I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 40



Dua hari berlalu, dan Sherly benar-benar tidak sabar menunggu kabar dari Rendy. Wanita itu bahkan terlihat mendesak temannya itu untuk segera menemukan keberadaan Ara.


Wanita itu tengah mengemudikan mobil bersiap untuk pergi ke kampus, ketika teleponnya berdering dengan nyaring. Dia dengan cepat meraihnya, melihat nama Rendy tertampang di layar telepon membuat senyumnya merekah.


"Halo, Ren, bagaimana?" tanya Sherly to the point tanpa berniat untuk basa-basi.


"Kamu di mana? Aku sudah menemukannya!" balas Rendy dari seberang.


"Aku sedang dalam perjalanan ke kampus. Katakan di mana kamu, biar aku menyusul," sahut Sherly dengan tak sabar.


"Aku juga berada di kampus. Kita ketemu di kantin, ya. Aku bolos kelas pertama kuliahku hari ini."


"Baiklah, tunggu aku." Tepat setelah mengatakan hal tersebut, Sherly segera mematikan panggilan. Dia melemparkan teleponnya begitu saja di kursi samping. Lalu kembali menelan pedal gasnya kuat untuk menambah laju kendaraannya.


Tak membutuhkan waktu lama, saat Sherly akhirnya sampai di kampus. Wanita itu segera memarkirkan mobilnya di halaman kampus, lalu berjalan sedikit tergesa menuju kantin.


Beberapa kali Sherly menabrak bahu orang, tapi dia sama sekali tak berhenti. Bahkan saat yang ditabrak mengumpat padanya, dia mengabaikannya dan tak marah balik.


Senyum Sherly merekah, saat melihat Rendy berada di pojok ruangan tengah menikmati minuman es-nya. "Rendy!" Dengan segera, dia memanggilnya.


Rendy tersenyum. "Hai, Sherly, kemarilah!" pintanya sambil melambaikan tangan.


Sherly menambah laju langkahnya, bahkan kini terkesan berlari kecil. Setelahnya dia duduk di hadapan Rendy, dengan napas yang sedikit terengah. "Mana?" tanyanya langsung.


"Kamu ini, pesan minum dulu sana!" kata Rendy terkekeh melihat sikap Sherly.


"Tidak, aku tidak akan lama di sini," tutur Sherly menjawab.


"Kamu tidak akan datang ke kelas?" tanya Rendy lagi, mengangkat sebelah alisnya.


"Kamu bisa menebaknya sendiri," canda Sherly terkekeh.


Rendy tersenyum dan menggelengkan kepala melihat itu. Setelahnya, dia mengeluarkan sebuah kertas dari saku jaketnya. Lalu memberikan benda tersebut pada Sherly. "Ini, alamatnya ternyata tidak jauh dari sini. Mungkin butuh satu jam untuk sampai di sana."


"Kamu yakin ini benar-benar tempat tinggalnya, kan?" tanya Sherly penuh selidik.


"Seratus persen yakin, jika kamu tidak percaya dan terbukti gagal, aku akan mengembalikan uangmu seratus persen!" protes Rendy serius.


"Oke, santai saja ... semoga membantu. Berhati-hatilah," teriak Rendy ketika Sherly sudah pergi begitu saja dari hadapannya.


Sherly terlihat tidak sabar untuk mendatangi alamat Ara. Dia sangat ingin tahu bagaimana kehidupan saudara tirinya itu sekarang. Dia ingin memastikan, jika kehidupannya lebih layak daripada Ara.


Wanita itu kembali ke mobilnya, dia benar-benar bolos kuliah pagi ini. Dia memutuskan untuk pergi sekarang juga untuk menyelidiki alamat yang diberikan oleh Rendy. Benar-benar tidak sabar.


Benar yang dikatakan Rendy, jarak alamat tersebut dengan kampusnya tak lebih dari satu jam. Jika diatur dari rumahnya, mungkin itu hanya membutuhkan waktu tambahan selama tiga puluh menit.


Sherly tampak mengamati sekitar saat mobilnya mulai berjalan masuk ke jalanan-jalanan yang ditunjukkan oleh alamat. Sayangnya, Rendy lupa tidak menuliskan nomor berapa bangunan rumah yang dicari, membuatnya berdecak kesal karena harus mencari sendiri.


Hampir dua kali dia memutar komplek tersebut. Tapi Sherly sama sekali tak menemukan sosok Ara maupun mantan istri sang ayah.


"Akan kutagih jika kamu memberiku alamat palsu, Ren!" gumam Sherly berdecak dengan kesal.


Saat dia hampir putus asa mencari, seseorang lewat menggunakan sepeda. Tak ingin menyia-nyiakan, Sherly segera keluar dari mobil dan berlari mengejar orang tersebut.


"Pak, maaf saya mau tanya, Pak." Napas Sherly sedikit kepayahan, saat dia berhasil menyusul orang bersepeda tersebut.


"Ya, Mbak, ada apa?" tanya seseorang lelaki paruh baya yang terlihat kurus tersebut.


"Saya mencari alamat rumah teman saya, tapi dari tadi tidak ketemu-ketemu. Apa Bapak tahu rumah Arabella? Ibunya bernama Diana," ungkap Sherly bersikap sopan.


"Oh, Mbak Ara yang punya salon itu, ya. Kalau iya, itu rumahnya, Mbak. Ujung jalan rumah cat biru yang halamannya banyak tanaman bunganya," jawab lelaki paruh baya itu, sambil mengulurkan tangan menunjuk ke arah depan.


Senyum Sherly merekah. "Terima kasih, Pak."


Setelahnya, dia kembali masuk mobil dan berjalan menuju tempat yang ditunjukan orang tadi. Tepat ketika tiba di ujung jalan, Sherly bisa melihat rumah yang dimaksud.


Namun, sesampainya di sana wajah Sherly berkerut tidak senang. Pasalnya, ternyata rumah yang diyakini menjadi tempat tinggal Ara itu tidak kalah bagus dari rumahnya. Rumah itu bahkan berlantai dua, dan halamannya terlihat cantik dengan banyak bunga beraneka ragam.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian bisa hidup layak setelah ditendang dari kehidupan papa?" gumamnya kesal.


Wanita itu memutuskan untuk diam menunggu di sana. Berharap akan melihat semua orang yang hidup di masa lalu ayahnya. Tetapi, bahkan sampai hari menjelang siang pun tak ada aktifitas di rumah itu. Hal ini membuat Sherly merasa kesal, dan dia pun akhirnya kembali dengan tangan kosong karena tak mendapatkan info terbaru dari Ara dan keluarganya