I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 61



Tok... Tok... Tok....


Suara ketukan di pintu itu, membuat perhatian Al teralih. Tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya, dia mengizinkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.


Al hanya melirik sekilas asistennya yang kini berdiri di hadapannya dengan tablet di tangan. "Ada apa?" tanyanya sedikit malas, masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Ada laporan dari pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Nona Ara," kata Daniel, sekretaris Al.


Mendengar nama Ara disebut, Al merasa sedikit terusik. Lelaki itu mulai menghadap sang asisten, lalu menyandarkan tubuhnya pelan di sandaran kursi kerjanya. "Apa?" tanyanya sekali lagi.


"Nona Ara dilaporkan pulang dua hari yang lalu. Dia ada di rumah dan sama sekali tidak datang ke salon. Tapi hari ini, dia datang ke apartemen. Penjaga bilang, Nona Ara membawa dua tas besar dari apartemen."


Laporan itu membuat dahi Al berkerut dalam. Menerka-nerka apa yang dilakukan wanitanya itu. Dia baru saja meraih telepon khususnya di laci, dan berniat menghubungi Ara, ketika tiba-tiba telepon itu berbunyi dan ada sebuah pesan yang diterima.


Hal ini tentu saja membuat Al menggeram. Dia sudah mewanti-wanti Ara untuk tidak menghubungi dirinya lebih dulu. Kenapa wanita itu bersikeras?


Amarah Al terasa di ubun-ubun. Tanpa membuka pesan tersebut, dia segera menelpon Ara. Dia hanya melambaikan tangan pada Daniel untuk meminta sekretarisnya itu pergi. Dia masih ingin sendiri untuk saat ini.


Dering telepon pertama tidak segera diangkat, membuat Al berdecak. Dan ketika panggilan yang kedua dan baru terhubung, dia segera berteriak, "Kamu melakukan pelanggaran lagi, Ara?"


Al hanya bisa mendengar embusan napas panjang dari seberang telepon. Membuat Al mengerutkan dahi dalam.


"Ara!" panggilnya tegas sekali lagi.


"Al."


Suara lirih dari seberang membuat Al merasa aneh, pasalnya dia seperti mendengar nada yang penuh beban dan terasa enggan.


"Kamu minta dihukum?" Tanpa memperdulikan hal tersebut dan menanggapi Ara, Al kembali membentak wanita itu.


"Maafkan aku ... aku tidak bisa lagi menjalin hubungan denganmu. Aku mundur, dan mari akhiri ini semua."


Suara Ara yang terdengar bercampur isak tangis membuat Al meradang. Tangannya terkepal dengan kuat. 'Apa-apan wanita itu?'


"Apa maksudmu, Ara? Kamu sedang butuh uang lagi?" tanya Al ketus tanpa pengertian.


"Tidak, aku ... aku hanya lelah." Ara menjawab dengan embusan napas panjang lagi. "Aku tidak tahu ke mana kamu akan membawa hubungan ini. Dan rasanya aku tidak bisa terus begini. Maaf jika aku munafik, tapi aku masih ingin mempunyai masa depan, Al. Jika kamu tidak bisa membawaku berjalan kedepan, maka aku minta untuk berhenti saja. Aku lelah menjalani hubungan kucing-kucingan seperti ini. Apalagi dengan aku yang tidak bisa tahu apapun tentang dirimu. Maaf."


Napas Al begitu memburu mendengar hal tersebut. Hatinya bergemuruh penuh amarah. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa lagi dia segera mematikan panggilan tersebut dan membuang teleponnya begitu saja.


"Sialan! Ada apa dengan wanita itu!" makinya mengumpat sambil menggeram.


Tiba-tiba saja, Al berdiri. Lelaki itu berjalan begitu saja keluar ruangannya. Di depan, dia melihat Daniel yang ternyata menunggu di depan pintu.


Hal ini tentu saja membuat Daniel terkejut. Dia dengan cepat menghadang langkah Al. "Maaf, Tuan. Tapi untuk kali ini, Anda tidak boleh pergi. Banyak pekerjaan tertunda yang menanti. Semakin Anda mengulur, maka semakin menumpuk juga. Anda tidak boleh seperti ini."


"Kamu melarangku, Daniel!" ketus Al melirik tajam lelaki yang selama ini menjadi nomor satu yang mengurusi urusannya itu.


"Saya tidak berani melarang, saya hanya mengingatkan, Tuan. Maaf," ucai Daniel menundukkan kepala.


Ingin sekali Al membantah. Dia bosnya, dia bisa melakukan apa saja. Tetapi setelah dipikir-pikir, ucapan Daniel benar jika dia mempunyai banyak pekerjaan. Dia sudah terlalu lama bermain-main bersama Ara, yang membuatnya tak fokus untuk bekerja.


Tetapi, untuk apa dia bersikeras untuk menemui wanita itu sekarang? Bukankah keputusan Ara bagus untuknya? Wanita itu meminta sebuah hubungan pasti, dan Al tak akan bisa menurutinya. Bukankah Ara sudah membuatnya muak, lalu untuk apa mempermasalahkan hal ini. Seharusnya dia senang bukan?


Meskipun begitu, tetap saja Al merasa gelisah. Lelaki itu tak tenang, seolah ada setitik kecil bagian dirinya yang hilang begitu saja. Lelaki itu menghembuskan napas panjang, lalu menyugar rambutnya kasar.


Setelah lama berdiri diam dengan pandangan kosong, lelaki itu akhirnya kembali lagi ke ruangannya. Wajahnya terlihat tertekuk dingin, dengan bibir erat terkunci tanpa mengucapkan sepatah kata sama sekali.


Al membanting pintu kerjanya keras. Lalu berjalan kembali ke kursi kerjanya. Dia mencoba fokus lagi dengan laptop di depannya. Tetapi semakin dia berusaha mengurusi pekerjanya, semakin pula bayang-bayang Ara hadir dalam benaknya.


Lelaki itu menggebrak meja saat lagi-lagi embusan napas kasar keluar dari bibirnya. "Sial!" makinya, lalu melonggarkan dasinya, yang entah sejak kapan terasa mencekik lehernya.


"Wanita bodoh, bukannya kemewahan sudah membuatnya bahagia selama ini? Untuk apa dia mencari sesuatu yang lebih jika aku bisa terus berada bersamanya?" gumamnya, seolah berbicara dengan dirinya sendiri. 


Bukan tanpa sebab, Al memperlakukan Ara sedemikian rupa selama ini. Dia hanya butuh wanita, yang bisa menerimanya tanpa mau menuntut status padanya. 


Al benci mempunyai hubungan. Dia tidak ingin terikat dengan sebuah hubungan yang baginya hanya semu. Hubungan adalah penghancur bagi Al, dan dia sama sekali tak mempercayai. 


Selama dia bisa membeli semuanya, bukankah itu adil jika dia bisa dipuaskan oleh para wanita? Dia bahkan tak segan memberikan banyak uang, pada wanita yang bisa membuatnya nyaman tanpa menuntut status. 


Selama ini, Al memang sering bergonta-ganti wanita. Para wanita yang selalu dia temui sering menuntut status lebih padanya. Bahkan terlalu rewel yang membuat Al malas. Mereka sering kali mengganggunya , bahkan tak tahu malu untuk meminta lebih. 


Hanya Ara yang selama ini menjadi penurut baginya. Wanita itu juga selalu membuatnya nyaman saat bersama. Al benar-benar senang dengan kepribadian Ara yang tidak pernah menuntut lebih, dan benar-benar bisa melakukan segala hal yang telah menjadi aturannya sejak awal. 


Hanya Ara, satu-satunya wanita yang bisa bertahan lama menjalin hubungan dengannya. Dia bisa bersamanya hampir tiga tahun lebih, tak seperti wanitanya lain yang hanya bertahan paling lama tiga bulan. Al menyukai, bagaimana Ara selalu bisa memuaskannya. Baik batin, dan juga fisik. 


Namun, entah kenapa Al merasa tidak suka dengan sikap Ara akhir-akhir ini. Wanita itu sering melakukan kesalahan dan melanggar aturan darinya. Yang lebih membuatnya benci, kini Ara sama seperti lainnya yang menuntut sebuah status padanya. Wanita itu bahkan sekarang dengan beraninya memutuskan hubungan hanya karena dia tak bisa menuruti keinginannya. 


Memikirkan semua ini membuat senyum Al perlahan terbit dengan sinis. Lelaki itu bahkan mengeluarkan suara kekehan lirih. Benar-benar menggelengkan kepala tak percaya dengan sikap Ara. 




Terima kasih untuk pengertian, doa dan dukungannya kak. Maaf kalau nggak sempat bales komen kalian. Sekali lagi terima kasih banyak. Kalian juga jaga kesehatan. Sedikit cerita. Emak kena paru2, akibat rokok. Untuk yang merokok, yok mulai kurangi rokoknya agar nggak jadi kayak mamakku, sekarang komplikasi ke jantung. Beneran rokok bahaya, berhenti sebelum nyesal. Sayang kalian semua.🥰🙏