
Ara mendesah kasar, sambil membanting tubuhnya bersandar ke sofa. Dia melipat tangannya di dada terlihat kesal. Berkali-kali dia membuang napas panjang, tetapi tetap saja dia merasa tidak tenang.
"Semoga saja aku tidak pernah bertemu dengannya lagi," gumamnya lirih.
Mengingat pertemuannya dengan Sherly barusan membuat hari Ara menjadi buruk. Amarahnya datang begitu saja, yang membuat dirinya menjadi gelisah sejak tadi. Entah kenapa, hatinya juga terasa panas bagaikan bara api dari neraka.
Dia baru saja menenangkan diri, ketika teleponnya berdering. Ara meraih benda persegi panjang itu di meja, dan langsung mengangkatnya ketika melihat nama orang kepercayaannya di salon memanggilnya.
"Halo, Rina, ada apa?" tanya Ara to the point begitu panggilan itu tersambung.
"Mbak, ada pelanggan rese datang ke salon. Aku dan para pegawai salon lainnya tak bisa menanganinya lagi karena dia sangat keras kepala," jawab Rina dengan suara yang gemetar dari seberang telepon.
"Apa kamu sudah memanggil satpam?" tanya Ara lagi memastikan.
"Sudah, Mbak, tapi pelanggan itu malah menghajar pak Tomo sampai babak belur. Mbak ke sini saja ya, tolong ... kami tidak tahan lagi."
Ara baru saja akan bertanya tentang masalah apa yang sebenarnya terjadi, ketika panggilan itu putus begitu saja. Hal ini membuatnya berdecak, sambil membanting kecil teleponnya ke meja.
"Dasar Rina, aku 'kan belum tahu duduk masalahnya apa. Main matikan teleponnya begitu saja, hih!" gumamnya sendiri dengan gemas.
Merasa jika itu bukanlah hal main-main, membuat Ara mau tak mau beranjak bangun. Dia membayar bill untuk minumannya, lalu mulai pergi dari restoran cepat saji tersebut.
Sesampainya di parkiran, Ara langsung melajukan mobilnya menuju salon. Perjalanan kali ini hanya memakan waktu singkat, karena dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak membuang waktu lagi, Ara segera turun dan m GGasuk ke dalam kantornya. Mulutnya sudah terbuka, akan berteriak memanggil Rina ketika dia melihat seorang lelaki, duduk dengan kaki terangkat di meja sedang berada di ruang tunggu. Terlihat sangat kejam dan tampak sombong.
Pantas saja Rina bilang rese. Ternyata yang datang adalah pelanggan lelaki. Gumam Ara dalam hati.
Rina dan para pegawainya yang lain langsung datang mendekat padanya. Menggeruduk dirinya dan menjadikan dirinya seperti sebuah tameng. Dia maju sendiri, sedangkan para pegawainya malah sibuk berdiri di belakang tubuhnya. Melihat semua itu, membuat Ara berdecak dan memutar bola mata malas.
"Siapa kamu?" tanya lelaki itu, menatap Ara tajam.
"Seharusnya aku yang bertanya siapa kamu? Kenapa berada di sini?" tanya Ara membalas dengan ketus.
"Aku tidak ingin berbicara lagi jika kamu bukan manajer salon ini!" sahut lelaki itu dengan sombong.
Hal ini membuat Ara berdecak. "Kamu bukan hanya bertemu manager, karena saya sendiri pemilik salonnya!" Ara sengaja meninggikan suara, untuk mendominasi lawannya.
"Benarkah? Kalau begitu langsung saja. Aku meminta pelayananmu karena semua pegawaimu tak ada yang mau menggarapku," kata lelaki itu tiba-tiba antusias, bahkan langsung berdiri dengan wajah yang berbinar.
Mendengar itu membuat Ara geram. "Aku juga tidak mau melayanimu, Tuan. Tidak tahukah kamu jika ini salon khusus wanita? Apa kamu tidak bisa membaca tulisan di pintu masuk salon?" sindir Ara menerocos dengan nada tak senang. Jelas sekali dia menunjukkan wajah permusuhan.
"Sayang sekali ... aku tidak bisa membaca!" sahut lelaki itu acuh, lalu beranjak ke kursi salon dan duduk sigap di depan kaca. "Ayo cepat, aku tidak mempunyai waktu bersantai yang banyak."
Gigi Ara langsung bergemeletuk, sambil mengepalkan tangan dia mendekati lelaki yang tidak tahu sopan santun tersebut. "Pergilah, sebelum aku melaporkanmu ke polisi karena membuat kegaduhan!" bentaknya mengancam.
"Oh, ya? Silahkan saja," kata lelaki itu menantang. "Aku juga akan melaporkan satpammu karena membuat wajahku tergores. Dia harus membayar denda dan dijebloskan di penjara. Bagaimana, apa kamu mau hal itu terjadi?"
Napas Ara langsung memburu. Dia melirik satpam salonnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat bagaimana kondisi pak Tomo membuatnya kembali membentak, "Kamu hanya terluka sedikit, tapi lihatlah pegawaiku sampai babak belur. Polisi pasti akan membela pengaduanku."
"Aku hanya melakukan pembelaan, dia yang pertama kali melakukan ini padaku. Kalau kau tak percaya, cek saja cctv-mu. Polisi pasti juga akan sangat senang berpihak padaku karena mempunyai bukti," tutur lelaki itu sombong, tersenyum tipis penuh kesinisan saat menatap Ara.
Hal ini membuat Ara segera mendongak, dia melirik cctv yang terpasang di langit-langit dinding. Jika benar yang dikatakan lelaki itu, tak ada gunanya dia melapor karena ini akan menjadikannya senjata makan tuan.
Ara memejamkan mata, mendadak kepalanya menjadi pusing dengan kedatangan lelaki rese yang tiba-tiba membuat kegaduhan di salonnya itu. Tak mempan diusir halus maupun kasar, membuat Ara akhirnya pasrah untuk menyerah.
"Sebenarnya, apa yang kamu inginkan di salonku?" tanya Ara tampak putus asa dengan kesal.