I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 13



"Bunda, Ara mau menjadi model! Atau MUA!" pekik Ara kecil, suaranya yang cempreng terngiang-ngiang di kepala Ara sekarang, membuatnya semakin terisak dan menangis sesenggukan.


"Ayah akan memenuhi semua permintaan Ara," timpal Arya yang kala itu masih menjadi ayah yang baik untuk Ara.


"Ara mau sekolah di luar negeri, boleh, Ayah?" tanya Ara harap-harap cemas, bola matanya yang besar dan indah itu menatap lekat-lekat Arya.


Arya mengangguk riang. "Tentu, Sayang!"


Ara menjerit bahagia kemudian memeluk erat Arya dan Diana. "Terima kasih, Ara harap semoga mimpi Ara akan terwujud nanti," ucapnya yang langsung diamini oleh kedua orang tuanya.


Nahas, mimpi itu hanyalah mimpi saja, tidak terealisasikan. Ara tidak lanjut sekolah ke luar negeri, Ayah yang menjadi cinta pertamanya berhasil membuat dia dan Bunda terluka. Kehidupan langsung berubah drastis. Ara yang ceria dan manja terpaksa bermetamorfosis menjadi Ara yang pendiam dan dewasa.


Luntang-lantung sana-sini mencari pekerjaan pernah dialaminya, menghadapi Diana yang depresi hingga menangis setiap malam telah dia lalui. Memenuhi kebutuhan adik-adik yang masih kecil sudah Ara lakukan. Bekerja keras berangkat pagi pulang malam menjadi rutinitasnya setiap hari. Bahkan, menjual kehormatannya menjadi penyesalan terbesar yang kini menghantuinya. 


Sesekali Ara berpikir, kenapa dia bisa menjual dan begitu murahan seperti ini hanya untuk menghidupi keluarganya? Bukankah penghasilan dari salon pun cukup untuk kebutuhan sehari-hari?


Ara menyesal, kenapa dia terlalu buta akan dunia yang penuh maksiat ini, dia terlalu senang akan uang dan selalu ingin memiliki apa yang dia inginkan, serta memenuhi semua kebutuhan keluarga dengan berlebihan tanpa merasa kekurangan hanya karena amarahnya pada ayahnya yang telah menelantarakan mereka.


Disatu sisi Ara merasa bahagia saat dia mampu menjadi kakak yang dapat membahagiakan adik-adiknya dan berguna untuk bundanya. Namun, disisi lain Ara merasa sangat berdosa mengingat caranya mendapatkan semua kemewahan tersebut.


"Tidak Ara. Bukan simpanan, kamu kekasihnya, wajar saja kekasihmu memberimu semua itu." Kalimat yang selalu Ara ucapkan pada dirinya agar bisa sedikit mengurangi rasa bersalahnya atas apa yang dia lakukan.


Menganggap diri sebagai pacar, melakukan semua itu dan diberikan kemewahan oleh pacar adalah hal biasa. Itulah yang berusaha Ara yakini saat hatinya terasa sesak menyandang status sebagai simpanan.


TING!


"Barusan aku bertemu klien sebentar, beberapa langkah lagi aku sampai. Kamu sudah ada di dalam?" tulis Al.


Ara segera menjawab, "Sudah."


Ara lari terbirit-birit ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang sembab karena menangis, lalu melapisinya dengan make up supaya sedikit tersamarkan sehingga dia lebih segar wajahnya.


Dengan polesan tipis saja Ara sudah terlihat begitu cantik. Bulu mata yang sudah lentik alami tidak perlu dia pakai alat penjepit, bibir yang sudah merah membuatnya cukup mengolesi lip-tint seuprit biar lebih segar lagi. Kulitnya yang sudah putih berseri tak terlalu butuh foundation banyak-banyak. Terlebih pori-porinya yang kecil menambah kesan dia begitu mulus tanpa cela sedikit pun dari segi fisiknya.


"Oke," ucap Ara sembari membuang napas perlahan.


Jantungnya kembali berdetak kencang tak keruan. Antara senang dan gelisah semua bersatu membuatnya merasa gerah. Segera dia turunkan suhu AC di ruangan itu supaya lebih sejuk.


KLEK!


Pintu terbuka. Ara segera menoleh ke ambang pintu, tampaklah pria yang selama ini dia rindukan kehadirannya. Pria tinggi dan nyaris sempurna yang berhasil membutakan dia. Pria yang membuatnya rela memberikan apa saja. Pria yang menjadi tempatnya bermaksiat. Pria yang menjadi perantara dia masuk neraka, jika belum sempat taubat sebelum sekarat.


"Al," lirihnya pelan.


Pria bule itu tersenyum, wajahnya semakin terlihat tampan ketika dia memberikan senyuman. Ara berlari kecil, kemudian memeluknya pelan. Al memejamkan mata, dan menerima pelukan hangat dari wanita simpanannya.


"Aku merindukanmu."