
Sinar matahari membuat Ara mulai mengubah posisi tidurnya. Dia merasa silau, yang pada akhirnya membuat matanya mengerjap. Wanita itu melenguh, menggeliat dalam tidurnya untuk merentangkan tubuh agar otot-ototnya tak merasa kaku.
Saat dia mengambil telepon untuk mengecek jam, dia terkejut mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Al. Ada satu pesan, yang membuat Ara dengan cepat membukanya.
[Datanglah ke apartemen pagi ini]
Pesan itu bahkan dikirim dini hari yang lalu, membuat Ara melongo. Wanita itu dengan cepat bangun, bergegas membersihkan diri dengan tergesa untuk bersiap. Dia yang rindu tidak ingin membuat Al menunggu lebih lama. Dia yakin, jika lelaki bule itu sudah ada di apartemen sekarang.
"Ara, mau ke mana? Kenapa terburu-buru, ayo sini sarapan dulu!"
Ara yang baru saja turun itu harus teroergok ketika ibunya memanggil. Hal ini membuatnya mau tak mau menghampiri sang ibu dan memberinya kecupan di pipi. "Maaf, Bun, Ara harus pergi sekarang. Ara ada urusan mendesak."
"Tapi, Ara ... kamu tidak mau bawa bekal?" teriak Diana melihat anaknya berlalu begitu saja.
Ara benar-benar mengabaikan sang ibu. Dia langsung berlari keluar untuk menemui sopir taksi online yang sudah dia pesan sejak dia selesai mandi tadi. Wanita itu segera menyebutkan alamatnya pada sang sopir, dan memintanya melajukan mobilnya cepat.
Tepat ketika dia sampai di apartemen, dia baru sadar jika kartu passnya ketinggalan di rumah. Dia akhirnya mendatangi resepsionis untuk meminta akses, sayangnya hal ini tidak bisa karena Ara tak tercatat sebagai pemilik atau penyewa gedung ini.
Hal ini membuatnya mau tak mau menelpon Al. Dia tahu lelaki itu pasti akan menjawab karena saat ini berada di apartemen dan tak lagi di luar.
Hampir sepuluh menit kemudian, Al turun ke bawah. Ara tersenyum geli melihat penampilan Al yang sangat tertutup. Lelaki itu memakai hoodie besar, kacamata hitam dan sebuah masker. Ara segera mengikuti setelah Al menjemputnya di lobby.
Ara merasa senang, dia baru saja akan melampiaskan rindu pada lelaki bule itu ketika tiba-tiba Al malah menatapnya tajam dengan wajah memerah menahan emosi.
"Al, ada apa?" tanya Ara mendadak kicep.
"Dasar ceroboh, kenapa kamu sampai lupa membawa kartu pass, hah? Sudah kubilang untuk selalu menyimpannya di dompet agar kamu tidak melupakannya!" bentak Al marah. "Kamu hampir saja mengekspos-ku, Ara. Kamu membuatku tampil di depan umum hanya untuk kebodohanmu itu!"
Jantung Ara berdegup kencang, dia tak menyangka jika hal ini akan menjadi masalah untuk mereka. Meskipun begitu dia tidak mau disalahkan. "Tapi, kan kamu sudah menutup semua penampilanmu, Al? Tidak mungkin ada yang tahu jika itu kamu? Aku saja bahkan tak mengenalmu jika kamu tak memanggilku tadi. Jangan berlebihan, hanya karena--"
"Berlebihan kamu bilang, Ara?" sahut Al bertanya menyela ucapan wanita itu. "Apa kamu tidak ingat perjanjian awal kita, hah? Tepat setelah kaki kita melangkah keluar dari apartemen ini, kita bukan siapa-siapa dan tak saling mengenal. Kamu melanggarnya hari ini!"
Entah kenapa ucapan Al membuat hati Ara menjadi sakit. Padahal itu adalah sebuah hal sepele baginya, tapi dia tak mengira Al akan memperpanjangnya. Wanita itu terkekeh sinis, kesabaran yang sejak dulu ditahannya, terasa membuncah dan meledak begitu saja.
Tak ingin ada pertengkaran, membuat Ara memilih diam. Dia tak ingin meladeni kemarahan Al. Pada akhirnya dia mencoba menghindar untuk pergi dari sana.
Namun, siapa sangka jika hal ini semakin membuat Al marah. Dia menarik Ara, dan menjatuhkannya begitu saja di sofa yang ada di ruang tamu itu. Al menindih Ara, mencengkram pipinya kasar sambil menatap tajam.
Napas Ara menderu, dia tak menyangka jika sikap Al bisa buruk juga. Selama ini yang dia tahu, Al selalu bersikap baik, lembut dan penuh pengertian padanya. Nyatanya, lelaki itu bisa bersikap kejam hanya karena sebuah masalah kecil.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Al!" kata Ara menjawab dengan suara yang tidak jelas akibat pipinya yang ditekan.
Al yang melihat itu menghempaskan wajah Ara begitu saja dengan kasar. Dia bertolak pinggang, memunggungi Ara. "Jangan sampai kamu mengulangi lagi, Ara! Aku tidak suka kamu ceroboh. Kebodohanmu itu bisa saja membuatku terancam!"
"Aku benci padamu, Al!" pekik Ara dengan lirih. "Sudah dua kali ini kamu bersikap main tangan padaku."
"Jika kamu tidak membuat kesalahan, aku tak akan seperti ini, Ara!" jawab Al ketus, kembali membalik badan menatap Ara tidak senang.
"Oh, ya?" Ara terkekeh. "Hal seperti itu selalu saja kamu anggap sebagai kesalahan. Kenapa aku tidak pernah benar di matamu, Al? Pernah suatu kali aku bertanya tentangmu, tapi kamu marah dan menganggap itu kesalahan. Aku bosan dengan sikapmu ini!" pekiknya meluapkan kekesalan.
Ingin sekali Ara mengeluhkan tentang segala hal yang ada pada diri Al. Tapi dia tidak ingin membuat masalah hari ini menjadi semakin runyam.
Entah apa yang terjadi, Al tak menjawab. Lelaki itu hanya mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia benar-benar diam, bahkan tak mau menatap Ara.
Hal ini membuat Ara menggelengkan kepala, menatap Al tak percaya. Dia baru saja akan kembali mengajak lelaki itu berdebat, ketika teleponnya berdering nyaring. Ingin sekali Ara mengabaikan tapi panggilan itu kembali berdering sampai tiga kali.
Mau tak mau, Ara mengangkatnya. "Halo, Rina, ada apa?"
"Mbak ... Mbak Ara di mana? Mbak datang ke salon sekarang juga, ya. Ada masalah genting yang sedang terjadi," jawab Rina, karyawan kepercayaan Ara.
"Masalah apa, Rin?" tanya Ara penuh selidik.
"Panjang kalau dijelasin, Mbak. Mbak cepetan datang aja pokoknya, orang yang membuat gaduh masih ada di sini."
Tepat setelah itu, panggilan terputus begitu saja. Hal ini membuat perasaan Ara tidak enak. Akhirnya wanita itu berdiri, merapikan penampilannya lagi untuk beranjak dari sana.
"Ara, kamu ke mana?" tanya Al melihat Ara pergi tanpa berpamitan padanya. "Ara!"
Ara yang kesal dengan sikap Al, mengabaikan lelaki itu. Dia tak memperdulikan teriakan marah Al, dan terus berjalan ke pintu lift. Untung jika hanya turun, mereka tak perlu membawa kartu pass. Jadi Ara bisa leluasa pergi tanpa meminta bantuan Al.
Wanita itu segera turun ke lantai bawah, dia memanggil taksi untuk mengantarkannya ke kantor. Sepanjang jalan, telepon Ara berdering dari Al. Wanita itu mengangkatnya, mendengarkan teriakan-teriakan penuh emosi Al yang memintanya kembali, tapi dia tetap diam dan tak mau meladeni Al yang marah.