi setelah kususul dia tak ada di sana. Mama malah bertengkar dengan Diana dan anaknya!" desah Maya frustasi.
"Mama bertengkar?" pekik Sherly terkejut dengan mata yang melotot.
"Iya, Ara benar-benar bersikap kurang ajar padaku. Ah, entah kenapa aku sangat dendam pada mereka. Ingin sekali ku cabik-cabik mereka agar tak ada lagi di dunia ini. Mama benar-benar ingin mereka lenyap saja agar tak menjadi gangguan pada keluarga kita." Gigi Maya bergemeletuk saat dia mengatakan kalimat tersebut. Jelas sekali, amarahnya yang begitu menggebu.
Sherly yang melihat itu, ikut merasa geram. Membayangkan ibunya dikeroyok dua orang, membuat hatinya ikut memanas. Tanpa sadar, tangannya terkepal dengan kuat.
"Kita harus membalas perlakukan mereka, Mama. Mereka benar-benar tak bisa diampuni lagi!" geram Sherly dengan suara yang lirih penuh dendam.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Maya, mengerutkan dahi dalam menatap sang anak.
Sherly tersenyum. "Mungkin mencelakai mereka, agar mereka menjadi jera dan tahu berhadapan dengan siapa. Serahkan semuanya padaku, Mama, aku akan mengurusi semuanya."
"Jangan gegabah, Sherly, apa kamu tidak ingat jika kamu diawasi oleh papamu?" pekik Maya, khawatir.
"Aku tidak akan bodoh menunjukkan diriku terang-terangan, Mama. Santai saja," katanya penuh percaya diri dengan senyuman miring yang menyimpan kelicikan.
***
Lelaki itu ternyata tidak pergi ke rumah Diana seperti yang dipikirkan oleh Maya. Nyatanya, dia pergi ke kantor untuk menenangkan dirinya sendiri.
Dia tengah memikirkan, langkah apa yang harus dia ambil. Haruskan dia menemui Diana dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi? Atau malah tetap diam, seolah seperti tidak tahu apa-apa?
Hati Arya bimbang, dia tak tahu bagaimana dia memutuskan. Karena mau bagaimanapun, melihat bagaimana kehidupan Diana sekarang membuatnya malu. Dia seperti tak mempunyai wajah untuk bertemu dengan masa lalunya lagi. Terlebih, dia pernah menyakiti wanita itu terlalu dalam.
Rasa penyesalan masih menghuni relung hati Arya, yang membuat hidupnya tak bisa tenang meskipun kebahagian selalu hadir di keluarga barunya. Rasa bersalahnya pada Diana dan anak-anaknya, membuat Arya tak bisa menjelang kehidupan dengan normal selama ini.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" desah Arya dengan embusan napas panjang begitu frustasi.
Lelaki paruh baya itu akhirnya bangun. Duduk dengan kepala menunduk dan tangan saling bertautan terlihat gelisah.
Tak berselang lama, Arya mengeluarkan teleponnya. Dia memencet nomor Marwan, dan menghubunginya. Panggilan itu berdering, seirama dengan detak jantung Arya yang saat ini merasa tidak tenang.
"Halo, Tuan, ada apa?"
Pertanyaan Marwan dari seberang membuat Arya mendesah panjang lagi. Lelaki paruh baya itu menyandarkan tubuhnya dengan lelah di sandaran sofa, dengan mata yang terpejam.
"Aku ingin minta bantuanmu lagi, Marwan," pinta Arya. Suaranya terdengar seperti orang yang sangat putus asa.
"Saya mendengarkan Anda," sahut Marwan dari seberang terdengar sigap.
Tanpa sadar, Arya tersenyum tipis. "Mulai sekarang bisakah kamu menghentikan istri dan anakku jika mereka kembali mendatangi rumah Diana?"
"Tuan," panggil Marwan, seolah ingin memastikan.
"Hentikan mereka, aku minta kamu melindungi Diana atau Ara. Aku akan membayarmu lebih untuk hal ini, Marwan. Tapi pastikan, jika istri dan anakku tak akan menyentuh mereka lagi," pinta Arya lagi, seperti memohon.
"Baiklah, Tuan. Jika itu yang Anda inginkan, saya akan melakukannya mulai sekarang," sahut Marwan menjawab.
"Terima kasih, Marwan," tutur Arya kemudian, memastikan panggilan telepon tersebut.
Lelaki paruh baya itu mengembuskan napas panjang. Menatap meja di hadapannya dengan pandangan kosong. Hampir beberapa menit, dia hanya terdiam seperti itu. Sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak dan pergi dari sana.
Arya keluar dari kantor, mengemudikan mobilnya untuk pergi dari sana. Tetapi, bukan rumah tujuannya saat ini. Melainkan alamat yang dia dapatkan dari Marwan beberapa hari yang lalu.
Jantung Arya berdegup kencang, entah kenapa hanya memikirkan Diana saja membuatnya sangat merindukan wanita itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa hal ini terjadi, tapi Arya baru saja sadar jika dulunya dia pernah mencintai wanita itu.
Mobil Arya terhenti di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Diana. Lelaki paruh baya itu tak berani melajukan mobilnya mendekat kembali karena tak ingin posisinya diketahui.
Mata Arya menatap nanar rumah tersebut. Dadanya terasa sesak, yang membuatnya tidak bisa bernapas dengan normal.
"Maafkan aku, Diana," gumamnya kemudian penuh penyesalan. Dia terlihat begitu tertekan saat ini.
"Maafkan Papa juga, Ara, Keisha dan Khanza. Papa sangat merindukan kalian." Arya terus berbicara sendiri, menyampaikan kegelisahannya yang selalu membuat hidupnya tidak tenang itu.