
Hati Ara sangat sakit, dan tangisnya pecah membasahi pipi. Wanita itu berlari turun ke lantai bawah. Menuju balkon apartemen dan mengunci pintunya begitu saja. Tubuh Ara terjatuh di pojokan dekat teralis. Terduduk di lantai, dan dia segera memeluk lututnya sendiri dengan erat.
"Kamu jahat, Al ... kamu jahat!" lirih Ara terisak dengan suara yang serak.
Tubuhnya bergetar menahan tangis, dan dia menyembunyikan wajahnya di sela-sela tangannya. Ara benar-benar terlihat sangat terpuruk dengan sikap Al barusan. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, jika Al akan kalap dan menamparnya seperti tadi.
"Aku hanya berniat membantu orang, tapi kenapa kamu begitu salah paham dan bersikap kasar seperti ini? Apa kamu tidak percaya padaku jika aku akan terus menjaga hatiku hanya untukmu?" Wanita itu bergumam sendiri, mengeluhkan semua perasaan sakit hatinya. Sesekali menarik napasnya dalam saat dadanya mulai terasa sesak.
"Apa kamu kembali hanya untuk memarahiku seperti ini?" Ara terus bergumam, mencurahkan kekesalannya pada langit yang mendung seperti perasaannya saat ini.
Angin berhembus kencang, menerpa tubuh Ara dan terasa begitu dingin. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Tapi Ara benar-benar tak peduli. Yang dia inginkan saat ini hanyalah terus menangis, melepaskan kesedihannya yang begitu dalam, berusaha untuk menenangkan diri dan menerima semua sikap Al barusan.
Wanita itu benar-benar terlihat menyedihkan di pojok balkon dengan kepala menunduk. Dan tanpa disadari Ara, ternyata Al sejak tadi berdiri di dekat pintu. Lelaki itu menatap Ara dari kaca pintu, mendengarkan semua keluhan yang diucapkan oleh Ara. Tapi dia hanya diam, tak berusaha bergerak ataupun beranjak. Entah apa yang dipikirkan saat ini.
***
Di sisi lain, di tempat berbeda. Diana tampak mondar-mandir di depan rumah. Raut wajahnya terlihat cemas, sesekali dia melirik ke arah telepon genggamnya dan berusaha menghubungi seseorang.
"Apa yang Bunda lakukan di sini?"
Sampai sebuah suara mengejutkan Diana. Dia terlihat kaget saat melihat si kembar ternyata sudah pulang. Segera dia memasang wajah penuh senyuman.
"Kalian sudah pulang?" sambut Diana.
Di kembar mengangguk, dan kembali bertanya, "Apa yang Bunda lakukan? Kenapa Bunda terlihat gelisah?"
Embusan napas panjang keluar dari bibir Diana. Wanita paruh baya yang terlihat anggun itu merangkul anak-anaknya masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di ruang tamu, dia duduk dengan perasaan campur aduk.
"Kak Ara? Memangnya kenapa dengan kak Ara, Bun?" tanya Keisha.
"Kakak kalian tadi pulang sebentar. Tapi baru saja duduk, dia mendapat telepon dan terlihat panik. Hal ini membuat Bunda cemas. Apalagi sampai sekarang kakakmu tidak menjawab telepon Bunda. Bunda takut ada hal buruk yang terjadi padanya," tutur Diana mengungkapkan kecemasannya.
Hal ini membuat si kembar ikut merasa sedih. Mereka berdua langsung duduk di sebelah kanan dan kiri ibunya, dan reflek masing-masing memeluk ibunya.
"Tenangkan pikiran, Bunda. Mungkin saja kak Ara memang ada masalah, tapi kita berdoa saja jika semuanya baik-baik saja. Nanti Keisha bakal bantu Bunda buat hubungi kak Ara, ya," kata salah satu si kembar, mencoba menenangkan ibunya.
"Iya, Bun, jangan terlalu khawatir. Kalau ada apa-apa, pasti kak Ara akan bilang pada kita. Jangan terlalu dipikirin, ya. Sebentar lagi kak Ara pasti telepon Bunda," sahut Khansa, si kembar yang lainnya.
Diana yang mendengar kata-kata bijak anak-anaknya mulai tersenyum. Dia membalas pelukan si kembar dengan penuh kasih sayang. "Kita doakan saja, ya, semoga memang kakak kalian baik-baik saja dan tak ada masalah."
"Amin," jawab si kembar bersamaan.
Hal itu membuat Diana terkekeh. Perasaannya mulai sedikit tenang setelah kedatangan si kembar. Tak bisa diragukan, memang setiap ibu pasti selalu merasa gelisah jika terjadi sesuatu pada anaknya. Dan sepertinya Diana memang bisa merasakan jika saat ini Ara tengah ada masalah.
Meskipun begitu dia berusaha untuk tetap tenang untuk si kembar, agar anak-anaknya itu tidak terlalu tahu tentang kecemasannya.
"Oh, ya, kakak kalian tadi membawa hadiah, lho." Akhirnya, Diana mengalihkan pembicaraan agar dirinya tak selalu terfokus memikirkan anak sulungnya itu.
Melihat si kembar memekik penuh semangat dan mulai menanyakan hadiah itu, membuat Diana beranjak dan merasa senang.
Ara, semoga semuanya baik-baik saja. gumam Diana dalam hati.