
Wanita paruh baya yang terlihat masih cantik meskipun berpenampilan sedikit lusuh itu bersenandung. Tersenyum bahagia sambil menyanyikan lagu untuk mengiringi dirinya yang sedang memasak. Dia tengah mengorek penggorengan, memasak rendang untuk menu makan hari ini untuk putri-putrinya.
Diana baru saja mencicipi masakannya ketika mendengar bel rumahnya berbunyi. Wanita itu mengerutkan dahi dalam bingung, dan bertanya-tanya siapakah tamu yang datang di siang hari bolong ini.
Dia melepaskan appron masaknya, lalu mematikan kompor dan berjalan ke depan. Saat mengintip dari jendela, dia heran melihat sebuah mobil *** sudah terparkir di halaman rumahnya.
Bel kembali berbunyi, membuat Diana segera membuka pintunya yang terkunci dengan cepat. Dia baru saja bertanya, ketika matanya menangkap sosok seseorang yang sangat-sangat tidak ingin ditemuinya.
Diana mematung, matanya melotot dengan dada naik turun emosi. Wajahnya langsung memerah penuh amarah. "Untuk apa kalian datang ke sini?"
"Halo, Dian, bagaimana kabarmu? Sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu!"
Ternyata itu adalah Maya. Dia benar-benar tak main-main dengan ucapannya yang akan mendatangi rumah mantan istri Arya itu. Dia datang bersama Sherly, sengaja memakai pakaian mewah dan beberapa perhiasan lengkap yang memenuhi tubuhnya. Wanita itu tersenyum menyebalkan saat membalas tatapan rivalnya dulu itu.
"Kamu tak membiarkan kami masuk?" tanya Maya sekali lagi, karena Diana mematung.
"Tidak, kalian tidak diterima di sini! Pergilah, aku tak ada urusannya dengan kalian lagi!" ketus Diana tidak senang.
"Tapi kami ada urusan dengan Tante." Sherly tiba-tiba menyahut. Dia tersenyum, sengaja mendorong pelan ibu Ara itu agar sedikit menyingkir dari pintu sehingga ibunya dan dia kini bisa masuk ke dalam rumah.
Tentu saja hal ini membuat Diana sangat geram. Meskipun begitu, dia tak lagi menunjukkan emosinya terang-terangan. Dia mencoba berkepala dingin, untuk mengetahui tujuan orang-orang yang telah merusak kehidupannya dulu datang ke sini saat ini.
Wanita itu menyusul duduk di depan di tamu tak diundangnya. Diana mengangkat wajahnya penuh percaya diri, dia tak ingin melunak agar tak lagi diinjak-injak seperti dulu. "Tak ada sambutan untuk kalian, jadi segera bicaralah. Aku tak mau membuatkan minum!" ketus Diana kemudian menatap sinis dua tamunya itu.
"Santai saja, Diana. Lagipula aku juga tidak mau menyentuh hidangan darimu. Aku takut kamu akan meracuni kami," jawab Maya masih tampak tenang.
"Tch!" Mendengar hal tersebut membuat Diana berdecak kesal sambil membuang wajah.
Keadaan kembali hening. Diana masih enggan untuk mengajak tamunya bicara. Sedangkan Maya, tampak menatap Diana lekat dengan tajam. Hanya Sherly yang mengawasi ruangan rumah tersebut. Dia terlihat tidak senang saat melihat beberapa pigura foto Ara yang menunjukkan gambar-gambar sosoknya yang memegang medali. Sepertinya saudara tirinya itu memang sangat pintar.
"Jika tak ada yang ingin kalian sampaikan, pergilah! Aku masih sibuk!" tutur Diana kemudian setelah lama terdiam.
Hal ini membuat Maya terkekeh. Wanita paruh baya itu tiba-tiba berdiri, mendekati Diana dan berhenti di belakang sofa tunggal yang diduduki Diana. Tangan Maya terulur, untuk mengusap kedua bahu Diana. Bukan usapan yang lembut, melainkan sedikit erat karena cengkraman.
Diana hanya bisa menahannya. Meskipun itu sedikit mengganggunya, dia masih duduk diam tak bergerak dari tempatnya.
"Apa yang kamu lakukan selama ini untuk menghidupi keluargamu, Diana?" tanya Maya tiba-tiba sambil terkekeh sinis. "Apa selama ini kamu mengemis? Menjual diri sebagai ******? Atau malah menjadi simpanannya Mas Arya?"
"Apa maksudmu, hah?" tanya Diana memekik tidak senang.
Maya masih tersenyum. Senyum menyebalkan dan sarat akan tuduhan. "Jujur saja, selama ini kamu bisa hidup seperti ini karena Mas Arya, kan? Kamu menggodanya dan memoroti uang darinya?"
Tawa kecil keluar dari bibir Diana saat dia baru saja menghembuskan napas panjang. Wanita itu bertolak pinggang, menatap Maya dengan gelengan kepala pelan. "Kamu pikir hidupku hanya bergantung dengan lelaki bajingan itu? Tidak, Maya. Meskipun aku harus sedikit terpuruk, aku tak pernah bersedia menerima bantuan dari suamimu. Lagi pula, anakku memiliki usaha, dan dia berhasil sehingga kami bisa sampai seperti ini." Diana tampak berapi-api saat berteriak. " Lagi pula, apa kamu ke sini hanya untuk melontarkan tuduhan tanpa bukti padaku? Aku tak pernah berhubungan lagi dengan suamimu sejak kami keluar dari rumah sialan itu. Kamu salah orang jika mencurigaiku!"
"Benarkah? Lalu dari mana Mas Arya tahu jika masalah di salon anakmu itu adalah ulah Sherly?" Tidak mungkin, kan tidak ada asap kalau tidak ada api. Kamu pasti mengadukan hal ini padanya!" geram Maya menjawab kesal.
Mata Diana melotot, bukan terkejut karena tuduhan Maya. Melainkan kenyataan jika salon Ara yang didatangi para preman kemarin adalah ulah anak tirinya sendiri. Diana mendesah karena hal tersebut, menggelengkan kepala tak percaya jika orang-orang yang telah merusak hidupnya dulu bisa bersikap licik.
"Jadi, itu kerjaan kalian?" tanya Diana terkekeh sinis.
"Mama!" Sherly yang melihat raut wajah terkejut ibu Ara, menduga jika wanita itu masih belum tahu. Hal ini membuatnya segera mengeluh kesal, karena sang ibu malah membocorkan hal ini.
Maya pun sedikit heran, pasalnya Diana terlihat tidak berbohong dengan kagetnya. Dia merasa bersalah, dan menyesali dirinya sendiri telah berbicara seperti itu.
"Aku tidak mau tahu, entah itu kamu atau orang lain sekalipun yang memberitahunya, kamu jangan dekat-dekat lagi dengan Mas Arya. Jika sampai aku menemukan bukti jika kamu masih berhubungan dengan suamiku, aku tak segan untuk membunuhmu!" Ingin mengalihkan pembicaraan, Maya melontarkan ancaman pada Diana. Lalu, tanpa menunggu respon rivalnya itu, dia segera pergi dari sana dan menarik tangan Sherly dengan kasar.
Jantung Diana berdegup kencang. Dia tak menyangka jika masa lalunya kini kembali muncul untuk embgusik kehidupan bahagianya bersama anak-anaknya.
Wanita itu merasa tubuhnya lemas, dan pikirannya berkecamuk. Dia terjatuh begitu saja di sofa. Diana menyandarkan tubuhnya pelan, dengan pandangan kosong mengarah ke depan.
"Bunda, aku pulang!"
Diana baru saja melamun, ketika sebuah teriakan membuatnya tersadar. Dia gelagapan saat melihat Ara masuk ke dalam rumah. Kepalanya segera menoleh ke sana kemari, seolah memastikan dua tamu yang tak diundangnya tadi benar-benar pergi dan tak berpapasan dengan Ara.
"Bunda kenapa? Wajah Bunda kok pucat?" tanya Ara cemas, melihat ibunya berkeringat dingin.
Diana memaksakan senyum. Mendekati Ara dan menggandeng anaknya itu ke ruang makan. "Bunda baik-baik saja, Ara," jawabnya gugup, yang sesekali menoleh ke arah belakang.
Ara yang melihat itu mengerucutkan bibir, ikut menoleh seperti yang dilakukan sang ibu. Tapi dia hanya bisa mengerutkan dahi heran karena tak menemukan siapapun.
Diana menggiring Ara untuk duduk di kursi. Setelahnya dia mengambilkan minuman untuk sang anak. Wanita itu menyembunyikan kegelisahannya, di balik senyum cerianya.
'Haruskah aku memberitahu Ara soal dalang dibalik kekacauan preman yang terjadi di salon? Atau harus diam sana agar Ara tak terlalu kalap dan marah saat mengetahui jika itu ulah saudara tirinya?' Diana bertanya-tanya dalam hati, memikirkan langkah yang harus dia ambil pada sang anak, sambil memandangi bagaimana Ara menceritakan apa yang dilakukan siang ini padanya.