I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 65



Setelah perjalanan panjang yang dilalui, akhirnya Al sampai di tujuannya, yakni depan salon yang dimiliki Ara sekaligus tempat bekerjanya. Ia pun bergegas keluar dari mobil, ingin segera menemui Ara. Naas, keinginannya tersebut harus dibatalkan tatkala Al mendapati papan bertuliskan ‘Closed’ di depan pintu. Sontak Al langsung mendecih kesal, tidak menduga jika usahanya untuk menemui Ara akan digagalkan seperti itu.


Ia langsung menyenderkan punggungnya pada pintu yang terkunci itu, kemudian merogoh ponsel dari saku. Dengan cepat ia menekan beberapa tombol di ponsel layar sentuhnya, lalu menempelkannya di telinga. Selang beberapa detik, terdengar suara yang menandakan panggilannya terangkat. Tanpa membuang waktu, Al langsung bersuara.


“Cepat cari keberadaan Ara.”


Empat kata sederhana itu terucap dari mulut, sebelum akhirnya Al langsung menutup panggilan sepihak. Setelah itu, ia kembali menyimpan ponselnya di saku, lalu menghembuskan napas panjang. Tangan kanannya mulai memijit pangkal hidung guna menyingkirkan kepenatan yang tiba-tiba menyerang kepala.


Saat ini, pikiran Al sedang kacau. Ia tidak menduga jika kegagalannya dalam bertemu Ara akan membuatnya berubah seperti ini. Jika sebelumnya Al berpikir bahwa hubungannya dengan Ara hanya sebatas hubungan di ranjang, hubungan yang hanya di berlaku dalam ruangan dan tidak akan berlanjut di tempat umum, kenyataannya, sekarang telah berubah. 


Jika dulu Al yang berkata bahwa hubungan mereka tidak akan didasari atas perasaan cinta, maka sekarang Al juga yang menyadari ucapannya itu tidak berlaku. Saat ini, Al sangat merindukan Ara hingga dirinya tidak sungkan keluar dari bayangannya, membuatnya dapat melakukan apapun hanya demi melepas kerinduan pada perempuan itu. Ia tidak lagi peduli jika ada orang lain yang menyadarinya berhubungan dengan seseorang seperti Ara. Karena Al telah memutuskan untuk mencoba terbuka kepada perempuan itu, tidak peduli apa kata orang nantinya.


Selang lima menit, Al mendapati ponselnya bergetar, menandakan panggilan masuk. Tanpa membuang waktu, ia langsung meraih kembali ponselnya, menekan tombol hijau di layar, lalu menempelkannya di telinga.


“Kau sudah menemukannya?”


“Ya, Tuan. Informasi yang saya dapatkan adalah Nona Ara berada di mall terdekat dimana Tuan berada.”


“Kerja bagus.”


Setelah itu, Al langsung memutus panggilan sepihak. Ia tidak lagi bersandar pada dinding, berjalan menuju mobilnya. Karena saat ini ia sudah memiliki tujuan yang akan didatanginya, tempat di mana Ara berada.


“Bawa aku ke mall terdekat sekarang juga,” titah Al ketika sampai di dalam mobil kepada sopirnya. Mobil pun langsung bergerak menuju tujuan. Dan Al harus kembali menunggu sebelum bertemu dengan Ara.


“Tunggu aku, Ara. Aku akan segera menemukanmu,” gumam Al dengan suara pelan pada dirinya sendiri sambil melihat pemandangan diluar jendela, tidak sabar menemui perempuan yang sejak tadi ingin dilihatnya langsung.


***


Mengerti jika tuannya sedang terburu-buru, sopir Al mengendarai mobil dengan kecepatan penuh namun tidak mengurangi keamanan yang ada. Hal tersebut menyebabkan perjalanan yang seharusnya berlangsung selama lima belas menit itu berakhir dalam sepuluh menit. Dalam hati Al mengucapkan syukur karena sopirnya mengerti keadaan Al yang terburu-buru.


Ketika sampai, Al segera beranjak masuk ke dalam mall, tidak memedulikan beberapa pasang mata mulai tertuju padanya sepanjang ia melangkah. Tanpa menutupi identitasnya sama sekali, ia berjalan dengan percaya diri, mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan guna menemukan Ara.


Saat ini, fokus Al hanyalah ingin bertemu Ara sesegera mungkin.


Di waktu bersamaan, Ara telah keluar dari ruang bioskop dengan beberapa pegawainya. Mereka telah selesai menonton, dan langsung membicarakan setiap cuplikan film yang mereka saksikan tadi.


“Aku benar-benar tidak percaya jika akhirnya akan seperti itu! Kupikir semuanya akan menjadi sad ending, tapi si MC berhasil membalikkan keadaan!”


“Kau benar! Aku pun sempat takut jika mereka tidak akan bersatu. Aku turut senang karena perjuangan MC berakhir dengan baik~”


“Hei, apa kau sudah lihat? Katanya ada bule terkenal masuk ke mall ini.”


“Benarkah? Apa dia tampan?”


“Sshh! Tentu saja! Kau pasti tidak akan percaya jika tidak melihatnya langsung. Ayo ikut aku!”


Kening Ara berkerut dalam mendapati beberapa pengunjung perempuan yang semakin banyak bergerombol di satu titik saja. Selang beberapa detik, barulah pegawai Ara yang berada di belakangnya juga ikut keheranan.


“Ada apa ramai-ramai? Apa ada artis yang datang?”


“Mungkin saja?”


Dipenuhi rasa penasaran, akhirnya Ara meninggalkan pegawainya, memilih menyusup masuk dalam kerumunan kaum hawa yang mulai berteriak kagum, mencari tahu sumber perhatian yang membuat kepadatan itu. Setelah mengerahkan usaha sekuat mungkin, akhirnya Ara berhasil membelah kerumunan untuk melihat sosok yang menarik perhatian semua orang. Di saat itulah Ara langsung melebarkan kedua mata, terkejur. Mulutnya pun terbuka tanpa mampu mengucapkan sepatah kata.


Di sana, pria tampan yang dimaksud beberapa perempuan yang didengar Ara sebelumnya adalah sosok yang dikenalnya. Itu adalah Al. Dan dirinya terlihat kalang kabut, sedang mencari sesuatu.


“Aku ingat sekarang! Itu adalah Zeeshan Alashraf, kan? Yang terkenal itu! Bagaimana mungkin dia ada di sini?”


Tidak cukup dikejutkan oleh sosok familiar di depan mata, telinga Ara tidak dapat lepas mendengar bisik-bisik perempuan di sekelilingnya.


Saat itulah Ara mengingat sesuatu. Peraturan yang dibuat oleh Al sendiri, peraturan yang menyatakan jika mereka bertemu di luar, Ara tidak boleh menyapanya. Mereka harus bersikap seperti orang asing yang tidak saling mengenal.


“Itu ... benar. Tidak seharusnya aku di sini. Lebih baik aku kembali bersama yang lain. Aku tidak ingin menghasilkan keributan yang tidak berguna.”


Mengingat wajah Al yang begitu serius saat mengucapkan peraturan, Ara pun memutuskan untuk segera putar balik. Sebisa mungkin ia tidak ingin ditemukan atau pun menemukan Al. Setidaknya Ara akan berusaha agar mereka tidak melakukan kontak mata, seperti orang asing pada umumnya.


Sama seperti sebelumnya, Ara kembali menyusuri kepadatan perempuan yang kian menjadi karena Al semakin dekat kepada mereka. Tidak dapat dipungkiri jika saat ini jantung Ara berdegup kencang, takut jika ketahuan Al. Namun, di saat yang sama Ara juga berpikir jika Al tidak memiliki alasan untuk menemuinya secara langsung di muka umum. Terlebih melihat banyaknya perempuan yang berkumpul, menyerukan nama Al dengan semangat.


Untungnya Ara berhasil melewati kepadatan tadi dengan selamat. Ia pun menghembuskan napas lega, berpikir jika ia telah selamat sekarang. Kini Ara hanya perlu bergabung dengan rombongan pegawainya, dan kembali ke rumah masing-masing.


Naas, keinginan Ara itu tidak dapat dilakukannya ketika telinganya menangkap suara familiar menyerukan namanya dengan keras.


“Ara, tunggu aku!”


Al memanggilnya.