
Mendengar jawaban dari pilihan yang sudah diputuskan oleh Ekrem Zeeshan, membuat Al tersenyum bahagia. Wajahnya yang semula Murung dan bersedih, seketika berubah sumringah dan dia pun berdiri lalu berjalan menghampiri kakeknya dan memeluknya dengan erat.
"Terima kasih banyak, Kakek. Karena sudah memberikan Restu padaku dan juga Ara. Aku sangat mencintainya dan juga ingin melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius lagi, selama ini aku sering sekali berganti-ganti wanita tapi hanya dengan Ara aku bisa merasa nyaman." Al tidak bisa membendung lagi kebahagiaannya karena pada akhirnya keegoisan kakeknya bisa luluh Karena rasa cinta dan juga sayang lelaki itu pada Al.
Ekrem Zeeshan bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Al, sehingga dia menjadi luluh. Tangannya mendekap erat tubuh Al yang masih memeluknya, betapa dia ingin selalu melihat bahagia. Dan sekarang adalah waktu yang tepat baginya memberi kepercayaan dan juga restunya terhadap keinginan Al.
"Aku berencana akan menikahi Ara dalam waktu dekat, aku sudah bicara kepada orang tuanya dan melamarnya. Rencananya hari ini aku akan kembali ke Turki dan meminta kakek untuk datang ke rumah Ara dan melamarnya secara resmi, maka untuk itulah aku meminta dengan sangat kepada kakek untuk ikut bersamaku ke rumah Ara dan menemui orang tuanya." Al melepaskan pelukannya dan menyampaikan apa yang sekarang dia rencanakan.
Wajah Al menunjukkan keseriusannya terhadap niatnya untuk menikahi Ara, dan Ekrem Zeeshan tak mampu menolak maupun mengecewakan satu hal yang bisa membuat Al bahagia. Akhirnya pria itu mengangguk sambil tersenyum menyetujui permintaan cucunya untuk datang ke rumah wanita yang dicintai oleh Al.
Keesokan harinya Al dan Ekrem Zeeshan, yang ditemani oleh Daniel. Segera berangkat menuju ke rumah Ara, sebelumnya Al mampir dulu ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membawa hantaran lamaran. Terlihat dari barang-barang tersebut dengan harga yang tentu saja mahal dan juga mewah, Al menyiapkan itu tersebut tanpa memberi kabar kepada Ara. Karena hal ingin membuat kejutan untuk Ara dengan kedatangannya bukan untuk pamit pulang ke Turki melainkan datang bersama dengan kakeknya.
Sementara di rumahnya, Ara merasa cemas karena seharian ini Al belum juga memberinya kabar. Padahal sebelumnya pria itu berkata pada arah jika akan pulang ke Turki dan kembali ke Indonesia dengan membawa keluarganya untuk melamarnya secara resmi.
"Kenapa dia belum juga memberi kabar? Jangan-jangan keluarganya menolak permintaannya, sehingga kakeknya Al menahan dia untuk tidak kembali kesini?" lirik Ara sambil memegang ponselnya yang dari tadi tidak juga ada kabar dari Al.
"Jangan berpikiran negatif dulu, mungkin saja Al memang sedang sibuk dan tengah membujuk keluarganya untuk datang ke sini melamarmu. Andai pun dia tidak datang Bunda harap kamu bisa menerima bahwa pria itu bukanlah jodohku. Karena kita tidak bisa memaksakan kehendak jika memang Tuhan tidak meridhoinya," ujar Diana yang memang sedang berada di kamar Ara.
Mendengar ucapan ibunya, tentu saja membuat arak sedih. Tapi dia memang harus bisa menerima kenyataan terburuk sekalipun, sebab arak sadar diri siapa dirinya yang tidak bisa memaksakan kehendak juga keinginannya jika memang Al tidak kembali lagi ke Indonesia dan menepati janji untuk menikahinya.
*
"Apakah barang-barangnya sudah beres semua? Pastikan Jangan sampai ada yang tertinggal, Aku ingin semuanya tertutup dan jangan sampai ada media yang mengetahui. Aku ingin acara ini berjalan dengan sakral hanya keluarga dari kedua belah pihak saja." perintah Al kepada Daniel dan juga orang-orang kepercayaannya.
"Sudah, Tuan. Semuanya sudah dikemas dengan rapi menggunakan tempat sesuai dengan permintaan tuan. mereka sudah memasukkan ke dalam mobil dan kita sudah siap menuju ke kediaman Nona Ara," timpal Daniel yang membukakan pintu mobil untuk Al.
Malam hari saat Al yang ditemani oleh kakek beserta para ajudannya, mereka semua sampai di halaman rumah Ara dan segera keluar dari mobil mereka. Para ajudan Al membawa barang-barang mewah sebagai hantaran lamaran yang sudah Al persiapkan sebelumnya.
"Kakak, di luar ada pangeran Turki. Sepertinya dia datang bersama dengan keluarganya. Cepat bersiap-siaplah, pakai baju yang paling bagus dan jangan lupa dandan supaya cantik." Seru Keizha membuka pintu kamar Ara.
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Keizha, sontak membuat Ara kaget. Karena tidak ada kabar dari Al kalau dia akan datang malam ini ke rumahnya, yang Ara tahu kalau Al mau pulang ke Turki hari ini. Tapi kenapa dia masih ada di Indonesia? Ara segera mengganti bajunya. Dia menyimpan pertanyaan itu, karena sekarang dia harus segera menemui Al yang sudah ada di ruang tamu bersama dengan keluarganya.
"Kedatangan kami kesini untuk maksud dan tujuan melamar nona Ara untuk Tuan Al, atau lengkapnya Tuan Zeeshan Alashraf, cucu tunggal dari Tuan Ekrem Zeeshan." Daniel mewakili Al, yang ditunjuk langsung oleh Ekrem Zeeshan untuk menyampaikan kedatangan mereka ke rumah Ara.
"Terima kasih atas waktunya karena sudah bersedia datang ke rumah kami, sebagai orang tua saya menyerah semuanya pada Ara. Sebab apapun keputusannya saya akan setuju dan menerima dengan siapapun dia menikah, Ara. Apakah kamu menerima lamaran Tuan Zeeshan Alashraf?" Arya bertanya pada Ara yang duduk di samping ibunya.
"Ya, aku menerimanya," lirih Ara dengan suara bergetar, dia menangis saat mengatakannya.
Bahagia, tentu saja itu yang sekarang sedang dirasakan oleh Ara. Dia gak menyangka jika semuanya akan berakhir indah dan sangat mudah, sebab kakeknya Al datang langsung menemani cucunya untuk melamarnya. Seperti yang dijanjikan oleh Al.
"Terima kasih, Ara." Al juga bahagia, karena semua berjalan lancar meski sempat bersitegang dengan kakeknya. Tapi akhirnya Ekrem Zeeshan menyetujuinya dan menemaninya datang ke rumah Ara.
"Selamat ya, kak. Akhirnya kakak akan menikahi dengan pangeran Turki." Keizha berbisik di telinga Ara, sambil memeluknya.
Ara tersipu malu dan balas memeluk kedua adiknya dengan erat, Diana dan Arya juga bahagia. Meski keduanya masih dalam situasi yang belum baik, tapi saat ini keduanya lebih fokus pada kebahagiaan Ara. Dan tidak lagi egois dengan mementingkan urusan mereka berdua.
Selanjutnya mulai dengan pembahasan tentang hari dan tanggal pernikahan, Al yang meminta agar pernikahannya dalam waktu dekat. Dan tentu saja acaranya tertutup, hanya anggota kedua keluarga saja yang menghadiri. Untuk menghindari dari sesuatu hal yang tidak baik.
"Kami menyerahkan semuanya pada Al saja, bagaimana baiknya. Karena ini sangat mendadak dan kami tidak punya cukup persiapan, jadinya bingung sendiri," ujar Diana menyampaikan langsung pada keluarga Al.