I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 71



Ketika semua sudah dipersiapkan dengan percaya diri Al segera menuju ke salon milik Ara yang sebelumnya sudah didatangi oleh anak buahnya, Al memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari tahu mengenai lokasi salon Ara karena sengaja datang dari Turki ke Indonesia untuk menemui perempuan itu. Pesona Ara sudah membuat Al jatuh cinta bukan lagi Semata karena adalah seorang simpanan yang hanya dianggap sebagai pemuas di ranjang.


Kedatangan Al ke salon milik Ara membuat para pegawai salon tersebut tentu saja terkejut dan juga histeris, mereka semua terpana oleh pesona ketampanan pria bule yang datang ke salon khusus wanita. Mereka semua belum mengetahui apa maksud kedatangan Al ke salon itu karena sudah pasti jelas tertulis di pintu jika salon itu hanya melayani pelanggan wanita.


"Maaf, mister. Kami tidak menerima pria untuk melakukan perawatan di salon ini, karena salon ini hanya khusus untuk wanita. Sepertinya anda salah alamat dan ada salon tidak jauh dari sini di sanalah bisa melayani pria," ujar salah satu pegawai salon milik Ara bicara kepada Al yang tentu saja mengerti bahasa Indonesia.


"Kedatangan aku ke sini bukan untuk melakukan perawatan rambut dan sebagainya, aku kesini untuk bertemu dengan Ara pemilik dari salon ini. Aku ini adalah kekasihnya Al jadi tolong Izinkan aku masuk untuk menemui Ara." Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan Al dia berani mengungkapkan jika dirinya adalah kekasih dari seorang wanita.


Para pegawai salon semakin terkejut ketika mendengar pengakuan Al, tidak ada satu orang pun yang berani menolak pria itu. Maka dengan percaya diri, tanpa mengucapkan kata-kata lagi Al segera masuk ke dalam salon dan mencari ruang kerja Ara dan menunggunya disana.


"Benar tidak ya, kalau pria itu adalah kekasihnya mbak Ara? Tapi sepertinya memang benar, lihat saja penampilan pria itu. Dia bagaikan seorang pangeran dari Kerajaan Timur Tengah mana mungkin dia berani datang ke sini dan mencari Mbak Ara lalu mengaku sebagai kekasihnya, sekarang kita harus bagaimana?" Perempuan yang sempat mengusir Al merasa kebingungan karena dia tidak tahu harus berbuat apa dengan kedatangan Al ke salon secara mendadak.


Selama ini, yang mereka ketahui jika Ara sama sekali tidak punya kekasih. Jadi kecil kemungkinan jika lelaki itu memang benar kekasihnya Ara, tapi bisa saja jika selama ini Ara memang sengaja menyembunyikan statusnya dari semua orang karena sesuatu hal yang memang sudah disepakati oleh mereka berdua. Untuk itulah semua pegawai salon mulai besar spekulasi dan mempercayai tentang pengakuan Al, sehingga membiarkan lelaki itu masuk menuju ke ruang kerja Ara.


"Cepat hubungi Mbak Ara, kita harus memberitahu tentang pria bule itu." Timpal salah seorang pegawai salon lainnya.


**


Ara membuka pintu mobil dan melambaikan tangannya kepada Keizha dan Kansha. Rutinitas setiap pagi yang selalu dilakukan oleh Ara yaitu mengantar kedua adik kembarnya ke sekolah, setelah itu ara memutuskan untuk kembali ke rumah dan dia tidak akan langsung pergi ke salon karena memang tidak setiap hari dia mendatangi calon miliknya.


"Belajar yang benar, jangan bandel dan juga jangan pulang sama orang selain keluarga," pesan Ara pada kedua adiknya, saat si kembar turun dari mobil.


"Siap, bos," jawab si kembar, keduanya segera berlari menuju gerbang sekolah yang terbuka.


Ara menyalakan mobil dan segera pulang ke rumahnya, hari ini Ara tidak berniat ke salon, untuk hari ini sepertinya Ara akan memilih untuk beristirahat di rumah seharian. Tapi saat Ara hendak keluar dari mobilnya dan ingin masuk ke rumahnya, tiba-tiba dering ponsel membuatnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil. Dia melihat nomor telepon salon, dan segera menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Iya, ada apa?" tanya Ara pada pegawai salon yang menelponnya.


"Maaf, Mbak Ara sekarang ada dimana?" 


"Di rumah, baru saja pulang anterin si kembar, kenapa memangnya, apa ada masalah?" tanya Ara merasa heran, karena karyawannya tidak pernah menelpon Ara jika tidak terjadi sesuatu di salon.


"Anu, mbak. Bisa ke salon gak sekarang? Soalnya ada lelaki bule yang datang ke salon, aku sudah ngasih tau kalau disini gak melayani pelanggan pria, tapi dia maksa dan masuk ke dalam, sekarang ada di ruangan Mbak Ara." Pegawai salon menceritakan tentang kedatangan seorang lelaki bule yang memaksa masuk ke dalam untuk menunggu kedatangan Ara.


Ara tentu saja terkejut, dia tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh pegawainya. Siapa lagi kalau bukan Al, selama beberapa hari ini, Ara memang sengaja mengabaikan Al. Karena Ara tidak  ingin lagi berhubungan dengan lelaki itu, dia a cukup sadar diri dengan status sosial antara dirinya dan Al. Sehingga kemungkinan, Al sengaja datang ke salon untuk bertemu dengannya karena merasa jika Ara yang bersikap acuh pada Al.


"Ya sudah, kalau gitu aku ke salon sekarang juga. Kalian jangan takut, aku kenal sama orang itu." Ara mematikan sambungan teleponnya, dia terdiam sejenak di dalam mobil.


Ara membuang nafas dengan kasar, dia tidak mengerti kenapa Al terus saja mengganggunya. Padahal Ara sudah memberi tahu juga mengingatkan Al, jika keduanya tidak  bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Antara mereka sudah tidak ada apa-apa lagi, tapi kenapa lelaki itu masih saja ngotot. Bahkan sekarang berani mendatangi salon miliknya.


"Apa yang kau inginkan dariku, Al? Kenapa sekarang kau justru mengatakan di depan orang lain, jika aku adalah kekasihmu? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" Ara tidak habis pikir dengan sikap Al, yang selama ini dia kenal angkuh dan sombong.


Selama menjalin hubungan dan menjadi simpanannya, Ara tahu jika Al tak pernah berkomitmen apapun dengan seorang perempuan manapun, bahkan dia enggan mengakui perempuan manapun tak lebih hanya seorang teman tidur saja. Tapi sekarang lelaki itu justru membuka identitas dirinya dihadapan orang lain, mengenai status Ara.


"Kita akan selesaikan hari ini juga, setelah itu aku harap kau akan kembali ke negaramu. Tak ada lagi sesuatu hal yang penting diantara kita berdua, setelah tiga tahun lamanya kita bersama sebagai teman tidur, seperti yang selama ini kau katakan padaku." Ara menyalakan mobilnya, dia menuju ke salon. Padahal sebelumnya dia akan kembali ke rumah, tapi Ara harus menyelesaikan urusannya dengan Al.