I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 52



"Jadi, kamu melihat jika anakku datang ke sana lagi?" tanya Arya, menatap Marwan lekat dengan tubuh yang sedikit kaku. Lelaki paruh baya itu benar-benar tak percaya, jika peringatannya kala itu diabaikan begitu saja oleh Sherly.


"Ya, Tuan. Bahkan, istri Anda juga. Mereka masuk ke dalam rumah itu selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi dengan terburu-buru," sahut Marwan dengan tegas. Dia bahkan memberikan beberapa lembar foto yang sejak sore tadi dia simpan di saku jaketnya.


Embusan napas panjang yang terdengar begitu lelah keluar dari bibir Arya. Lelaki itu mengulurkan tangan untuk memijat pangkal hidungnya akibat rasa pusing yang tiba-tiba mendera. "Ya, Tuhan!" desahnya terlihat stres.


"Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam?" tanya Arya lagi penasaran.


"Tidak, Tuan," jawab Marwan menggeleng. "Saya tidak berani masuk lebih dekat, yang ada posisi saya diketahui nantinya. Saya hanya memantaunya dari jarak pandang yang terlihat saja," imbuhnya memberikan penjelasan.


"Seharusnya kita pasang alat penyadap saja agar bisa tahu apa yang mereka bicarakan!" decak Arya mendesah napas kasar.


Marwan hanya tersenyum tipis melihatnya. "Itu terlalu beresiko, Tuan," katanya mengingatkan. Lelaki yang usianya lebih muda dari pada Arya itu, tampak meraih gelas coffee di hadapannya dan menyesapnya pelan.


"Baiklah, Marwan. Lanjutkan pekerjaanmu, sepertinya aku harus pulang sekarang dan mengurus semuanya," tutur Arya kemudian setelah lama terdiam.


Lelaki paruh baya itu memanggil seorang pelayan untuk membawakan bill. Setelah selesai membayarnya, Arya berpamitan untuk pergi dari restoran tempat pertemuannya dengan sering detektif swasta yang dia pekerjakan itu.


"Terima kasih, Tuan, selamat malam!"


Arya hanya mengangguk membalas sapaan Marwan. Setelahnya, dia segera beranjak untuk pergi. Lelaki itu langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah. Sepanjang jalan, hatinya selalu merasa gelisah dan tidak tenang.


Ingin sekali Arya menyimpan hal ini untuk dirinya sendiri, mencoba mengabaikan dan bersikap semuanya baik-baik saja. Tapi saat dia sampai di rumah, dan melihat wajah sang istri, rasa kesal yang sejak tadi ditahannya mulai meledak tak tersimpan lagi.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Maya yang melihat wajah sang suami terlihat marah sejak masuk ke dalam rumah tadi. Bahkan lelaki itu sedikit mengabaikan dirinya.


Arya tak menjawab, semakin menjauhi Maya dan ingin menyendiri. Bahkan setelah mandi, dia hanya duduk di balkon kamar tanpa berniat turun untuk makan malam atau menyapa sang anak, Sherly.


Tentu saja hal ini membuat Maya merasa geram. Wanita itu tidak tahan lagi dengan sikap sang suami yang tiba-tiba berubah secara mendadak. Dia menyusul Arya ke balkon dengan wajah yang cemberut menahan kesal.


"Kamu ini kenapa, sih? Kamu mengabaikanku sejak tadi. Apa mulutmu itu tertempel lem sehingga tak bisa bicara?" tanya Maya dengan ketus.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Arya. Lelaki paruh baya itu masih diam, tak berniat untuk menjawab. Hanya semakin sibuk dengan gadgetnya untuk membaca berita online.


Maya yang melihat itu langsung menyahut benda itu dengan kasar. Dia menatap tajam sang suami. "Mas!" panggilnya dengan suara yang sedikit membentak.


Tentu saja hal ini menguat kesabaran Arya berada di ambang batas. Lelaki itu tak tahan lagi untuk membalas tatapan sang istri dengan tajam. "Apa maumu, Maya?" tanyanya menggeram.


Jantung Maya berdegup kencang. Sikap Arya entah kenapa membuatnya takut. Tapi rasa penasarannya akan diamnya lelaki itu membuatnya mendesak lebih dalam untuk terus bertanya, "Kamu kenapa, hah?"


"Ya mana aku tahu kalau kamu tidak mengatakannya!" ketus Maya, muki mengalihkan pandangan karena tidak tahan ditatap seperti itu. Rasanya menjengkelkan, tapi juga menakutkan.


"Apa yang kamu lakukan hari ini?" tanya Arya lagi.


"Aku? A-aku seharian menemani Sherly jalan-jalan di mall. Kami shopping dan berbelanja banyak barang," jawab Maya terkekeh dengan penuh paksa.


"Maya!" panggil Arya menggeram. "Apa yang kamu lakukan beragama Sherly hari ini?" tanyanya, mengulangi kalimatnya.


"Aku tidak ngapa-ngapain, Mas. Kamu ini apa-apaan, sih? Kamu tidak percaya sama aku? Kamu menuduhku berbo--"


"Kamu kira aku tidak tahu jika hari ini kamu datang ke rumah Diana dan melabraknya!" sahut Arya dengan suara dingin, menyela ucapan Maya yang belum diselesaikan.


Tentu saja hal ini membuat jantung Maya berdegup kencang. Dia tak menyangka jika suaminya itu akan tahu hal ini. Maya semakin percaya, jika selama ini ada hubungan antara suaminya dan Diana. Wanita paruh baya itu tak bisa lagi menahan kemarahan.


"Ya, aku memang datang ke sana. Memangnya kenapa? Kamu tidak terima? Apa dia mengadukan hal ini padamu? Jadi selama ini kamu memang masih berhubungan dengannya di belakangku, Mas? Kamu menyelingkuhiku?" Maya berteriak, meluapkan segala tuduhan pada sang suami. Mengeluarkan semua unek-unek yang beberapa hari ini membuat pikirannya selalu berkecamuk.


Arya yang mendengar hal itu terkekeh sinis. Dia mulai berdiri, tangannya bertolak pinggang membelakangi Maya. "Sudah kukatakan, aku tidak pernah berhubungan dengan Diana lagi, Maya. Hanya kamu satu-satunya yang ada di hidupku selama ini. Aku tak pernah mengkhianatimu," katanya menggeram dengan kesal.


"Lalu, kenapa kamu mengancam Sherly? Dari mana kamu tahu jika Sherly membuat masalah dengan putri sialanmu itu?" tanya Maya lagi dengan marah.


Hal ini membuat gigi Arya bergemeletuk, dia berbalik untuk menatap tajam sang istri. "Itu karena selama ini aku mengawasi Sherly! Aku selalu mengawasi semua kegiatannya setelah keluar dari rumah." Arya berbohong, nyatanya sebenarnya dia kegawasi Ara, bukan Sherly. Hanya kebetulan saja yang dia dapatkan. "Siapa sangka, jika aku mengetahui keburukan yang dilakukan Sherly pada saudara tirinya?"


Jantung Mata berdegup kencang, wanita itu merasa gugup sehingga dia hanya bisa menunduk dengan pandangan tak beraturan. Dia masih syok, mengetahui fakta jika selama ini suaminya itu tahu gara-gara mengawasi Sherly, bukan tahu semuanya dari mantan rivalnya itu.


"Aku sudah memperingatkannya agar tidak bertindak lebih. Tapi kamu salah paham dan semakin merayunya untuk jatuh lebih dalam ke jurang. Kamu bodoh, Maya! Kamu menghancurkan anakmu sendiri! Aku tak jadi respect padamu. Kini aku malah kasihan pada Diana karena dia tidak tahu apa-apa." Arya bermonolog sendiri, terus berbicara meskipun dia tahu tak akan mendapat balasan. Lelaki paruh baya itu berkali-kali mendesah kasar, seolah berusaha agar dirinya kembali tenang dan tak kalap untuk marah.


"Karena kamu yang memulai, sepertinya aku harus menurunkan harga diriku untuk meminta maaf pada Diana dan Ara," kata Arya kemudian.


Praktis, kalimat itu langsung membuat kepala Maya mendongak. Dengan raut wajah yang masih kesal, dia menatap Arya tajam. "Kamu mau menemui mantan istrimu itu, Mas?" tanyanya dengan dada yang sudah naik turun akibat napas yang memburu.


"Ya, bukankah aku harus tanggung jawab atas tindakan licikmu bersama Sherly pada mereka? Jika kamu tidak ingin aku menemuinya, seharusnya kamu tidak boleh bertindak bodoh seperti ini!" ketus Arya. Seumur-umur hidup dengan Maya, baru kali ini dia bertengkar dengan wanita itu. Entah kenapa, saat ini rasanya Arya begitu muak dengan kelakuan istrinya itu.


"Aku tidak akan mengizinkan kamu, Mas. Aku tidak memperbolehkan kamu menemui wanita itu lagi!" teriak Maya panik. Rasa marah dan takut bercampur menjadi satu.


"Terserah kamu!" balas Arya, yang langsung pergi dan mengabaikan Maya begitu saja.


"Mas ... Mas Arya! Kamu tidak boleh melakukan itu, Mas. Mas Arya, kembali!" Maya terus berteriak, mencoba menahan sang suami agar tidak pergi. Meskipun suaranya sudah berubah menjadi serak, hasilnya tetap saja sia-sia.