
"Aaa!!!"
Suara teriakan langsung memenuhi ruangan salon itu. Para pelanggan lang berlarian panik menyelamatkan diri. Begitu pula dengan para karyawan salon, yang sebagian menghindar dan sebagai lagi berusaha melawan para preman.
Ara sendiri langsung turun dengan cepat. Wanita itu panik, melihat bagaimana beberapa barang di salonnya sudah hancur berantakan. Dia berusaha menyelamatkan, tapi sayang benda-benda tersebut telah rusak.
"Berhenti!" teriaknya marah begitu lantang. Dada Ara naik turun penuh emosi. Tatapan matanya tampak begitu tajam. "Nona Naura, hentikan semua kegilaan ini atau aku akan melaporkannya pada polisi!" bentaknya sambil mendekati Naura, wanita si pembuat onar.
"Rasakan, ini akibatnya karena kamu meremehkanku!" tutur Naura tersenyum sinis. Tanpa memperdulikan yang terjadi lagi, dia segera pergi dari sana.
Hal ini membuat Ara menjadi geram, ingin sekali dia menghentikan, tapi dia lebih mementingkan kekacauan yang terjadi di salonnya. Wanita itu dengan berani kembali mendekati para preman, kali ini ada sapu di tangannya. Dia berusaha menghentikan preman-preman itu, sayang sekali karena tenangnya yang tak sepadan membuatnya dengan mudah terdorong jatuh.
"Mbak Ara!" Rina panik, mendekati bosnya untuk segera menolong.
Tubuh Ara menjadi sakit, apalagi saat beberapa pecahan kaca tertancap di tangannya. Wanita itu merasa lemas, bagaimana barang-barang salonnya mulai hancur.
Di tengah keputusasaannya itu, tiba-tiba pintu salin terbuka lebar. Beberapa lelaki masuk dengan pakaian yang rapi. Tak tahu dari mana mereka datang, mereka langsung menangani para preman.
Melihat hal tersebut, membuat Ara menjadi bingung. Dia tampak pasrah saat Rina menariknya untuk menjauh dari sana. Ara hanya bisa tercengang, saat orang-orang yang baru saja datang itu melawan para preman. Mereka bahkan tak segan membuat para preman babak belur, dan langsung membawa preman-preman itu pergi begitu saja.
Menyaksikan semua itu, tentu saja membuat Ara syok. Dia seperti baru saja melihat film laga di depan matanya sendiri. Ara tersentak kaget, saat Rina ternyata menyenggolnya dengan keras.
"Mbak, mereka siapa?" tanya Rina pemasaran.
Dengan polosnya Ara menggeleng, karena dia sendiri pun tidak tahu. "Mungkin saja pertolongan dari Tuhan," jawab Ara asal-asalan.
Setelah itu, Ara menatap bagaimana rupa salonnya sekarang. Wanita itu menghela napas panjang dengan kasar, saat melihat barang-barang salonnya sudah hancur sebagian. Tangan Ara reflek memijat pangkal hidungnya akibat rasa pusing yang mendera.
"Sepertinya dia wanita gila ya, Mbak. Bisa-bisanya dia nekat melakukan hal ini terang-terangan!" sahut Widi, salah seorang karyawan Ara. Sindirannya merajuk pada wanita pembuat onar tadi.
Ara mengangguk. "Semoga sekali saja bertemu dengan orang tidak waras seperti itu!" ucapnya mendesah. Dia lalu berdua, mengambil minum dari lemari pendingin. Setelah selesai menenggaknya, dia melirik ke arah cctv yang terpasang di sudut ruangan. "Rina, telepon polisi. Laporkan kejadian penyerangan ini. Aku tidak mau melepaskan Naura begitu saja. Beraninya dia mengacaukan salonku!" tuturnya menggeram penuh amarah.
Sedangkan yang lain, diminta Ara untuk istirahat. Ara tak membiarkan para pegawainya membereskan kekacauan tersebut, karena ingin menunjukkan bukti pada polisi.
Hari sudah beranjak sore ketika polisi akhirnya selesai membuat laporan dan menyelidiki tkp. Ara merasa lega, karena polisi bertindak cepat dan langsung menetapkan tersangka dengan bukti rekaman video cctv.
Setelah selesai semuanya, kini Ara kembali pulang ke rumah. Dia sangat lelah, dan ingin istirahat dengan masalah yang terjadi hari ini. Selain itu, dia harus memikirkan berapa kerugian yang harus dia tanggung.
"Sepertinya aku harus menjual perhiasan lagi untuk memenuhi kebutuhan salon," gumam Ara melamun saat pikirannya tertuju pada salon.
Tapi sedetik kemudian, dia tersentak. Ara baru ingat tentang Al. Dia lupa, jika lelaki itu ada di apartemen. Ara tak sempat beristirahat, dan langsung pergi lagi ke apartemen. Dia berniat untuk meminta maaf atas sikapnya pagi tadi yang menyebalkan.
Di tengah-tengah perjalanan, Ara teringat tentang orang-orang yang dayang menghajar para preman tadi. Entah kenapa, Ara berpikir jika orang-orang itu adalah suruhannya Al. Dia ingat lagi, bagaimana Al tahu tentang Saka. Ara yakin, jika selama ini Al selalu memantau kehidupannya.
"Jika memang benar dia yang melakukannya, aku harus berterima kasih," gumam Ara tersenyum senang.
Dia sampai apartemen tak lama kemudian. Mengingat lagi tentang ucapan Al tadi pagi, membuat Ara tak lupa membawa kartu pass-nya. Kini wanita itu tak kesusahan untuk masuk ke dalam apartemen.
Sayangnya, saat Ara masuk ke dalam huniannya itu, dia sama sekalian tak menemukan keberadaan Al. Hal ini membuat Ara kecewa, karena Al pergi tanpa pamit padanya.
"Seharusnya aku tak bersikap seperti itu tadi pagi sehingga dia tidak pergi." Ara mendesah. "Oh, Ara, padahal kamu masih rindu padanya, bisa-bisanya kamu bersikap menjengkelkan seperti itu!"
Wanita itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia memegangi telepon, dan menatap nomor Al tanpa berkedip. Ingin sekali Ara menghubungi Al, tapi dia sadar jika Al pasti akan memarahinya lagi nanti.
Di saat wanita itu hampir memejamkan mata, dia menangkap secarik kertas yang ditindih vas di nakas samping ranjang. Cepat-cepat dia mengambilnya. Ara tak bisa menyembunyikan senyumnya yang menjengkelkan saat membaca tulisan tangan Al itu.
[Lain kali, aku tidak ingin kamu membuat kesalahan lagi. Aku benar-benar akan menghukummu, Ara. Camkan itu!]
"Entah kenapa aku tidak bisa membencimu, Al!" lirih Ara sambil mengembuskan napas panjang dengan sedih.