I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 24



"Al," panggil Ara begitu sampai di apartemen. Dia menyelidik huniannya yang menjadi tempat tinggalnya bersama Al selama ini dengan awas. Matanya memindai sekitar untuk mencari sosok yang telah menyuruhnya untuk datang.


"Al, kamu di-- astaga!" Ara belum menyelesaikan pertanyaannya, ketika dia dikejutkan oleh Al yang kini muncul dari arah dapur. Napas Ara sampai terengah akibat saking kagetnya dia. Tangannya mengusap dadanya yang sedikit sakit.


"Kamu mengejutkanku, Al," keluh Ara langsung menghampiri Al dan menghambur dalam pelukan.


Tetapi, Ara lagi-lagi dikejutkan saat Al menolak pelukannya. Tangan lelaki itu bahkan mendorong bahunya. Dan bisa Ara lihat, jika Al kini tengah menatapnya tajam.


"Ada apa? Kamu kenapa? Kamu baru saja pergi kemarin dan kini sudah kembali lagi. Apa ada yang salah, Al?" tanya Ara beruntun dengan raut wajah yang bingung, serta menutupi rasa sedih di hatinya atas penolakan Al.


"Ya, Ara. Kamu memang membuat kesalahan!" Al menjawab dengan ketus. Sedetik kemudian, dia menarik tangan Ara dengan kasar. Lelaki itu menyeret Ara naik ke lantai atas.


"Al, apa yang kamu lakukan? Kamu menyakitiku!" pekik Ara mengeluh dengan sikap kekasih gelapnya itu. Dia berusaha melepaskan diri, tapi cengkraman tangan Al semakin kuat dan malah membuat pergelangan tangannya menjadi sakit.


"Awh!" Ara mendesis ketika Al melemparkan tubuhnya di ranjang. Wanita itu tampak kesakitan saat mulai bangun dan menatap Al dengan tajam. "Kamu ini kenapa, hah? Apa salahku?"


"Kamu yang kenapa, Ara!" bentak Al marah. Napasnya terlihat sekali sedikit memburu. "Bagaimana bisa kamu berdekatan dengan lelaki lain, hah?"


Mata Ara melebar, dia berdiri dan mendekati Al. Dengan tatapan yang berani dia bertanya, "Apa maksudmu, lelaki apa, hah? Aku bahkan tidak pernah mengenal lelaki lain selain kamu."


"Oh, ya? Lalu siapa lelaki yang semalam menginap di salonmu?" tanya Al dengan begitu dingin.


Deg....


Jantung Ara bertalu. Berdegup kencang dengan irama yang tak beraturan. "Kamu ... dari mana kamu tahu hal ini, Al?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan Ara?" teriak Al dengan marah. Dia mulai berbalik memunggungi Ara dengan satu tangan bertolak pinggang. Sedangkan tangan yang lain dia gunakan untuk menyugar rambutnya kasar.


"Apa selama ini kamu memata-mataiku, Al?" tanya Ara kembali.


Hal ini membuat Al semakin marah. Dia yang kalap, meraih benda apapun di sekitarnya untuk dibanting.


Al mengikuti Ara dan berjongkok mendekati wanita itu. "Kamu tidak perlu tahu dari mana aku tahu atau apapun usahaku untuk tetap tahu bagaimana keadaanmu!" kata Al berbisik dengan nada yang dingin. "Lagipula, bukankah sudah kubilang untuk jangan dekat dengan lelaki lain? Kenapa kamu malah nekat membawa lelaki itu menginap bersamamu?"


"Kamu salah paham, Al. Apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan kenyataan." Ara menggelengkan kepalanya cepat. "Ya, memang ada lelaki yang menginap di salon semalam. Tapi dia bukan siapa-siapa, dia bahkan hanya tidur di sofa. Lelaki itu hanya pengganti satpam salonku yang sedang terluka," jelas Ara dengan suara yang gemetar.


"Siapapun dia dan apapun posisinya, aku tetap tidak suka, Ara!" ketus Al, meninju tepian ranjang di belakang Ara penuh emosi. "Aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan lelaki lain. Mau itu tua atau muda sekalipun, aku tidak suka!"


Tangis Ara pecah, dia menatap nanar sosok Al yang mulai berdiri menjauhinya. Perlahan, dia mengumpulkan tenaganya dan berusaha bangun. "Kenapa kamu sangat egois, Al?" tanyanya kemudian.


"Jangan membuatku jijik, Ara. Jangan membuatku berpikir kau sama murahnya dengan wanita di luar sana," ucap Al tanpa mau menatap Ara yang sangat tersakiti dengan ucapannya.


"Ya, aku memang murahan. Bukankah karena itu aku berada di sini?" lirih Ara.


Lelaki itu berbalik menatapnya tajam. Tapi Ara tetap terlihat berani untuk melawan. "Ini hanya kesalahpahaman saja, tapi kamu begitu egois dan memarahiku seperti ini. Kamu bahkan menghinaku. Terkadang sikapmu membuatku bingung. Kamu bisa seenak saja mencemburuiku, tapi apakah aku bisa balik mencemburuimu? Aku bahkan tak pernah tahu dan tak boleh tahu apa yang kamu lakukan selama ini di belakangku. Aku tak tahu apapun kegiatanmu setelah menginjak kaki keluar dari apartemen ini. Tidak ada yang boleh aku lakukan padamu selain melayanimu di ranjang. Kamu sangat--"


Plak!!!


Ara belum menyelesaikan ucapannya, ketika sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipinya. Hal ini membuat Ara tercengang, menatap tak percaya pada Al.


Tangannya reflek mengusap pipinya yang kini terasa panas. Dan dia terkekeh miris saat melihat lelaki di depannya. Bertahun-tahun menjalani hubungan, baru kali ini Al main tangan padanya. Dan entah kenapa hal ini tak bisa diterima Ara dengan mudah.


Dengan mata yang berkaca-kaca, dia berkata, "Aku kecewa padamu, Al." Setelahnya, dia berbalik dan keluar dari kamar itu begitu saja. 




Otornya nyesek di bab kali ini. Kalian gimana?😰