I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 51



"Al," panggil Ara manja, sambil menggeser tubuhnya agar semakin memepet ke arah lelaki itu. Tangannya bergerak menyentuh dada Al yang masih bertelanjang dada, sedangkan kakinya menindih kaki Al dengan sesekali mengusapnya menggoda.


"Ya, Ara." Al sendiri hanya menjawab dengan santai, dia memejamkan mata, merasakan lelahnya akibat kegiatan olahraga malamnya itu. Tangannya sesekali mengusap bahu Ara, dengan lembut.


Ara mendongak. Dia menatap Al dengan wajah penasarannya. "Apakah kita akan selamanya seperti ini, Al?" tanyanya dengan ragu-ragu, sambil menggigit kecil bibir bawahnya.


Praktis mata Al terbuka, dia menunduk sedikit untuk menatap sang kekasih gelapnya itu. Al lalu memiringkan tubuh, untuk berhadapan dengan Ara. "Maksud kamu apa, Sayang?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat.


Embusan napas kasar keluar dari bibir Ara. Dia malah membaringkan tubuhnya terlentang. Kedua tangannya dia gunakan untuk mencengkram selimut di dada yang menutupi tubuh polosnya. Wanita itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang rumit.


"Hubungan kita," jawabnya kemudian setelah menjeda dengan beberapa kali hela napas. "Kita sudah sangat jauh, Al. Hubungan ini sudah terlalu lama. Tapi apakah kita akan terus seperti ini? Maksudku, apakah kita hanya akan menjadi partner ranjang saja tanpa adanya kemajuan? Aku sedikit bosan, aku ingin lebih, aku ingin dirimu seutuhnya, Al." Malam ini, Ara memberanikan diri mengutarakan perasaannya. Dia takut, tapi entah kenapa dia merasa tidak tahan.


"Bukankah kamu memang sudah memilikiku?" tanya Al heran.


"Bukan itu maksudku!" desah Ara. Dia beranjak bangun, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Dia menatap Al dengan lekat. "Aku ... aku ingin mengenalmu lebih dalam, Al. Tak maukah kamu maju untuk hubungan yang lebih serius?" tanya Ara dengan suara sedikit gugup.


Dugaannya benar, Ara bisa melihat wajah Al mengerut tidak senang. Sedetik kemudian, dia hanya bisa merasa sedih tatkala Al mulai bangun dari ranjang begitu saja. Lelaki yang bertelanjang itu dengan cepat meraih celana panjangnya. Dia membiarkan miliknya tertutup tanpa ****** ***** sekalipun, sehingga Ara bisa melihat dengan jelas jika benda itu menonjol.


"Al," panggil Ara kembali. Dia tahu, konsekuensinya jika kekasih gelapnya itu akan marah. Tapi entah apa yang merasuki dirinya, dia ingin sekali membahas hal ini malam ini juga.


Wanita itu mulai bangun, duduk di tepi ranjang dan menghadap ke arah Al. Dia masih tak berniat berpakaian, jadi hanya semakin mencengkram selimutnya dengan erat. "Al, maaf," katanya sekali lagi.


Sayangnya, Al tampaknya benar-benar marah. Tepat ketika lelaki itu berbalik dengan tangan bertolak pinggang, matanya menatap tajam Ara tanpa berkedip sedikit pun.


"Apa kamu mulai tak puas dengan apa yang kamu dapatkan, Ara? Kamu ingin apa lagi dariku?" tanyanya ketus.


Ara memejamkan mata sekilas, dia tak menyangka jika itulah pandangan Al pada dirinya. "Aku hanya ingin kamu, Al!" katanya melunak.


"Jangan melunjak, Ara. Hubungan kita hanya sebatas ranjang. Kamu bahkan sudah menandatangani kontraknya. Bukankah sejak awal sudah kubilang jika jangan membawa perasaan pribadi ke dalam hubungan ini?!" bentak Al panjang lebar.


Tanpa sadar, mata Ara langsung berkaca-kaca. "Jadi, selama ini tak ada apapun di antara kita, Al?" tanyanya dengan suara yang semakin serak.


Al dengan angkuhnya menggeleng. "Ingat posisimu, Ara!" ketusnya dengan rahang yang mengeras.


Lelaki itu terlihat mendesah kasar, lalu mengacak-acak rambutnya yang sejak awal sudah berantakan. Dia menatap Ara dengan ekspresi datar. "Kamu membuat moodku buruk malam ini. Padahal kamu baru saja melakukan kesalahan, bisa-bisanya kamu mengulanginya lagi. Lama-lama aku muak padamu!" Tepat setelah berkata seperti itu, Al beranjak keluar dari kamar sambil membanting pintunya kasar.


Tak bolehkan dia berharap untuk menjalani status yang lebih dari ini? Ara sudah terlanjur mencintai Al, sadar atau tidak, dia telah menaruh semua hati dan harapannya pada lelaki itu.


Tapi apa? Balasannya saja dia tidak dapat, apalagi dengan status yang lain yang dia harapkan.


Sebenarnya Ara takut jika membicarakan hal ini. Mau bagaimanapun, dia tidak ingin membuat Al marah atau meninggalkannya. Tetapi tetap saja, rasanya dia tidak tahan menyimpan rasa ini terlalu lama.


"Bodoh, Ara, kamu memang sangat bodoh!" decak Ara memukuli kepalanya sendiri.


Meskipun logikanya menyalahkan dirinya sendiri, tapi tetap saja hatinya tidak terima. Hati Ara masih saja menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar kebersamaan mereka di atas ranjang. Rasanya hal itu semakin mendesak, dan membuat Ara terpojok dengan perasaannya sendiri. 


Wanita itu menghela napas panjang, menenangkan diri sebentar sebelum akhirnya mengambil baju di lemari. Kali ini, dia tidak berniat mandi. Rasanya dia kedinginan, seperti hatinya yang sekarang membeku. 


Ara keluar dari kamar, dia menyusul Al yang ternyata kini berada di ruang makan. Lelaki itu terlihat menikmati alkohol, sambil menyesap rokok yang menyala. 


Melihat itu, dia segera mendekat. Ara tak bicara sama sekali. Malah merebut rokok Al dan menyesapnya dengan dalam.


Namun, setelah itu dia merasa menyesal karena rasanya tenggorokannya sedikit tersedak yang membuatnya bernapas tidak normal. Apalagi dengan asap rokok yang keluar dari hidungnya dan terasa sakit. 


Meskipun begitu, Ara tetap angkuh. Dia tak memperlihatkan kesakitannya di depan Al dan menyimpan rasa sakit itu sendiri. 


"Matikan itu sekarang!" pinta Al tegas, melihat Ara dengan tajam. 


"Kenapa? Aku ingin mencobanya, dan ternyata rasanya enak," jawab Ara dengan sebelah alis terangkat. 


"Ara!" Suara Al begitu mendominasi, terdengar tegas dengan nada yang begitu rendah. 


Hal ini membuat Ara mau tak mau mendesah, dia membuang puntung rokoknya begitu saja ke lantai dengan wajah yang cemberut. "Kenapa kamu selalu kabur saat aku membahas hal ini, Al?" tanya Ara dengan hati yang begitu penasaran. 


Lagi-lagi, Al tampak marah. Dia menatap Ara tajam dengan gigi bergemeletuk. "Diam di tempatmu, Ara. Jangan coba-coba untuk melangkah jauh, atau aku tak segan untuk mengakhiri semua ini. Kamu paham?" 


Kata-kata itu sarat akan ancaman. Terdengar begitu menakutkan, dan membuat jantung berdebar kencang. Meskipun begitu, Ara tetap saja tidak takut. Saking muaknya dia bertahan tanpa kepastian selama ini, membuatnya berbau menggebrak meja kasar dan membalas tatapan Al dengan tajam. Lalu, tanpa berkata-kata lagi, Ara pergi dari ruang makan itu meninggalkan Al sendiri.