I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 64



Al berdiri di balkon apartemen miliknya yang dulu pernah ia tempati bersama dengan Ara. Tatapannya kosong, pikirannya terus tertuju kepada Ara.


Sebelumnya Al yang tidak pernah mencari tahu tentang Ara sebab sejak awal bertemu mereka sudah berkomitmen, untuk tidak saling ikut campur tentang kehidupan pribadi mereka. Dan mereka sepakat akan hal itu. Selama menjadi simpanan Al, Ara cukup tahu diri tidak pernah mencampuri urusannya. Begitupun dengan Al, ia tidak mau tahu tentang kehidupan Ara. Karena sebelumnya yang Al pedulikan hanya kenikmatan tubuh Ara.


Namun, tempo hari Al meminta seseorang untuk mencari tahu tentang Ara. Ia mengingkari prinsipnya sendiri tentang wanita. Ara mengubah prinsip-prinsip Al yang sudah ia tetapkan sebelumnya.


"Kau membuatku menjadi pria aneh, Ara," ujar Al.


Sebelumnya Al tidak pernah merasakan hal demikian terhadap seorang wanita, semenjak ia kembali ke negaranya, Al merasa ada sesuatu hal yang hilang darinya, kehidupannya terasa hampa. Tapi Al sendiri bingung apa yang hilang dari kehidupannya, semuanya berjalan dengan semestinya.


Sebelumnya Al terus menyangkal jika dirinya telah jatuh cinta dengan Ara dan dia membutuhkan Ara, karena sudah terbiasa. Tapi sekarang memang ia harus mengakuinya jika ia sudah jatuh hati dan sangat membutuhkan Ara, bukan hanya membutuhkan tubuhnya tapi Al membutuhkan Ara untuk berada disampingnya selamanya.


Al memijat pelipisnya yang terasa pening. Ia memilih kembali masuk ke dalam apartemen, dan duduk di sofa depan televisi. Tangannya meraih laptop miliknya,  ia langsung membuka email yang dikirimkan oleh seseorang yang mencari tahu tentang Ara tempo hari.


Al kembali membaca semua info yang masuk ke dalam emailnya tentang Ara. Satu hal yang pasti Ara bukan gadis yang sebelumnya ia kira. Ara bukan gadis yang dengan sengaja menjadi simpanannya demi mendapatkan kemewahan dan mengikuti gaya hidup.


Ara menjalani kehidupan yang cukup sulit sebelumnya, gadis itu memanfaatkan kehadirannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.


Bukan tanpa sebab Al berpikiran negatif terhadap gadis itu, sebab gadis yang selalu ia temui sebelumnya, hanya menginginkan uang karena mereka ingin hidup mewah. Tapi Ara berbeda, gadisnya itu berbeda dari gadis lainnya.


"Kemana saja aku selama ini sehingga aku baru menyadari itu semua, kau pasti menjalani hidup yang berat selama ini, Ara," gumam Al.


Al baru sadar ternyata ia tidak begitu mengenal Ara, ia hanya memandang Ara sebagai simpanan saja, tanpa tahu sebenarnya Ara menjalani hidup yang buruk selama ini.


Banyak hal yang dulu tidak Al ketahui sekarang dia ketahui. Al merasa menyesal ia baru mencari tahu Ara sekarang, kenapa tidak dari dulu ia mencari tahu sosok Ara.


"Maafkan aku Ara, karena aku baru mengetahuinya sekarang," gumam Al lagi.


Tangan Al terkepal. "Kau harus menjadi milikku, Ara. Aku tidak akan melepaskanmu," ujar Al.


Al mulai menyiapkan ide untuk mendapatkan Ara lagi. Dan setelah mendapatkan Ara kembali. Al bertekad, ia tidak akan pernah menyia-nyiakan Ara, apalagi sampai meninggalkan gadis itu lagi. Tidak akan pernah.


Sekali ia genggam, tidak akan pernah ia lepaskan lagi, untuk selamanya.


***


Saat sore Ara memutuskan untuk keluar dari salonnya dan memilih minum kopi di kedai kopi yang berada tepat di depan salonnya. Baru saja Ara meneguk kopinya dua tegukan, Ara sudah merasa terganggu dengan kedatangan beberapa anak remaja yang baru saja datang, padahal Ara datang ke kedai kopi itu untuk menenangkan pikirannya sejenak.


Karena merasa terganggu dan malah membuatnya pusing, Ara pun segera membayar kopinya dan pergi dari sana, saat akan masuk ke salon, tiba-tiba jantungnya berdebar tidak karuan.


Ara merasa bingung dan heran kenapa dadanya berdetak kencang, Ara sering merasakannya saat ia tengah bersama dengan Al. Tapi kali ini Ara sedang sendiri, tapi ia merasakan jantungnya berdebar kencang.


 Ia berjalan melewati para karyawan salon yang menyapanya, Ara sampai tidak memperhatikan karyawan yang menyapanya karena sibuk dengan pikirannya.


Ara segera menutup ruangannya. Tubuhnya ia sandarkan di pintu, matanya ia pejamkan, tangannya meraba dadanya sendiri.


"Apa yang terjadi," gumam Ara.


"Aku tidak pernah merasakannya jika jauh dari Al, biasanya aku hanya akan merasakan debaran ini jika aku tengah bersama dengan Al," kata Ara, Ara langsung membuka matanya.


Ara menggeleng kepalanya. "Berhenti memikirkan Al," ujar Ara, seraya menepuk kepalanya agar tidak memikirkan Al lagi.


Hubungannya dan Al telah berakhir saat pria itu meninggalkannya, dan memilih pergi dari Indonesia. Sekeras apapun Ara menepis pikirannya tentang Al, tetap saja otaknya berkhianat karena otaknya terus memikirkan tentang Al.


Tiba-tiba arah merasa jika Al pasti tengah berada di Indonesia, entah kenapa tapi rasanya mengatakan jika Al benar-benar berada di Indonesia sehingga jantungnya berdebar tidak karuan.


Namun Ara kembali meradang Jika benar Al berada di Indonesia biasanya pria itu akan segera menghubunginya. Arah harus bangun dari kenyataan Karena sekarang Al tidak mungkin menghubunginya lagi karena hubungan antara mereka sudah berakhir, Ara bukan lagi simpanan dari Al. Mungkin saja Al sekarang sudah memiliki wanita lain sebagai simpanannya.


"Kau harus sadar Ara kau bukan lagi simpanan Al," gumam Ara.


Tapi membayangkan Al menggagahi wanita lain membuat Ara sakit hati. Ara tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia melihat Al bersama dengan wanita lain karena hanya dengan membayangkannya saja Ara sudah merasa sakit hati.


"Aku harus terbiasa tanpa Al," ujar Ara terus saja mengingatkan dirinya.


Ara mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengecek laptopnya, memeriksa stok barang-barang, shampo dan obat-obat rambut lainnya yang ada di salonnya.


Tapi semua stok di salonnya lengkap, tidak ada yang kurang, karena merasa bosan dan Al masih menari-nari di otaknya, bahkan Ara sampai mengecek sosial media salonnya padahal sebelumnya Ara tidak pernah melakukannya, ia melihat komentar-komentar positif di kolom komentarnya.


"Argh!" Ara mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Aku bisa gila jika terus seperti ini," gumam Ara.


Ara menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, memejamkan matanya, berharap bayangan Al hilang dari ingatannya. Tapi semakin Ara ingin melupakan semakin kuat bayangan Al di dalam pikirannya.


"Aku benar-benar telah jatuh cinta dengannya, sehingga sulit untukku melupakannya," gumam Ara lagi.


"Aku yakin, kau pasti sangat mudah melupakanku, kan?" tanya Ara seolah Al ada di hadapannya.


"Aku tahu itu, aku saja yang bodoh, sejak awal kau sudah memperingatiku jika hubungan kita hanya sebatas tubuh."


Ara yang sudah tidak ingin memikirkan Al, memutuskan untuk menutup salon lebih cepat, lalu ia keluar dari ruangannya dan memberitahu salah satu karyawan untuk menutup salon lebih cepat. Dan Ara akan mentraktir semua pegawainya untuk nonton bioskop setelah pulang dari Salon.