
"Apa yang terjadi, Ara? Kamu dari mana? Koper siapa itu?"
Dugaan Ara benar, tatkala ibunya menyelidik tentang dirinya. Andai saja dia tahu jika begini jadinya, lebih baik dirinya tidur di hotel saja tadi.
Wanita itu memaksakan senyum, mendekati ibunya seraya berkata, "Tidak ada apa-apa, Bun. Ara baru saja kembali dari seminar di luar kota. Kebetulan ini koper milik temanku, dia menitipkannya padaku dulu karena dia harus pergi karena urusan mendadak."
"Benarkah itu?" tanya Diana mengamati wajah Ara lekat.
"I-iya, Bun. Bunda nggak percaya sama Ara?" tanya Ara berpura-pura memasang wajah memelas.
Melihat itu membuat Diana menghela napas panjang. Dia tersenyum, lalu merangkul sang anak untuk mengajaknya masuk ke kamar. "Bagaimana dengan seminarmu, apa yang kamu pelajari di sana?" tanya Diana mengalihkan pembicaraan.
"Baik, kok, Bun. Teman-temannya pada baik, Ara belajar banyak selama di sana." Ara tersenyum miris, hatinya terasa sakit saat dia mengatakan kebohongan pada sang ibu. Andai saja ibunya tahu ke mana dirinya pergi sebenarnya, Ara yakin ibunya itu pasti akan jantungan.
"Ceritakan lebih detail, Nak. Bunda ingin mendengar pengalamanmu," pinta Diana lagi, kini membantu menyeret koper Ara. Setibanya di kamar, dia mengajak Ara duduk di tepi ranjang.
"Tapi Ara masih lelah, Bun. Ara ingin istirahat dulu, bolehkah?" tanya Ara memelas.
Hal ini membuat Diana tersenyum. Dia mengusap pipi anaknya itu dengan lembut. "Baiklah, tidurlah kalau begitu. Pulihkan tenagamu agar menjadi segar kembali. Bunda akan memasak makanan favoritmu."
"Terima kasih, Bun. Ara akan tidur di rumah beberapa hari kedepan. Tapi jangan beritahu si kembar ya kalau Ara sudah di sini. Biarkan itu menjadi kejutan," kata Ara, memeluk ibunya sekilas.
Diana mengangguk, dia mengecup kening Ara sebelum akhirnya beranjak pergi dari kamar dan meninggalkan Ara istirahat.
Sayangnya, Ara tidak benar-benar istirahat. Wanita itu hanya membaringkan tubuhnya di ranjang dengan mata terbuka menatap langit-langit kamarnya.
"Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caranya aku menghubungi Al soal ini? Jika aku harus menunggunya menghubungiku, aku yakin itu membutuhkan waktu lama. Oh, Ara ... ayo berpikir!"
Wanita itu bergumam lirih berbicara pada dirinya sendiri masalah apartemen yang selama ini dia huni. Dia tidak ingin kembali di sana, dan bertemu dengan ayahnya kembali. Dia harus minta Al untuk pindah dan membeli apartemen yang lain. Sayangnya dia bingung, bagaimana dia memberitahukan hal ini pada Al karena dia tak mungkin boleh menghubungi lelaki itu lebih dulu.
Ngomong-ngomong soal ayahnya, Ara reflek terbangun. Dia terlihat berpikir, apakah masalah ini harus dibicarakan dengan sang ibu? Tapi entah kenapa rasanya Ara tidak tega, dia tidak mau membuat ibunya kepikiran dan sedih lagi mengingat lelaki bajingan yang menjadi ayahnya itu.
"Ya Tuhan ...," keluh Ara tampak frustasi. Dia kembali membaringkan tubuh, tidur miring sambil memeluk guling untuk mencari posisi nyaman. Sayangnya, meskipun sudah berkali-kali berganti posisi hal ini malah membuatnya tak bisa memejamkan mata.
Ara mendesah, dia akhirnya beranjak bangun dengan malas. Wanita itu memutuskan untuk keluar kamar dan menemui sang ibu yang saat ini ada di dapur.
"Nggak bisa tidur, Bun. Kepala Ara malah pusing," jawab Ara seadanya.
"Mau Bunda buatkan teh hangat? Kamu pasti mabuk kendaraan, ya?" tanya Diana memperhatikan sang anak.
"Iya, Bun. Ara mengalami jet lag karena belum pernah naik pesawat."
"Pesawat?"
Ara menepuk bibirnya sendiri, ketika dia keceplosan mengatakan hal tersebut. Dia memejamkan mata tampak meringis salah tingkah saat ibunya menatapnya lekat dengan sorot mata tajam.
"Bukannya kamu pamit ke Bandung? Apa ada pesawat dari Bandung ke Jakarta?" tanya Diana penuh selidik.
'Berpikirlah, Ara. Cepat cari alasan!' pekik Ara dalam hati.
"Ada Bun, tapi mesti transit. Belum ada yang langsung. Jalur darat lebih cepat daripada pesawat jika dari sana, karena mesti transit. Em ... itu, Bun. Sebenarnya ... sebenarnya Ara dari Surabaya!" pekiknya setelah beberapa saat berpikir dengan gugup.
"Ya, Ara dari Semarang. Kemarin habis seminar Ara mampir ke tempat temen yang ada di Surabaya. Kami berlibur sebentar, dan saat selesai Ara naik pesawat karena tak ingin lelah seharian penuh dalam perjalanan darat," imbuh Ara kemudian mencari alasan.
"Kamu dari Surabaya? Kalau tau gitu, kan Bunda mau ikut. Bunda belum pernah jalan-jalan ke sana," kata Diana.
Untungnya, ibunya itu tak curiga dengan ucapannya. Ara hanya tertawa meringis dengan paksa karena lagi-lagi berbohong pada sang ibu. Dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri yang bodoh.
"Nanti kapan-kapan Ara ajak ke sana ya, Bun," tutur Ara kemudian. "Bunda masak apa, mau Ara bantu?" Wanita itu mulai mengalihkan pembicaraan agar ibunya tak lagi bertanya soal dirinya lagi.
"Bunda masak sayur asem kesukaan kamu dan adik-adikmu," sahut Diana, sambil mengangkat dua buah kacang panjang di tangannya.
Ara terkekeh melihatnya. Dia baru saja akan beranjak mendekati sang ibu, ketika teleponnya berdering. Dengan cepat Ara mengambil telepon tersebut yang ada di saku celananya. Melihat nama Al ada di layar, membuat senyum Ara merekah.
"Apa itu Al, kekasihmu?"
Pertanyaan ibunya membuat Ara mendongak kaget, dia tak menyangka jika ibunya masih ingat nama Al. Reflek, dia langsung menggeleng cepat. "Bukan kok, Bun. Dia cuma temanku. Perempuan namanya Alea."
Setelah berkata seperti itu, Ara cepat-cepat pergi dari sana karena tak ingin ibunya mendengar perbincangannya dengan Al.