
"Mas Arya!" Maya terus berteriak, memanggil sang suami.
Namun, sosok Arya benar-benar hilang. Suaminya itu sudah pergi, sampai-sampai Maya tak dapat menemukannya.
Berpikir jika lelaki itu mendatangi Diana, membuat hati Maya terasa panas. Dia seperti merasakan bara api yang membakar tubuhnya. Napas wanita itu memburu dengan gugur bergemeletuk dan rahang yang mengeras.
"Sialan!" decak Maya mengumpat.
Wanita itu akhirnya keluar, tanpa berdandan atau berganti baju, dia pergi dari rumah. Maya mengemudikan mobil Sherly, ke tempat Diana yang tadi pagi dia datangi.
Sepanjang jalan, Maya tampak menggeram. Sesekali memukul setir mobilnya keras. Menyalip satu-persatu kendaraan yang sekiranya menghadang jalannya. Dia benar-benar mengebut, di hari yang sudah malam itu.
Tak berselang lama, dia akhirnya sampai. Begitu Maya turun dari mobil, dia segera mengetuk pintu rumah Diana dengan kasar.
"Diana, keluar kamu sialan!" teriak Maya dengan kalap.
Diana yang tadinya sedang bersiap untuk tidur, tersentak mendengar suara tersebut. Dia cepat-cepat bangun, dan turun ke bawah untuk membukakan pintu rumah.
Matanya menatap tajam, tatkala melihat Maya lagi-lagi ada di hadapannya. "Pelankan suaramu, anak-anakku sudah tidur!" pekiknya marah.
"Aku tidak peduli, Diana. Sekarang suruh Mas Arya untuk keluar. Dia harus pulang bersamaku, jika tidak, aku yang akan menyeretnya sendiri!" teriak Maya, tanpa memelankan suaranya sedikit pun.
"Kamu gila?" geram Diana, dia mendorong Maya untuk keluar sebelum dia menutup pintu rumahnya. "Siapa yang kamu cari, hah? Tidak ada Mas Arya di sini. Untuk apa kamu datang?" geram Diana marah.
"Aku tak percaya, kamu pasti menyembunyikannya di dalam, kan? Makanya kamu tidak memperbolehkanku untuk masuk. Menyingkirlah, sialan. Aku harus mencarinya di dalam rumah!" Maya kalap, dia berusaha masuk ke dalam rumah Diana meskipun rivalnya itu terus berkata jika suaminya tak ada di sini.
"Hentikan, Maya. Kalau kamu gila, jangan bawa-bawa keluargaku lagi! Pergi atau aku akan memanggil warga untuk mengusirmu!" ancam Diana bersikeras.
Tentu saja hal ini semakin membuat Maya semakin marah. Wanita itu geram, karena Diana berusaha untuk menahannya. Dia yang diliputi kemarahan yang menggebu, membuatnya segera mengangkat tangan untuk melayangkan pukulan pada Diana.
Namun, gerakan itu terhenti. Maya masih beluk menyentuh pipi Diana, ketika tangannya ditahan seseorang dari belakang. Saat menoleh, Maya menggeram mendapati anak sulung Diana. "Lepaskan aku sialan!" umpatnya marah.
Ara melepaskan, tetapi dengan menghempaskan sedikit kasar. Dia lalu berdiri di hadapan sang ibu, menatap Maya dengan tajam. "Apa yang Tante lakukan, hah? Untuk apa datang ke sini?"
Tentu saja, Ara tak akan pernah lupa. Meskipun wajahnya sedikit berubah akibat termakan usia, dia masih tetap mengenali wanita paruh baya di depannya itu sebagai istri sang ayah. Wanita yang pernah menghancurkan keluarganya.
"Kamu anak kecil, jangan ikut campur urusanku!" bentak Maya marah.
"Tentu saja ini urusanku. Tante datang ke rumahku dengan marah-marah. Bahkan hampir saja menyakiti ibuku jika tidak lebih dulu kutahan!" balas Ara berbalik membentak. "Apa Tante ingin masuk penjara? Jika tidak, segeralah pergi dari sini!"
"Aku tidak akan pergi sebelum suamiku pulang. Dia pasti ada di dalam, disembunyikan oleh ibumu!" jawab Maya, menatap Ara dengan mata berapi-api.
"Dia tidak ada di sini, Ara. Dia hanya menuduh tanpa bukti," ungkap Diana.
Ara yang mendengar itu, langsung menoleh kembali pada Maya. "Tante dengar sendiri, kan? Tidak ada suami Tante di sini, sekarang pergilah."
"Aku tidak mau. Aku--"
"Jangan salahkan aku jika aku melaporkan Tante pada polisi karena telah membuat kegaduhan di rumah orang pada malam hari." Ara menyela ucapan Maya, sambil meraih teleponnya dan menelan nomor darurat.
Tentu saja hal ini membuat Maya berdecak. Dia masih ingin keras kepala. Tapi jika harus berurusan dengan polisi rasanya dia enggan. Wanita itu akhirnya menatap tajam Ara dan Diana bergantian, sebelum akhirnya berbalik dan pergi begitu saja dengan marah.
Sedangkan Ara, masih diam berdiri di tempatnya sampai melihat mobil itu mulai hilang dari pandangannya. Setelahnya, dia menatap sang ibu dengan raut wajah penasaran. "Bun," panggilnya.
Hanya satu kata, tapi Diana tahu jika Ara menginginkan kamu penjelasan yang lebih. Akhirnya, wanita paruh baya itu menggiring Ara untuk masuk ke dalam rumah. Tak lupa dengan mengunci pintunya kembali.
Diana tampak lelah, tubuhnya masih tegang akibat gemetar. Ara yang melihat itu segera berinisiatif untuk mengambilkan air minum.
"Ceritakan semuanya, Bunda. Ara ingin mendengarnya. Jangan coba-coba menutupinya, karena Ara akan marah jika Bunda menyembunyikan sesuatu!" pinta Ara mendesak. Suaranya terdengar tegas, seolah tak menerima penolakan sama sekali.
Hal ini membuat Diana menghela napas panjang setelah meminum air putihnya. Wanita paruh baya itu meraih tangan Ara untuk digenggam, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Sebenarnya...."
Diana menceritakan segalanya pada Ara. Termasuk kedatangan Maya dan Sherly untuk pertama kali di rumah ini. Dia juga menceritakan, soal tuduhan Maya yang menyebut dirinya masih berhubungan dengan Arya. Diana menceritakan tentang salon Ara juga. Dia benar-benar tak menutupi semuanya, karena dia yakin jika Ara berhak tahu tentang hal ini. Terakhir, dia menceritakan tentang kedatangan Maya malam ini.
Ara mendesah kasar setelah mendengar semua cerita ibunya. Entah kenapa, dia merasa kepalanya sedikit pusing. "Bisa-bisanya mereka mempermainkan kita," gumamnya lirih penuh keluhan.
"Bunda benar-benar tak berhubungan lagi dengan ayahmu, Ara. Bunda bahkan tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Bunda tidak--"
"Bun." Ara menyela ucapan sang ibu yang sedang meyakinkankannya. "Ara percaya pada Bunda. Jangan khawatir, oke? Ara tahu, jika merekalah yang licik di sini," katanya menenangkan sang ibu.
Perlahan, senyum Diana tampak merekah. Dia langsung memeluk Ara dengan erat. "Terima kasih, Nak," katanya dengan embusan napas lega yang begitu panjang.
Ara mengangguk, mengusap punggung sang ibu. "Tenang saja, biarkan Ara yang mengurusi semuanya. Mulai sekarang, jangan buka pintu untuk mereka lagi. Bahkan jika mereka membuat kegaduhan, jangan menemuinya."
"Aku percaya padamu," kata Diana kemudian.
Ara tersenyum tipis, menyembunyikan suasana hatinya yang buruk setelah mendapat kabar ini dari ibunya. Dia tak menyangka jika masa lalu keluarganya akan kembali mengusik kehidupannya yang kini sudah tenang.