I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 8



Senja di ujung Barat sudah mulai nampak. Anak-anak yang sedang bermain di taman segera berpamitan satu sama lain untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum wanita yang melahirkan mereka memanggil dan menceramahinya karena main seharian sementara tugas sekolah belum dikerjakan.


Bersamaan dengan berhamburannya anak-anak itu, si kembar ikut berpamitan pada teman-temannya, mereka berjanji akan bermain lagi esok hari setelah pulang sekolah.


"Keisha! Ayo, pulang!" ajak Khansa, menyadarkan sang kembaran yang sedari tadi sibuk dengan buku bacaan. Keisha memang ikut bermain di taman, tapi dia fokus sendiri dengan buku, sementara kembarannya bermain dengan teman-teman lainnya. Itu memang sudah menjadi kebiasaan, Keisha tidak terlalu suka bermain layaknya anak-anak, dia lebih suka diam dan membaca. Buku yang dibacanya pun bukan komik, cerita pendek, atau novel. Melainkan buku pengetahuan. Pantas saja Keisha juara di kelasnya.


"Keisha! Ayo!" Kembali Khansa memanggil kembarannya yang masih terduduk di kursi dengan anggunly.


Setelah mendengus kesal, Khansa mendekati Keisha lalu menepuknya pelan. "Ayo!" pekiknya sembari merapikan buku-buku yang dibawa Keisha, kemudian dia masukkan ke tote bag yang dibawanya, lalu menjinjingnya sembari menuntun Keisha supaya segera beranjak pulang. Jika tidak begini, maka Keisha akan tetap fokus membaca bahkan hingga malam tiba. Mungkin.


"Bunda, Kakak ada di mana?" tanya Khansa ketika sudah sampai di rumah beberapa menit yang lalu. Di tangannya kini ada setumpuk buku dan alat tulis.


"Sepertinya ada di kamar, ada apa, Sayang?" tanya Diana yang sedang menyapu halaman. Padahal tadi pagi sudah dia sapu, tapi akibat cuaca hari ini begitu berangin, membuat banyak daun-daun kering berserakan. Diana tak suka melihat sesuatu yang kotor atau tak rapi, alhasil dia langsung menyapunya dengan suka cita. Hal yang disebut Diana dengan mengisi waktu luang.


"Ada PR, mau minta tolong Kakak," jawab Khansa. Namun, segera dihalang oleh sang kembaran–Keisha.


"Jangan bertanya terus sama Kakak! Kamu harus belajar sendiri! Bagaimana bisa jika selalu meminta bantuan kakak. Ayo, aku bantu ajarkan! Aku sudah selesai megerjakan PR-nya." Keisha selalu berusaha mencegah Khansa setiap kali Khansa akan mengganggu istirahat Ara.


Khansa tersenyum, "Ya sudah, aku lihat hasil PR kamu saja, Kei," jawabnya enteng.


Keisha langsung menggeleng. "Tidak boleh, Khansa! Ayo! Kamu harus mengerjakan sendiri! Kalau tidak ada yang dimengerti, aku akan bantu jelaskan," tutur Keisha bijak. Yang dibalas dengusan kesal serta bibir yang monyong oleh Khansa.


Hingga senja semakin menyebar di ujung Barat, Khansa belum selesai mengerjakan PR-nya. Keisha lama-lama merasa bosan karena sang kembaran sangat malas, padahal jika tidak malas Khansa juga berpeluang masuk tiga besar, seperti Keisha—juara 1 di kelas.


Keisha bangkit dari duduknya di teras rumah, kemudian masuk ke dalam untuk mengambil air karena kerongkongannya terasa kering. Melihat Keisha pergi, Khansa langsung kabur ke kamar Ara, untuk meminta bantuan sang kakak supaya PR-nya segera beres tanpa perlu berpikir banyak-banyak.


Tanpa mengetuk pintu, Khansa langsung membuka kamar Ara. Tampaklah sang Kakak yang sedang berhias dengan pakaian cantik dan terlihat seperti bidadari tanpa sayap. Sosok kakak yang selalu dikagumi oleh si kembar.


"Ya ampun! Cantik sekali! Itu Kakakku atau bidadari?" goda Khansa kemudian masuk ke dalam kamar dan gelendotan di punggung Ara yang duduk di depan meja rias. Khansa memang manja, sama seperti Ara ketika seusianya.


"Kakak mau ke mana?" tanya Khansa sembari fokus melihat Ara di cermin, dia sedang mewarnai bibirnya dengan lip-tint teknik ombre.


"Kakak, aku—"


Ara tahu betul apa tujuan adiknya datang ke sini. "PR lagi?" tebaknya.


Khansa terkikik geli kemudian mengangguk.


Sebelum Ara merespons, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Khansa segera mengambil ponsel Ara untuk dia berikan kepada kakaknya itu, tapi tanpa sengaja dia membaca sebuah nama yang mengirim chat kepada Ara barusan.


"Al?" ucapnya.