
Setelah usaha Al yang berulang kali memanggil, menyerukan nama Ara saat di mall, berharap perempuan itu mau menanggapinya, Al tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Tidak peduli berapa banyak Al berteriak, tidak sekali pun wanita itu menanggapinya meski Al tahu benar jika Ara mendengar jelas suaranya. Setelah genap setengah jam mencari dan tidak kunjung mendapatkan Ara, akhirnya Al menyerah. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya dalam perasaan bercampur aduk. Kesal bercampur sedih, takut bercampur kecewa, berbagai perasaan berputar dalam batin Al saat itu.
Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, pikiran Al masih tidak lepas dari sikap Ara yang terasa sengaja menjauhinya. Bahkan hingga sampai di tujuan, Al masih tidak mengerti mengapa Ara tidak melihat ke arahnya saat Al memanggil namanya. Memikirkan hal tersebut, kala Al berjalan menuju ruangannya, langkah begitu gontai.
Saat di kamarnya, Al mulai mengingat masa lalu, saat Ara masih di sisinya, dan tinggal di apartemen yang sama dengannya. Ia ingat jika sejak dulu, perempuan itulah yang menginginkan hubungan mereka dipublikasikan di muka umum, menunjukkan kepada dunia jika mereka memiliki satu sama lain. Al yang dulu tentu tidak menyukainya—merasa risih, sehingga Al berakhir mengabaikan permintaan Ara.
“Sekarang aku sudah mengabulkan keinginanmu itu, Ara. Tapi ... kenapa kau tidak mau menemuiku sekarang, sengaja ... mengabaikanku?”
Sembari mondar-mandir tanpa tujuan di ruangan persegi itu, Al mempertanyakan pertanyaan yang tidak akan dijawab siapa pun. Kepalanya juga mulai menimbulkan pertanyaan lain, seperti, kesalahan apa yang telah dilakukan Al hingga Ara tidak mau menerimanya lagi?
Selama Al hidup, tidak pernah sekali pun ia diabaikan oleh seorang wanita. Sebaliknya, ialah menjadi pihak yang mengabaikan, mengingat statusnya sebagai seorang bangsawan yang dapat memilih siapa pun yang diinginkannya. Tapi, keadaan telah berubah sekarang. Ara, wanita yang diinginkannya di sisa hidupnya, tidak menganggap keberadaan Al. Dengan keadaan itu, dalam hati ia tidak marah, melainkan merasa takut jika Ara benar-benar menganggap hubungan mereka telah berakhir. Apa pun boleh terjadi selain itu, itulah yang dipikirkan Al kala memikirkan berbagai kemungkinan buruk tentang Ara.
Al juga kembali ingat saat Ara pertama kali meminta hubungan mereka diakhiri. Saat itu, Al memang tidak merasakan apa pun. Sedikit pun ia tidak merasa keberatan dengan hubungan tanpa kejelasan itu diakhiri oleh sang perempuan. Namun, sekarang semuanya berubah. Sekarang, Al menyesali keputusannya di masa lalu. Al yang sekarang telah sadar dengan hati dan perasaannya, mengerti jika ia tidak dapat melepaskan Ara. Pria itu sudah sangat terbiasa akan kehadiran wanita itu dalam hidupnya, meski selama ini hubungan mereka dulu hanya sebatas di atas ranjang. Dan Al juga membayar sejumlah uang besar bagi Ara agar dapat memanjakan dirinya dalam kemewahan. Sekali pun Al tidak pernah membayangkan jika dirinya akan mengalami ketergantungan kepada seorang wanita. Terlebih wanita itu sebelumnya ia kenal dari hubungan yang tidak baik.
“Hah ... Ara, apa kau ... benar-benar meninggalkanku sekarang? Tidakkah kau masih menyimpan perasaan padaku? Aku ... aku benar-benar menyesal sekarang.”
Selesai berkata demikian, Al menghembuskan napas panjang, mengerti jika tidak peduli sebanyak apa ia mengeluh, suara itu tidak akan terdengar oleh Ara yang entah berada di mana.
Selesai menyalahkan diri sendiri karena terlambat menyadari perasaannya, Al tidak akan menyerah sekarang. Ia akan mencoba menghubungi Ara kembali, mendapatkan wanita itu kembali dalam genggamannya, memulai kembali hubungan mereka. Besar harapannya untuk menyambut Ara kembali dalam hidupnya, lalu memperlakukannya lebih baik dari yang dulu. Bahkan Al bersumpah akan memberikan apa pun yang diinginkan Ara jika wanita itu benar-benar kembali ke pelukannya.
“Kumohon, Ara, angkatlah ... maafkan aku yang sudah mengabaikanmu dulu. Aku sudah sadar pada kesalahanku. Angkatlah, Ara. Demi diriku, dan dirimu,” gumam Al dengan suara pelan kala menunggu Ara mengangkat panggilannya.
Satu kali, dua kali, hingga lima kali, usaha Al tidak kunjung mendapatkan hasil. Sama seperti sebelumnya, Ara masih mengabaikan Al yang berusaha menemuinya, menggapainya kembali. Tidak peduli sebanyak apa Al mencoba memanggil dan memanggil, Ara tidak berniat menerima telepon Al, mengabaikan sang pria dalam penolakan.
“Ara, kenapa ...? ARGH!”
Diselimuti amarah, Al langsung membanting ponselnya di lantai hingga benda elektronik itu hancur berkeping-keping. Wajahnya kini memerah padam akibat amarah yang mendominasi dalam batin. Tidak, amarah itu bukan tertuju pada Ara yang masih menolaknya. Namun kepada dirinya sendiri yang gagal memiliki Ara sepenuhnya dulu.
Tanpa seizin Al, kenangannya bersama Ara kembali berputar di kepalanya. Bagaimana wanita itu tersenyum padanya, saat mereka di ranjang bersama, hingga kenangan-kenangan indah lainnya yang membuat Al merasakan hatinya terasa sesak. Karena ia tahu apa yang terjadi saat itu hanya sekadar kenangan, tidak akan dapat terulang kembali. Dengan kenyataan pahit itu, besar rasanya keinginan Al ingin meluapkan kesedihannya dengan air mata. Namun, tidak, Al tidak akan melakukannya.
Selain itu, dulu, Al selalu melarang wanita itu menghubunginya jika bukan dia yang pertama kali menghubungi Ara. Jika wanita itu berani melanggar, maka ia harus siap menerima murka Al karena mengabaikan peraturan yang ditetapkannya. Namun, sekarang Al justru sangat berharap Ara mau menghubunginya lebih dulu, bermanja padanya, bersikap seperti dulu. Jika Ara menginginkan uang, Al akan berikan semuanya. Karena saat ini, Al sadar benar dirinya tidak dapat hidup tanpa keberadaan Ara. Wanita itu telah menjadi bagian tidak tergantikan dalam hidup Al yang semu. Tanpa Ara, Al tidak dapat merasakan kehidupan yang sama. Hanya Ara-lah yang dapat menjadi obat penenang Al.
Merasa lelah batin, Al langsung membanting tubuhnya ke kasur terdekat. Sekarang, ia tidak dapat menghubungi siapa pun, terkhususnya Ara, karena Al baru saja menghancurkan ponselnya. Namun, apa gunanya berulang kali mencoba jika hasilnya akan tetap nihil? Rasanya Al ingin menemui Ara secara langsung, namun rasanya itu mustahil mengingat sang pria telah mendapatkan tiga kali penolakan, saat di salon Ara yang tutup, saat di mall dan Ara sengaja mengabaikannya, serta saat panggilan telepon berulang kali itu.
Karena rasa frustrasi itu, Al mengusap wajahnya, berharap dapat menenangkannya meski hanya sebentar. Tapi, tentu saja, semua usaha itu tidak ada hasilnya. Hanya ada Al yang berusaha menenangkan diri dengan tarikan nafas panjang yang berulang kali.
“Ara, jika ... kita memiliki kesempatan untuk bertemu kembali, maukah kau memaafkanku? Aku ... aku benar-benar menyesal karena telat menyadari betapa berharganya dirimu dalam hidupku ini. Maafkan aku.”