I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 55



"Apa semuanya sudah siap? Jangan lupa barang-barangmu, Keisha, Khanza!" Ara berteriak, memastikan jika apa yang dibutuhkan dan diperlukan semuanya sudah siap sebelum mereka berangkat.


Hari ini, Ara menepati janjinya untuk adik-adiknya--yang katanya ingin menginap di hotel--dan mengajaknya berlibur. Dia sengaja melakukan hal ini, karena dia sendiri pun butuh refreshing setelah bermasalah dengan Al tiga hari yang lalu.


Masih teringat jelas di benak Ara, lelaki itu tetap marah saat dia membahas tentang hubungan mereka. Bahkan, kala itu, mereka tak melakukan percintaan lagi. Al menjauhi Ara, dan lebih banyak diam. Hal ini membuat Ara bosan, dan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia tak tahu bagaimana kabar lelaki itu, tapi dia yakin jika Al pasti sudah pergi meninggalkan apartemen.


"Sudah, Kak, ayo!" 


Teriakan si kembar membuat Ara tersadar, wanita itu menoleh dan tersenyum mendapati adik-adiknya membawa koper masing-masing. Ara mendekati, sambil menggelengkan kepala. "Hanya dua hari, kenapa bawaan kalian seperti orang yang mau pindah rumah?" tanyanya menyindir.


"Sudah, kakak diam saja," jawab Keisha dengan malu-malu.


Ara hanya terkekeh mendengarnya. Dia lalu melongok lagi untuk bertanya, "Mana Bunda?"


"Bunda di sini."


Mendengar ibunya menyahut, membuat Ara langsung menoleh. Dia mengerutkan dahi, saat ibunya datang dari arah dapur sambil menenteng rantang makanan.


"Bunda, bukankah sudah kubilang jika kita akan makan di restoran saja? Kenapa malah membuat bekal?" pekik Ara bertanya dengan raut wajah kebingungan.


"Biar irit," sahut Diana, tertawa tanpa dosa.


Hal ini membuat Keisha dan Khanza hanya mendesah. Dia tak menyangka jika ibunya masih saja merusak impian kecil mereka untuk makan lahan di restoran.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Ara. "Sudahlah, kalau begitu, ayo!" Dia tak mempermasalahkan hal itu lagi, dan langsung menggiring ibunya ke luar dari rumah.


Di depan, sudah ada mobil yang menanti. Ara sengaja menyewa mobil untuk dirinya dan keluarga tiga hari kedepan, tak lupa juga dengan sopirnya.


Setelah membantu adik-adiknya memasukkan barang-barang di bagasi, akhirnya Ara menyusul masuk ke dalam. Wanita itu tersenyum, saat melihat bagaimana ibu dan adik kembarnya begitu antusias untuk pergi.


"Kalian siap berlibur?" tanya Ara sambil mengangkat kedua alisnya naik turun.


"Tentu saja," jawab si kembar bersamaan. "Ayo kita berangkat, Pak Sopir."


Ara tertawa melihat hal itu, dia lalu berbalik lagi untuk menghadap ke arah depan. Dia merapikan lagi sealt-betnya sebelum menikmati jalanan di hadapannya.


Sepanjang jalan, mereka tampak riang. Si kembar benar-benar membuat suasana riuh karena tak pernah berhenti bicara. Mereka sangat bersemangat, antusias, bahkan berdiskusi untuk menyusun rencana-rencana apa yang akan mereka lakukan di pantai nanti.


Hampir tiga jam, akhirnya mereka sampai juga. Mobil mereka memasuki kawasan villa yang khusus disewa oleh Ara untuk beberapa hari ke depan.


Diana tersenyum senang melihatnya. Dia sangat bersyukur atas kesuksesan sang anak. Karena bagaimanapun, dia bisa merasakan hasil jerih payah anaknya sendiri. Dia benar-benar bangga pada Ara, yang selama ini menjadi tulang punggung untuk keluarganya.


"Terima kasih, Ara." Di tengah-tengah suasana yang membahagiakan tersebut, Diana tak sabar untuk mengatakan kalimat tersebut untuk anak sulungnya itu.


Ara yang melihat tatapan tulus sang ibu merasa senang. Dia memeluk ibunya sebentar, sebelum mengecup pipinya. "Simpan terima kasihmu itu, Bunda."


Mereka akhirnya masuk ke dalam villa. Ternyata , ada seorang penjaga yang akan melayani kebutuhan mereka selama tinggal di sana. Keisha dan Khanza benar-benar merasa senang, dan berlagak hidup seperti anak konglomerat yang mempunyai asisten rumah sendiri. Mereka jadi bersemangat, karena tak harus melakukan pekerjaan rumah.


"Tidak, suasana di sini benar-benar indah. Bunda tidak mau melewatkannya dengan istirahat," kata Diana menjawab dengan senyuman yang menawan.


"Baiklah, kalau begitu Ara mau istirahat dulu ya, Bun. Ara masih mengantuk," ungkap Ara dengan wajahnya yang memelas.


"Tidurlah, nanti ibu bangunkan sore hari." Tangan Diana terlulur untuk mengusap baju Ara dengan lembut.


Hal ini membuat Ara tersenyum. Dia mengangguk dan segera pergi dari sana. Tapi saat sampai tangga, dia berhenti dan membalikkan badan untuk menatap adik-adiknya dengan tajam. "Jangan merepotkan Bunda. Awas saja kalian nakal saat aku tidur. Aku kuremas kalian nanti."


"Tidak, Kak. Jangan khawatir," jawab Keisha menyahut dengan tawa meringis.


"Tenang, Kak, tentang. Sudah sana tidur!" sahut Khanza yang terlihat terang-terangan mengusir sang kakak.


Ara yang melihat itu menggelengkan kepala. Dia mengembuskan napas pelan, sebelum akhirnya melakukan langkah kakinya untuk naik ke lantai atas. Dia memang sengaja memilih kamar di atas agar bisa melihat pemandangan pantai dengan jelas.


Begitu sampai di kamarnya, Ara langsung menjatuhkan diri di ranjang. Wanita itu tak membereskan koper pakaian miliknya yang sudah diantar penjaga villa ke sini, melainkan langsung tertidur akibat rasa lelah yang menderanya akibat perjalanan jauh.


Entah sudah berapa lama Ara tertidur, saat dia membuka mata dia bisa melihat hari telah gelap dari jendelanya. Wanita itu menggeliat, merasakan tubuhnya sedikit bugar setelah seharian beristirahat.


Ara terbangun, dia duduk di tepi ranjang sambil mengumpulkan nyawa yang tersisa sebelum beranjak berdiri. Saat dia ingin mengambil minum di nakas samping ranjang, dia menemukan secarik kertas. Dia yang penasaran, segera mengambil kertas itu dan membacanya.


[Maaf, Bunda tidak membangunkanmu karena kamu terlalu lelap. Jika kamu membaca ini dan tidak menemukan kami di villa, maka susulah ke pantai. Adik-adikmu ingin membuat api unggun malam ini]


Senyum tipis terbit dari wajah Ara. Dia meletakkan kembali kertas itu, dan mulai beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia ingin menyusul ibu dan adik-adiknya, tapi entah kenapa dia merasa perutnya sangat lapar. Ara akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah, menuju dapur untuk melihat apa yang tersedia di sana.


Untungnya, Ara menemukan sup ayam di meja. Merasa sup itu terlalu dingin, Ara berniat untuk menghangatkannya.


Dia tengah memasukkan mangkuk sup di microwave ketika mendengar suara benda terjatuh dari arah depan. Merasa penasaran, dia segera beranjak untuk melihat.


"Bunda ... Keisha, Khanza." Ara berteriak memanggil satu-persatu nama keluarganya, karena mengira jika merekalah yang datang.


Namun, entah kenapa dia merasa heran karena tak ada sautan apapun. Ara baru saja akan berbalik untuk mengintip, ketika seseorang tiba-tiba berdiri di depannya dengan wajah tertutup topeng.


"S-siapa kamu?" tanya Ara gugup, terlihat ketakutan apalagi saat sosok itu membawa sebuah benda tajam.


Ara yang tahu jika orang itu berniat jahat, segera berbalik panik untuk melarikan diri.


Sayang sekali, karena ternyata orang itu menangkapnya lebih dulu. Hal ini membuat Ara terjatuh, karena tak bisa menjaga keseimbangan badan.


"Tolong!"


Ara baru saja berteriak untuk meminta bantuan, ketika tiba-tiba orang itu mendekat dan langsung menancapkan belati ke perutnya dengan cepat.


Hal ini membuat Ara syok, rasa sakit yang menjalar di tubuhnya tiba-tiba membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Ara mengerang, merasakan tubuhnya mulai kaku akibat darah yang terus mengalir. Hal terakhir yang dia lihat, orang yang menusuknya itu pergi meninggalkan dirinya sendirian dalam kegelapan.