
Hampir seminggu, Al benar-benar mengabaikan Ara. Dia menganggap keputusan wanita itu pergi adalah hal yang terbaik. Lagipula, dia sudah tak membutuhkan wanita itu lagi.
Meskipun begitu, hatinya menolak logika yang selalu dia tanamkan pada prinsipnya. Nyatanya, dia malah merindukan wanita itu. Al selalu memikirkan Ara. Bayang-bayang wanita itu selalu menghantui benaknya. Yang entah kenapa membuat Al selalu gelisah, tidak tenang, bahkan terkadang uring-uringan.
Ingin sekali Al menelpon Ara, sekedar mengetahui apa dan bagaimana wanita itu menjalani hari-harinya. Menjanjikan hari untuk mereka bertemu. Atau bahkan bertanya tentang apa yang wanita itu harapkan darinya sebagai hadiah.
Tapi harga diri Al terlalu tinggi. Dia bahkan tak ingin menuruti keinginan hatinya meskipun itu membuatnya tersiksa sekalipun. Al selalu menyanggah, jika semua tentang Ara bukanlah hal terpenting dan patut untuk dilupakan. Nyatanya apa, semakin dia berusaha tak berurusan dengan wanita itu lagi, semakin tergila-gila pula dirinya.
Al mendesah, mengusap wajahnya kasar saat lagi-lagi layar laptopnya malah menampilkan bayangan Ara. Dia bersumpah, jika dirinya saat ini benar-benar telah gila karena wanita itu.
Lelaki itu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Lalu menyandarkan tubuhnya kasar di sandaran kursi kerjanya.
"Daniel." Tiba-tiba dia berteriak, memencet telepon intercom yang tersambung langsung ke ruangan asistennya.
Tak berselang lama, orang yang ditunggu akhirnya muncul. Daniel masuk dengan langkah yang tegas, mendekati Al dengan sikap siaga dengan kedua tangan saling bertautan di depan. "Ya, Tuan."
"Bagaimana kabarnya?" tanya Al tanpa mengalihkan pandang dari pojok ruangannya yang menampilkan vas berisikan bunga lavender.
"Siapa yang Anda maksud, Tuan? Tentang pekerjaan atau...." Daniel tak melanjutkan ucapannya, ketika ditatap Al tajam tiba-tiba. Hal ini membuatnya segera berdehem dan memperbaiki sikapnya. "Maaf," imbuhnya sambil menunduk.
Jika hanya pekerjaan, Daniel yakin jika tuannya itu tak akan langsung bertanya langsung padanya. Jadi dia yakin, yang dimaksud tuannya adalah wanita itu sekarang.
"Nona Ara sudah beberapa hari tidak terlihat di salon maupun apartemen. Tetapi penjaga mengatakan, dia sering keluar bersama ibunya dan adik-adiknya ke mall dan berjalan-jalan," tutur Daniel kemudian.
Dulu, awal sekali, Al tidak pernah ingin tahu tentang Ara. Yang dia butuhkan hanya wanita itu. Selama Ara bisa membuatnya nyaman dan selalu memuaskannya, dia tak akan lagi ingin tahu tentang bagaimana kehidupan wanita itu.
Namun, entah kenapa sejak dua bulan lalu, saat Ara tak sengaja bertanya tentang dirinya, dia malah menjadi penasaran tentang wanita itu. Setelah Al pulang ke negaranya, dia menyuruh Daniel untuk memberikan penjagaan untuk Ara agar dirinya bisa mengetahui keseharian wanita itu.
Setiap tiga hari atau seminggu sekali, Al pasti akan meminta laporan itu. Memata-matai Ara menjadi hal baru yang Al lakukan pada wanitanya. Sebelumnya, dia bahkan tak peduli sama sekali.
Entahlah, dia sendiri pun tak mengerti kenapa dirinya berbuat nekat dan keluar dari prinsipnya sendiri. Padahal dia sudah mewanti-wanti dirinya, agar tak terlibat jauh dalam kehidupan kekasih gelapnya. Dia tidak ingin repot, apalagi jika harus ikut serta dalam sebuah urusan di luar hubungannya.
Al tak pernah mempercayai adanya cinta. Baginya, cinta adalah sebuah perasaan yang rumit. Pun dengan sebuah status mengikat tentang sebuah hubungan. Dia tidak ingin menjalaninya, karena menganggap jika semua itu sia-sia.
Al tidak mau jika dia mempunyai suatu hubungan, maka mereka akan berpisah hanya karena sebuah pertengkaran atau prinsip yang berbeda satu sama lain. Yang mengakibatkan mereka saling membenci dan seperti orang yang tak saling kenal.
Maka dari itu, saat Ara mengatakan jika mempunyai perasaan padanya dan menuntut sebuah hubungan yang lebih, Al langsung pergi begitu saja. Semuanya mengingatkan tentang masa kecilnya yang menyakitkan, yang membuatnya hidup tanpa kasih sayang lengkap dari orang tuanya.
"Apa jadwalku seminggu kedepan?" tanya Al tiba-tiba, setelah terdiam selama beberapa saat. Sudah menjadi kebiasaannya seminggu ini, jika dia mengingat Ara dia pasti akan selalu melamun.
"Tuan harus menemui tuan Tagiwaka dari Jepang. Lalu membahas proyek cabang di Singapore. Menemui klien lama untuk membahas kerjasama baru, dan juga menghadiri pernikahan tuan Samuel di Bali akhir pekan," jelas Daniel cepat tanggap sambil melihat tablet yang ada di tangannya.
Al memejamkan mata, dia menghela napas dengan begitu panjang. Sedetik kemudian, dia mengulurkan tangan untuk memijat pangkal hidungnya karena rasa pusing yang tiba-tiba datang tanpa permisi
"Bagaimana dengan Kendrick? Apa tidak bisa diwakili? Semuanya sudah dalam persetujuan, dan tinggal pertemuan untuk membahas bagaimana kerja sama itu nantinya berjalan. Aku ingin Kendrick yang menghandle semuanya, Daniel. Aku akan pergi minggu ini," kata Al masih dengan memejamkan mata.
Hal ini membuat mata Daniel melebar. "Lagi, Tuan? Untuk menemui Nona Ara?" tanyanya memekik.
Al yang mendengar hal tersebut, lalu membuka matanya untuk melirik Daniel dengan memicing. "Ada apa dengan nada suaramu, Daniel?" tanyanya dengan dingin.
"Maaf," ucai Daniel cepat-cepat. "Saya salah bicara." Tak ingin mendapat amukan, hanya kata itulah yang terucap dari bibirnya. Ingin sekali dia mengatakan ketidaksetujuan. Tapi apa daya, yang ada dirinya akan menjadi bahan bulan-bulanan tuannya saja nanti.
"Kalau bagaimana dengan pesta di Bali?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.
"Itu masih akhir pekan, aku akan mengabarimu untuk hal itu setelah aku mendapat keputusan. Sekarang, siapkan penerbanganku hari ini juga. Aku harus menemui wanita nakalku." Al berbicara tegas, dan saat dia membicarakan Ara, tatapannya begitu tajam.
"Baik, Tuan," sahut Daniel dengan sigap. Lelaki itu segera pamit undur diri, lalu pergi dari ruangan Al.
Kini dia sendiri lagi. Al masih terdiam, dan tak menyentuh pekerjaannya sama sekali. Dia menatap kosong ke arah depan, seolah membayangkan jika Ara ada di hadapannya saat ini.
"Mari kita cari jawabannya, Ara. Apakah kamu memang pilihan tepat, atau hanyalah sebuah debu untuk angin lalu," gumamnya penuh tekad. Entah apa yang dipikirkan Al untuk saat ini, lelaki itu benar-benar tak bisa ditebak sama sekali.
Al mendesah kasar, lalu berdiri tiba-tiba. Dia tidak ingin berada di kantor lagi, dia ingin pulang ke tempat tinggalnya sementara untuk mengambil beberapa barang yang harus dia bawa. Sepertinya, dia akan tinggal sedikit lama di Indonesia kali ini.
Tentunya, untuk mengurusi Ara yang telah membuat hatinya porak-poranda tidak tenang beberapa hari ini.