I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 50



Ara tengah berdiri di depan cermin. Memutar-mitra tubuhnya penuh pesona untuk melihat pantulan dirinya yang kini hanya berbalut lingerie merah yang begitu seksi yang hanya menutupi gunungan miliknya dan juga lorong indahnya. Jubah transparan begitu tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bak gitar spanyol.


Dia terkekeh sendiri melihat penampilannya, lalu menarik napasnya dalam untuk menenangkan dirinya yang sudah gugup. Ara cepat-cepat duduk kembali di sofa, meraih teleponnya untuk melihat pukul berapa sekarang.


"Kenapa dia tak datang-datang juga!" keluh Ara mulai cemberut.


Sudah dua jam dia di apartemen ini. Membersihkan dirinya dengan wewangian parfum. Bahkan merias dirinya secantik mungkin untuk menyambut kedatangan kekasih bulenya itu.


"Menyebalkan!" gumam Ara yang lama-lama kesal, wanita itu memutuskan untuk beranjak ke ranjang, lalu membaringkan tubuhnya kasar di sana. Ara menutupi tubuh seksinya dengan selimut, lalu memejamkan mata dan bersiap untuk tidur saja.


Namun, hampir beberapa menit berlalu dia sama sekali tak bisa istirahat dengan tenang. Jantungnya selalu berdegup kencang, begitu tidak sabar untuk bertemu Al.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Ara dengan lelah. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah dan mencari camilan. Tiba-tiba saja mulutnya terasa gatal, dan ingin mengunyah sesuatu.


Tepat saat itulah, dia mendengar pintu apartemennya berbunyi 'klik'. Entah kenapa hal ini membuat Ara panik, dia dengan cepat berlari lagi naik ke lantai atas, dan bersembunyi di balik pintu kamarnya.


Dia terus tersenyum, tak sabar untuk mengejutkan Al. Sesekali dia menggigit kecil bibir bawahnya karena merasa gemas dengan sikapnya sendiri.


"Ara..."


"Sayang, kamu di mana?"


Dari balik pintu itu, Ara hanya menahan suara tawanya dengan tangan yang menutup mulut. Wanita itu berusaha agar tak terkekeh, agar posisinya tidak diketahui lelaki bulenya itu.


Pintu terbuka, dan sosok Al masuk. Ara semakin memepet dinding, seolah masih tak ingin menunjukan keberadaannya.


Al sendiri tampak bingung, dia melihat barang-barang Ara tapi tak menemukan kekasih gelapnya itu. Lelaki itu meraih telepon, baru saja akan menghubungi Ara ketika sebuah pelukan tiba-tiba menyergapnya dari belakang.


"Hola, Baby!" bisik Ara lembut di telinga Al. Wanita itu sengaja berjinjit, agar bisa menyamakan tingginya dengan lelaki bule itu.


Senyum Al merekah, dia melepaskan kaitan tangan Ara di lehernya. Lalu memutar tubuhnya untuk menghadap wanita itu. Wajah Al terkejut dengan tatapan yang menggoda saat melihat penampilan Ara sekarang.


"Kamu benar benar mengejutkanku," kata Al tersenyum dengan misterius.


Ara yang tahu maksud dari ucapan Al, segera mendorong tubuh Al lalu melangkah mundur. Dia sengaja menyandarkan tubuh di dinding, lalu mengangkat satu kakinya menekuk ke samping dengan menggoda. Satu tangan Ara terangkat ke atas, sedangkan tangan yang lain dia gunakan untuk melambai pada Al. Ara sengaja berpose menggoda, wajahnya begitu mesum dengan bibir bawah tergigit kecil.


"Sial!" Melihat hal itu, Al mengumpat. Dia tidak tahan lagi dengan pesona Ara. Segera membuka jasnya, mendekati Ara tergesa lalu menyergap wanita itu dengan ciuman yang ganas.


Rindu yang menumpuk membuat Ara sedikit liar. Masih dengan bibir yang terus menempel pada ******* Al, dia mencoba melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuh lelaki itu. Ara terkekeh, melihat wajah Al memerah penuh nafsu sekarang.


"Biarkan aku menghukummu, Ara!" decak Al ketika ciuman itu terlepas. Dia menggendong Ara mendekati ranjang, dan menjatuhkannya begitu saja.


Al merogoh saku celana. Ternyata, dia telah siap dengan membawa sebuah tali. Lelaki itu tampak agresif, saat mulai mengikat kedua tangan Ara ke sisi ranjang.


"Aku tidak akan berhenti, sampai kamu benar-benar meneriakkan namaku dalam kenikmatanmu, Ara!" Ternyata, bukan hanya tangan. Al juga mengikat kedua kaki Ara pada kedua sisi ranjang.


Kini wanita itu benar-benar dalam posisi seperti huruf X. Tampil menggoda dengan tubuh yang masih terbalut lingerie merah kurang bahan.


Al melepaskan semua bajunya, lalu segera memulai permainannya. Dia mengusapkan jari-jarinya, dari kaki Ara sampai pangkal paha wanita itu.


Tubuh Ara menggelinjang. Bahkan sebelum jari itu menyentuh titik kenikmatannya, Ara merasakan sensasi panas di tubuhnya. Dia yang terikat dan tak bisa bergerak sedikit pun membuatnya merasakan kenikmatan sensasi baru dalam hal bercinta. Ini untuk pertama kalinya, Al bersikap seperti ini. Terkesan sedikit kasar, tapi entah kenapa Ara menyukai.


Dia tak bisa meremas kepala Al seperti biasanya. Atau mengapit kepala lelaki itu dengan kedua pahanya. Bahkan, tangannya tak bisa meremas bagian gunungnya yang kini memuncak penuh ketegangan. Ara benar-benar tak berdaya, hanya bisa menggeliatkan tubuhnya saat kenikmatan itu mulai datang.


"Al," panggil Ara dengan suaranya yang serak. "Lepaskan aku, please!" mohonnya penuh *******. Dia mendongakkan kepala dengan mata yang terpejam.


"Masih belum, Sayang. Hukumanmu belum berakhir!" jawab Al terkekeh dari bawah. Lelaki itu berada di atas perut Ara, menikmati milik Ara yang kini basah akibat permainan jarinya.


"Al ... tolong." Rasa itu semakin menggelora, membawa Ara terbang di angan-angan sampai di titik terakhir puncaknya. Wanita itu menggelinjang, saat merasakan sesuatu keluar dari dalam tubuhnya.


Al yang melihat itu tersenyum puas, dia merasa senang dia bisa mengalahkan Ara di permainan pertama. "Kamu ingin lagi?" tanyanya menggoda.


"No, please. Aku butuh kamu!" desah Ara menatap Al dengan matanya yang sayu.


Hal ini membuat Al mau tak mau beranjak. Dia membuka semua ikatan tali Ara. Lalu membawa wanita itu ke dalam pelukan dan menyambut ciumannya.


Tubuh Al terjatuh ketika Ara mendorongnya sedikit kasar. Al hanya bisa terkekeh, saat dirinya kini berada dibawah kendali wanita itu. Ara naik ke atas tubuhnya, dan mulai memuaskan miliknya yang sudah tegang sejak tadi.


Kini, gantian Al yang berada di posisi Ara. Lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa. Hanya pasrah menerima goyangan Ara dengan matanya yang terpejam.


"Sialan kamu, Ara!" decak Al, ketika merasakan kenikmatan luar biasa yang disajikan oleh kekasih gelapnya itu.


Tentu saja mendengar itu membuat Ara terkekeh geli. Dia menikmati bagaimana Al tampak tak berdaya di bawahnya. Wanita itu tiba-tiba saja berhenti, memutar tubuhnya untuk membelakangi Al, lalu mulai melanjutkan permainannya sambil memegangi dadanya.


'Indah,' kata itulah yang terucap dari batin Al ketika melihat pemandangan tubuh Ara dari belakang. Punggung wanita itu begitu putih bak porselen, sangat mulus tanpa cacat sedikit pun. Al tersenyum melihatnya, lalu segera memukul bokong Ara yang kini telah memerah akibat permainan yang sedikit kasar.


"Oh, Ara!" Bahkan, Al belum mengganti posisinya sama sekali, tapi dia merasakan jika dirinya hampir saja keluar. Lelaki itu telah tiba pada puncaknya, hanya karena Ara yang telah mengambil kendali. Ara benar-benar hot, menjepitnya begitu kuat sehingga miliknya terasa sesak di dalam sana.


Ara bisa merasakan tubuh Al menegang. Bukannya melanjutkan goyangannya agar Al bisa sampai puncaknya, wanita itu malah bangun tiba-tiba dan melepaskan milik Al. Dia terkekeh geli, saat mulu berbalik dan menatap Al yang wajahnya kini tampak memerah.


"Sayang sekali, karena sepertinya aku yang menghukummu kali ini!" tutur Ara mengejek dengan penuh menggoda. 


"Sialan!" Al yang melihat itu tercengang, lalu segera bangun dan melanjutkan permainannya sendiri dengan tangannya. Lelaki itu mengarahkan miliknya ke tangan Ara yang kini duduk di hadapannya. 


"Aku tak akan tinggal diam, Ara. Tak akan!" desah Al ketika dia berhasil menuntaskan miliknya. Lelaki itu tak langsung roboh begitu saja, melainkan langsung menyerang Ara ke dalam ciuman yang ganas. Sepertinya, hanya satu ronde tak akan membuat lelaki itu kalah begitu saja.