I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 15



Mata Ara terlihat berkaca-kaca menatap Al berlutut di depannya dengan sebuah kotak kecil di tangannya.


"Kakimu akan sangat cantik saat memakai gelang ini." 


Namun, perkataan Al membuat Ara tersadar, jika pria itu hanya memberinya hadiah. Entah kenapa dia merasa kecewa, padahal dia baru saja membayangkan jika Al akan melamarnya dan memintanya untuk menjadi pengantin. Tanpa sadar, Ara menjadi sedih. Hatinya bagai ditikam ribuan belati yang membuat dadanya sedikit sesak untuk bernapas. 


Sadar, Ara ... sadar. Hubungan kalian tak lebih dari partner ranjang saja. Tak ada yang bisa diharapkan lebih. Gumam Ara dalam hati, sambil menggigit kecil bibir bawahnya. 


"Kamu menyukainya, Sayang? Coba gerakkan kakimu," pinta Al mendongak, melihat Ara berkaca-kaca membuat pria bule itu segera berdiri. "Kenapa menangis? Apa kamu tak suka hadiahnya?" tanyanya kembali. 


"Tidak ... maksudku, aku sangat menyukainya. Aku hanya haru dan terbawa suasana," jawab Ara cepat, air matanya jatuh di pipi dan dia mengusapnya dengan kasar. "Baru kali ini seseorang memberiku hadiah, dan aku sangat ... bahagia," imbuhnya berdusta, tanpa memberitahukan Al tentang apa yang sebenarnya dia rasakan. 


Al tersenyum, dia menarik Ara dalam pelukan dan mengusap lembut kepala wanita itu. "Kalau begitu, setiap aku datang aku akan membawakanmu lebih banyak hadiah."


Dalam pelukan itu, Ara mengangguk. Semakin menggigit bibirnya agar tangisnya tak keluar. Dia menarik napasnya dalam, berusaha menenangkan diri atas kekecewaannya ini. Setelah dia bisa mengatur suasana, barulah dia melepaskan pelukan itu dengan memasang wajah penuh senyuman. 


"Terima kasih," ucap Ara tersenyum manis, meskipun terasa getir. 


Ara terlihat pasrah, saat Al memberikan ciuman pada keningnya. Melihat jika tak ada lagi perbincangan, membuat Ara sedikit menjauh. 


"Rasanya gerah, aku ingin mandi lebih dulu," tuturnya, seolah ingin memberikan jarak pada Al walau hanya sebentar. Dia ingin menenangkan diri. 


Tapi bagaimana bisa Al membiarkan hal itu terjadi? Dia segera mengejar Ara, dan langsung meraih wanita itu dalam gendongan. 


"Al, apa yang kamu lakukan?" pekik Ara terkejut. 


"Kamu harus diberikan hukuman!" kata Al, mengerutkan dahinya dalam. 


"Hukuman apa? Aku tak membuat kesalahan?" tanya Ara terlihat bingung. 


"Kamu membuat kesalahan, Ara! Kamu mau mandi tanpa mengajakku! Apa kamu pikir aku akan membiarkannya? Tidak akan!" kata Al tegas, sambil mengerlingkan sebelah mata menggoda. 


Ara yang melihat itu mendesah kasar, terkekeh tanpa suara karena sikap Al. Niatnya untuk menenangkan diri sendiri sepertinya harus gagal karena pria bulenya itu menguntit padanya terus-terusan. 


"Bukankah kamu baru saja mandi?" keluh Ara bertanya, ketika Al membasahi tubuh bersamanya di bawah guyuran air shower. 


"Aku tak keberatan mandi lagi, jika bersamamu," jawab Al terkekeh. Pria bule itu dengan sigap melepaskan semua bajunya, lalu dengan gesit melepaskan piyama Ara. 


"Al!" keluh Ara memekik penuh keterkejutannya, saat pria bule itu berjongkok di bawahnya. Dia hanya bisa mendesah, saat Al mulai memainkan miliknya dengan jari. 


Tubuh Ara mendadak lemas, yang membuatnya mau tak mau harus berpegangan pada dinding kaca di dekatnya. Kepalanya mendongak, dengan mata terpejam. Bibirnya bahkan selalu terbuka untuk menyuarakan *******. 


"Baby, please come here!" pinta Ara dengan napas yang putus-putus, salah satu tangannya menjambak rambut Al untuk menarik lelaki itu berdiri. 


"Tahan lagi, Sayang ... tahan sampai kamu benar-benar tak mampu menapakkan kakimu lagi." Tetapi Al menolak. Pria bule itu membiarkan rambutnya menjadi pelampiasan Ara, dan semakin beringas bermain di tempat yang lembab tersebut. Kini bukan hanya tangannya yang maju, tetapi juga bibir dan dengan lidah yang menari-nari. 


"Aku menyerah, Al ...," lirih Ara, yang perlahan tubuhnya ambruk karena tak kuat menahan beban. Dirinya merasa lemas, setelah merasa jika bagian tubuhnya mulai keluar. 


Pria bule itu dengan sigap menangkapnya. Dia tersenyum sangat puas melihat Ara kalah telak, bahkan di permainan pertama. Dengan cepat, Al segera menggendong Ara. Dia memepet wanita itu ke dinding, dan menahannya dengan tangan. Pria itu memulai permainannya, yang membuat tubuh Ara naik turun dengan gemas. 


Mereka bermain di dalam kamar mandi, mencoba banyak gaya dengan berdiri. Kali ini, Al yang memainkan segala peran, dia mengambil alih kendali, dan tak membiarkan Ara membalasnya sedikit pun. 


Sampai pemain kedua pun berlanjut. Karena kaki Ara tak tahan lagi, Al membawanya ke ranjang. Pria itu masih bersemangat, seolah tenaganya tak pernah habis. 


Sedangkan Ara sudah lemas, tak mempunyai tenaga. Meskipun begitu, dia masih bisa merasakan betapa nikmatnya permainan ini. 


"Ara ... Sayang, oh!" Tiba-tiba tubuh Al menegang. Dia meremas kuat kaki Ara yang ada di pundaknya. Lalu menyemburkan semua amunisi ke dalam milik Ara sebagai tanda jika permainannya telah selesai. 


Tubuh Al langsung ambruk, dia merebahkan diri di samping Ara yang langsung disambut pelukan wanita itu. Keduanya saling menatap, lalu terkekeh pelan bersama dengan napas yang terengah-engah. 


~~


Kalian terengah-engah nggak, kak?🤦