I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 58



Di tengah kekalutan Arya, bunyi telepon berdering membuatnya tersentak. Lelaki itu dengan cepat meraih benda persegi panjang itu, melihat nama Marwan membuatnya segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Marwan, ada kabar terbaru?" tanya Arya dengan cepat setelah panggilan itu terhubung.


"Tuan, saya mendapatkannya. Dia sudah bersama kami sekarang." Marwan menjawab dengan suara riang penuh kebanggaan.


"Kamu sudah mengintrogasinya?" tanya Arya lagi.


"Sudah, dan sepertinya tebakan Tuan benar. Dia suruhannya nyonya Maya dan Sherly. Ada bukti pesan chat di teleponnya, berikut dengan transferan uang yang masuk ke rekening," jawab Marwan menyahut.


Jantung Arya berdegup kencang merasa senang. "Bukti sudah ada, segera laporkan ini pada pihak polisi, Marwan."


Namun, setelah dia mengetatkan hal tersebut, dari seberang hanya ada keheningan. Marwan tak bersuara sampai beberapa saat.


"Marwan, kamu mendengarku?" tanya Arya karena tak mendapat sahutan.


"Tuan ... apa Tuan yakin dengan hal ini?" tanya Marwan dengan ragu.


"Tidak, aku sudah mantap. Kelakuan mereka sudah diluar batas. Mereka bahkan berusaha membunuh orang. Aku tak bisa lagi memaafkan mereka sekalipun mereka keluargaku!" Lelaki itu benar-benar tidak main-main dengan ucapannya kala itu. Tak ada lagi rasa simpatinya untuk wanita yang selama ini menjadi istrinya itu. Bahkan, Arya tak memikirkan masa depan untuk putrinya, Sherly.


"Baiklah, jika itu yang Anda inginkan, saya akan melaporkannya sekarang juga."


Arya mengangguk, dengan senyuman tipis saat mematikan panggilan tersebut. Lelaki paruh baya itu mengembuskan napas dengan lega. Lalu, kepalanya menoleh ke pintu kamar rawat Ara yang berada jauh di depannya.


"Hanya dengan ini Papa menebusnya, Nak. Semoga saja setelah ini hidup kalian aman. Papa minta maaf telah menyusahkan hidup kalian selama ini," bisiknya lirih dengan suara yang tercekat.


Arya terus memandangi pintu itu selama beberapa saat dengan diam. Tepat saat ada seseorang yang lewat, barulah dia sadar dan kembali dari kenyataan.


Lelaki itu memutuskan untuk pergi dari sana. Karena kehadirannya tak lagi diterima, dia akhirnya pulang. Untuk sekarang, Arya lebih tertarik untuk berurusan dengan Maya maupun Sherly dengan masalah yang terjadi malam ini.


Semalaman, dia benar-benar tidak tidur sama sekali. Arya bolak-balik dari rumah, menyusul Ara, dan kini kembali ke rumah lagi. Bahkan, hari telah beranjak pagi ketika dia tiba di kediamannya itu.


Sangat kebetulan, karena Arya sudah melihat Sherly dan juga Maya sedang sarapan. Dia jadi tak repot untuk membangunkan dua orang itu.


"Papa baru pulang? Bagaimana keadaan kantornya, Pa, apa ada sesuatu penting yang hilang?" tanya Maya cemas, menghampiri sang suami.


Arya tersenyum sinis. "Untungnya, semuanya baik-baik saja meskipun ada yang harus diperbaiki," ucapnya dengan sarkas.


Sayangnya, Maya tampaknya tak menyadari tingkah sang suami. Dia terlalu bahagia pagi ini karena mendapat dua kabar baik baginya. Pertama, kantor suaminya yang baik-baik saja, dan yang kedua, rencananya berhasil dan berjalan lancar.


"Maya."


"Ya, Mas?" sahut Maya, tersenyum sumringah sambil menaikkan salah satu alisnya menatap sang suami.


"Bersiaplah, karena sebentar lagi akan ada yang menjemputmu," kata Arya kemudian, tanpa mau menutup-nutupi lagi. Hatinya begitu bergemuruh, perasaannya campur aduk menjadi satu yang membuatnya sangat bimbang. "Kamu juga Sherly."


"Aku?" beo Sherly menyahut dan bertanya. "Memangnya siapa yang menjemput dan mau ke mana kita?"


"Kantor polisi. Kalian harus bertanggung jawab karena telah membuat Ara celaka," ketus Arya menatap dua wanita di depannya itu dengan tajam.


Hal ini tentu saja membuat Maya syok, Sherly pun sama yang langsung terdiam dengan tubuh kaku. Jantung mereka sepertinya sedang berdegup kencang seolah meminta keluar dari tempatnya.


"Mas, apa yang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti!" Maya mengalihkan pandangan, berbicara dengan wajah penuh senyuman untuk menutupi kegugupannya.


"Lucu sekali candaan Papa," sahut Sherly ikut terkekeh dengan paksa.


"Jangan kalian kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan pada Diana dan Ara. Aku mengawasi pergerakan kalian, sehingga aku bisa tahu apa saja yang kalian lakukan di luar selama ini." Ara berbicara dengan suara lantang menahan amarah. "Bukankah sejak awal sudah kubilang untuk tidak mengusik mereka? Kenapa kalian sangat keras kepala? Aku tidak akan lagi bertanggung jawab, karena kalian sudah melewati batas ambang kesabaranku. Aku akan melaporkan kalian ke polisi, dan kalian harus bertanggung jawab."


"Apa kamu gila, Mas?" teriak Maya marah. Ketakutan yang sejak tadi ditahannya, kini meluap bersamaan dengan amarah. Dia tak menyangka, jika sang suami sama sekali tak memihaknya setelah tahu semua kebenaran.


"Papa ingin kamu mendekam di penjara?" sahut Sherly ikut memekik, menatap ayahnya dengan mata membulatnya diringin dengan deru napas yang sedikit tercekat.


"Apa kalian pikir aku main-main sekarang? Bukankah aku selalu mengingatkan kalian untuk tidak bertindak terlalu jauh? Kenapa kalian berani menentangku, hah?" Untuk pertama kalinya, Arya membentak Maya dan juga Sherly. Entah kenapa, dia menjadikan masalah yang terjadi sebagai kesempatan atas rasa penyesalan yang selalu menghantui dirinya.


"Mas! Apa kamu melakukan ini karena Diana? Apa kamu mencintai wanita itu, Mas? Kamu bahkan tega melakukan ini pada kami demi mereka!" ketus Maya marah, dengan tubuh gemetar. Tangannya terkepal kuat dengan napas yang tampak memburu.


"Aku sudah tak mencintainya lagi." Bohong saat Arya mengatakan hal ini. Nyatanya, bahkan setelah sekian tahun lamanya mereka berpisah, saat bertemu dengan Diana tadi hati Arya masih berdebar kencang. "Aku tak ingin mentolerir sikap kalian lagi. Kalian bertindak terlalu jauh, bahkan dengan berani merencanakan pembunuhan."


"Itu bukan pembunuhan, aku hanya menyewanya untuk memberikan pelajaran dan mencelakainya saja!" bantah Sherly dengan gugup, tuduhan ayahnya yang tepat sasaran membuatnya merasa takut.


"Kamu mengaku sendiri, Sherly?" sindir Arya tersenyum sinis.


"Sial, anak bodoh!" umpat Maya menatap anaknya itu dengan tajam.


Mereka baru saja berdebat, ketika pintu rumah utama diketuk dengan tergesa. Mendengar hal tersebut, Arya tersenyum puas. "Jemputan kalian sudah datang," tuturnya dengan bangga.


Hal ini membuat Maya kelabakan, dia saling pandang dengan Sherly dengan panik. Sedetik kemudian, dia kalap. Otaknya tak bisa berpikir jernih, yang membuatnya nekat untuk mendorong Arya.


"Sherly!" Dan setelah itu, Maya menarik tangan anaknya kasar. Wanita itu tak peduli lagi dengan kondisi sang suami. Mendengar jika dirinya akan dibawa ke kantor polisi, membuatnya panik untuk melarikan diri.


"Jangan kabur kalian!" pekik Arya marah, berusaha untuk bangun dan mengejar. Tapi karena  panggulnya terkena tepian meja, membuatnya tak bisa bergerak akibat merasakan sakit. Lelaki itu hanya bisa terus berteriak lantang, memanggil bantuan agar menghentikan anak dan istrinya yang akan kabur itu.