
Al beralih menatap Ara dengan tatapan penuh harapan. Pria itu bersikap sangat tenang dan tidak membiarkan hal apapun merubah niatnya.
Pria itu sudah menyadari tentang tujuannya, dan dia hanya ingin menikah dengan Ara. Kini bukannya merasa ragu, tekadnya semakin bertambah kuat.
“Kamu tahu apapun yang terjadi, aku tidak akan berhenti untuk meyakinkan kamu,” ucap Al.
Bagaimana Ara bisa memberikan jawaban pasti jika pria itu terus saja membuat dirinya luluh. Ara terus saja merasa bimbang.
Di satu sisi, Ara ingin sekali menerima lamaran Al. Dia masih memiliki perasaan yang sama pada pria itu. Tetapi disisi lain, Ara ragu dengan keputusannya.
Tidak ada yang bisa menebak masa depan, dan Ara hanya ingin melakukan hal terbaik sehingga dia tidak akan salah langkah nantinya.
Meski Al sudah berusaha untuk meyakinkan Ara sejak tadi, wanita itu masih saja terlihat ragu.
“Kamu tahu aku tidak pandai berbohong,” kata Al.
“Sama halnya kali ini, aku tidak bisa bohong jika aku mau kamu jadi pendamping hidupku,” lanjut Al lagi.
Kedua adik kembar Ara itu hanya menatap semua kejadian itu dengan mata berbinar. Mereka senang karena ada sosok pria gentle yang datang dan melamar kakak mereka itu.
Pria itu tidak hanya memberikan kalimat omong kosong belaka, dia bahkan tidak terlihat seperti sedang menipu.
“Aku juga ingin bertemu dengan pemuda berani seperti itu,” ucap Keizha.
Mendengar hal itu, Kansha lantas mengangguk dengan cepat.
“Aku tidak bisa membayangkan ekspresimu jika itu benar terjadi nanti,” sambung Kansha.
Jika kedua saudara kembar itu saja merasa takjub, bagaimana bisa Ayah dan Bunda Ara tidak merasa tersentuh? Mereka berdua bisa melihat keyakinan yang Al tunjukkan sejak tadi.
“Kenapa kamu sangat yakin?” ucap Bundanya Ara.
Meski dia sudah merasa setuju dengan Al, dia tetap saja tidak akan mengatakan bahwa dia setuju dengan cepat.
Dia juga ingin mengutamakan kebahagiaan putrinya itu.
Mendengar hal itu, Al lantas berbalik dan menatap ke arah Diana dan Arya yang berdiri berdampingan.
“Karena Ara yang sudah membuat saya yakin,” ucap Al.
“Saya tahu bahwa saya akan menyesal seumur hidup jika tidak mengutarakan niat saya untuk melamar Ara hari ini,” sambung Al lagi.
Arya dan Diana lantas menatap satu sama lain.
“Saya datang untuk meminta restu. Saya juga ingin keluarga Ara berkumpul dengan lengkap seperti saat ini,” kata Al.
Ara mengedipkan mata tidak percaya setelah dia mendengar hal itu. Ternyata Al juga sengaja datang agar dia bisa membuat keluarga Ara berkumpul lagi.
“Ya Tuhan. Tolong berikan aku petunjuk,” batin Ara.
Jika memang semua ini adalah petunjuk yang dia harapkan sejak tadi, lantas mengapa dia masih saja belum merasa yakin?
“Apa kalian akan memberi restu pada kami?” tanya Al.
Kini Diana dan Arya sudah tidak bisa lagi menolak. Semua orang yang berada di sana sudah setuju, kecuali Ara. Dan karena Ara adalah pemeran utama di sana, maka jawabannya akan selalu penting.
Bahkan jika kedua adik kembar Ara itu ikut ditanyakan pendapat mereka, maka mereka berdua juga akan setuju dengan cepat.
“Sebenarnya saya menyerahkan semuanya pada Ara,” kata Diana.
Arya juga ikut mengangguk pelan sebagai jawaban bahwa dia juga setuju.
Mendengar hal itu, Al sudah merasa yakin bahwa kedua orang tua Ara sudah setuju dan memberikan restunya untuk Al. Kini pria itu hanya perlu meyakinkan Ara.
Jadi setelah itu Al kembali menatap pada Ara yang masih saja diam sejak tadi.
“Orang tuamu sudah setuju, dan aku tidak akan pernah bosan untuk menunggu jawaban darimu,” kata Al.
“Tapi tolong, aku tidak mau kita menunda terlalu lama,” lanjut Al lagi.
Dia bisa menunggu Ara sampai kapanpun. Tetapi dia tidak ingin menghabiskan waktu dengan membuat Ara ragu dengan dirinya.
“Aku,” ucap Ara.
Dia tidak tahu apa yang akan dia katakan saat ini. Tetapi karena Al terus saja menatap dirinya dengan sangat lembut, Ara lantas merasa goyah.
“Aku takut,” ucap Ara.
“Apa yang kamu takutkan?” tanya Al memastikan.
Meski dia tahu bahwa Ara ragu dengan bahwa keluarga Al akan menerima dirinya atau tidak, Al masih saja mencoba untuk bertanya.
“Aku takut keluargamu tidak akan setuju dengan keputusan yang kamu buat ini, aku sadar akan posisiku,” kata Ara.
Wanita itu kini mulai mengutarakan semua ketakutannya. Dia hanya tidak yakin bahwa keluarga Al akan menerima dirinya dengan mudah.
Bagaimana jika ketakutan Ara itu menjadi kenyataan dan keluarga Al memang tidak menyukai dirinya? Ara takut jika rintangan di depan mereka akan sangat sulit nantinya.
Sudah Al duga. Memang tidak mudah untuk menggantungkan hidup mereka hanya dengan perkataan. Seyakin apapun Al berbicara, masih belum tentu menjadi kenyataan.
Setiap wanita akan membutuhkan bukti nyata, dan tidak hanya sekedar perkataan belaka.
“Apa kau ragu?” tanya Al memastikan.
“Tidak, ah sedikit,” balas Ara cepat.
“Aku hanya belum yakin bahwa semua akan berjalan dengan mudah,” lanjut Ara.
Dia tidak ingin membuat Al merasa bahwa dia masih ragu dengan ucapan pria itu sejak tadi. Dia hanya ingin mengatakan bahwa dia tidak ingin menganggap remeh tanggapan keluarga pria itu.
Al menggenggam tangan Ara dan berusaha untuk meyakinkan wanita yang dia cintai itu.
“Aku tahu jika kata-kata saja tidak akan pernah cukup,” ucap Al.
“Tapi aku berusaha untuk mengutarakan niatku untuk melamarmu lebih dulu. Bukankah aku sudah menunjukkan dengan jelas bahwa aku lebih memilihmu?” lanjut Al lagi.
Pria itu sedang tidak membicarakan tentang omong kosong. Karena jika dia memang berbohong dan hanya sekedar main-main, maka dia tidak akan datang untuk melamar Ara di hadapan orang tua wanita itu.
Ara merasa bahwa semua yang diucapkan oleh Al itu ada benarnya. Pria itu bisa saja pergi dan tidak lagi berada di dekat Ara jika dia tidak ingin serius dengan dirinya.
“Jika itu yang kamu takutkan, aku tidak akan pernah biarkan kamu melewati semuanya sendirian,” kata Al.
“Aku janji, apapun yang terjadi akan selalu bersama dan mengutamakan kamu dalam segala hal,” lanjut Al lagi.
Pria itu berkata dengan sangat yakin. Dia berusaha menyalurkan rasa yakinnya itu pada Ara. Ingat yang pria itu katakan sebelumnya? Dia tidak akan mundur dan akan terus berusaha untuk meyakinkan Ara.
“Dibandingkan dengan keluargaku yang belum tentu setuju,” ucap Al sengaja menggantungkan kalimatnya.
Ara berusaha untuk mendengarkan ucapan pria itu. Dia hanya diam dan itu membuat Al tahu bahwa Ara sedang mendengarkan dirinya saat ini.
“Aku lebih takut kamu akan pergi meninggalkanku,” kata Al melanjutkan kalimatnya.