
Arya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Maya dan Shery setelah mendapatkan kabar dari polis jika anak dan istrinya itu mengalami kecelakaan saat sedang berada dalam kejaran polisi.
Kaki Arya melangkah masuk ke dalam ruangan Shery dan Mya di rawat, pandangannya langsung tertuju ke arah Shery yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan parah.
"Arya," gumam Maya. Maya merasa tenang melihat Arya yang datang ke rumah sakit untuk menjenguknya dan Shery.
Ada perasaan sedikit kesal saat melihat Arya, karena pria itu sudah melaporkannya dan Shery kepada polisi.
"Kau puas melihat putrimu terbaring di rumah sakit seperti ini?" tanya Maya dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
Sedikitpun Arya tidak membayangkan hal seperti ini terjadi dengan anak istrinya, ia hanya ingin anak dan istrinya jera atas apa yang mereka lakukan terhadap Ara.
Arya hanya ingin menghukum mereka atas perbuatan mereka sendiri, karena apa yang telah mereka lakukan terhadap Ara tidak bisa di tolerir.
Langkah Arya tertuju kepada Shery, ia menatap sendu ke arah Shery yang terbaring pucat di atas ranjang, di sebelah tangan anaknya itu juga terpasang borgol yang disatukan dengan ranjang rumah sakit. Ia juga melihat ke arah tangan Maya yang terborgol.
Polisi bilang, Maya dan Shery mengalami kecelakaan saat sedang di kejar polisi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arya kepada Maya.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Maya ketus.
Arya merasa sedih, ia merasa gagal menjadi seorang ayah dan suami, karena tidak bisa berbuat sesuatu. Ia terlalu bingung harus berpihak pada siapa. Ara adalah putrinya, Shery juga putrinya, tapi ia harus memilih dan pada akhirnya ia harus memilih Ara, karena Ara merupakan korban dari Shery.
"Maaf," ujar Arya.
"Maafkan aku, karena aku gagal menjadi sosok ayah dan suami untuk kalian. Aku juga minta maaf karena tidak bisa membantu kalian," kata Arya.
Maya yang mengerti maksud Arya, langsung panik, ia tidak mau mendekam di penjara selama sisa hidupnya. Ia merasa menyesal telah merencanakan rencana buruk dengan putrinya.
"Arya, aku mohon lepaskan kami, bantu kami, kami sangat menyesal," kata Maya penuh harapan agar Arya mencabut tuntutannya atas laporan yang telah dibuat oleh Arya sendiri.
"Kamu tidak kasihan sama anak kamu, masa depan Shery akan hancur jika dia di penjara," kata Maya membuat hati Arya bergetar, benar apa kata Maya, masa depan putrinya akan hancur. Tapi bagaimanapun Shery telah melakukan hal yang buruk terhadap Ara dan Shery harus mendapatkan hukumannya.
Arya menggelengkan kepalanya. Semuanya sudah terlambat, karena Arya sudah menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Istri dan anaknya itu harus menebus kesalahan mereka, agar mereka jera, dan belajar dari kesalahan mereka.
***
Hari ini, Ara memutuskan untuk pergi ke salon setelah beberapa hari ia tidak pergi ke salon karena tragedi yang sebelumnya terjadi padanya.
Beberapa hari tinggal di rumah dan tidak melakukan aktivitas apapun membuat Ara sangat frustasi, otaknya terus teringat akan Al. Ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang Al.
"Aku bisa gila jika terus seperti ini," gumam Ara. Ia meremas rambut panjangnya.
Ara langsung pergi ke kamar mandi, ia membersihkan dirinya dan memakai pakaian rapi, ia harus pergi ke salon untuk beraktivitas seperti biasanya, karena jika berada di rumah terus menerus, Ara bisa saja sampai gila.
Setelah berdandan rapi, Ara langsung keluar dari kamarnya, saat baru saja keluar dari kamarnya, ia langsung dikejutkan oleh Diana.
"Mau kemana?" tanya Diana saat melihat Ara sudah sangar rapi dan cantik.
Ara kaget, ia langsung membalikkan tubuhnya melihat Diana yang berdiri di depan kamarnya dengan tangan dilipat di dada.
"Mau kemana?" tanya Diana mengulang pertanyaannya yang belum dijawab oleh Ara.
"Aku mau pergi ke salon," jawab Ara.
"Gak boleh," jawab Diana.
Ara mengerutkan keningnya, tidak biasanya ibunya itu melarang Ara pergi ke salon. "Kenapa, Bun?" tanya Ara.
"Kamu masih sakit, Bunda gak bakal izinin kamu pergi," kata Diana.
"Aku sudah sembuh, Bunda," kata Ara meyakinkan Diana jika dia sudah benar-benar sehat dan bisa beraktivitas seperti sediakala.
"Tetap aja Bunda khawatir sebaiknya kamu istirahat untuk beberapa hari kedepan lagi, Bunda bakal khawatir seharian jika kamu pergi," kata Diana yang merasa trauma atas kejadian sebelumnya yang menimpa putri pertamanya itu.
Ara tersenyum ia meraih bahu Diana. "Bunda, Ara baik-baik saja, Ara merasa sangat bosan di rumah terus, Ara membutuhkan hiburan, apa Bunda gak kasihan liat Ara di rumah terus," kata Ara seraya mengerucutkan bibirnya memberikan ekspresi sedih kepada Diana.
Diana menghela nafas, ia merasa kasihan dengan anaknya yang memang beberapa hari ini di rumah karena pemulihan akibat tusukan dari seseorang yang tidak dikenal karena suruhan Shery. Tapi disisi lain ia merasa khawatir jika terjadi sesuatu lagi dengan Ara jika dia membiarkan Ara keluar sendirian.
"Yaudah, tapi dengan satu syarat," kata Diana akhirnya.
"Apa itu, Bund?" Tanya Ara antusias demi ia bisa ke salon, karena ia membutuhkan udara segar, tinggal di rumah membuatnya bosan dan terus teringat akan Al, ia ingin melupakan Al dengan beraktivitas di luar sana.
"Kamu harus hati-hati, Bunda gak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa kamu," kata Diana.
Ara tersenyum lalu memeluk Diana. "Terimakasih Bunda, kalau begitu Ara berangkat dulu ya." Ara langsung mencium tangan ibunya dan pergi ke salon miliknya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Saat datang ke salon semua karyawannya bersukacita atas kehadiran atasan mereka, terlebih mereka tahu apa yang menimpa Ara beberapa hari kebelakang.
"Selamat, datang kembali, Mbak Ara" kata salah satu karyawan salon Ara.
"Terimakasih," jawab Ara yang sedari tadi mendapatkan ucapan selamat datang dari mereka.
Ara masuk ke ruangannya, Ara mencoba melupakan Al. Ia harus menjalani hidup dengan baik, tanpa status sebagai simpanan bule, dan tanpa harus bergantung pada Al lagi.
"Aku harus melupakannya," gumam Ara.
Meskipun akan sulit untuk melupakan Al dari hati dan pikirannya, tapi Ara akan berusaha untuk melupakan Al, bagaimanapun caranya.
***
Al baru saja mendarat di Indonesia, ia segera masuk ke mobil yang sudah menunggunya dari tadi. Mobil itu langsung membawa Al ke apartemen yang sebelumnya ditempati olehnya dan Ara.
Saat masuk ke dalam apartemen itu, Al langsung mengerutkan keningnya, apartemen itu terlihat kosong. Tidak ada jejak Ara di apartemen itu.
Al langsung masuk ke kamar yang sering mereka tempati untuk bercinta, tidak ada barang-barang Ara di sana. Semuanya kosong, Al teringat akan Ara yang sering duduk di depan cermin.
"Aku merindukanmu, Ara," gumam Al.
Al merasa kehilangan dan merasa kehidupan hampa semnejak Ara peegi dari hidupnya. Tidak bukan Ara yang meninggalkannya tapi dirinyalah yang meninggalkan Ara.