I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 56



Suasana pantai itu terasa damai. Angin yang berhembus pada malam itu, tak membuat mereka kedinginan. Kebersamaan yang terjadi, membuat mereka merasa hangat.


Diana tersenyum, melihat bagaimana si kembar saling beradu di depan api unggun untuk membakar marshmallow. Hatinya merasa kah kebahagian yang mendalam, melihat anak-anaknya kini telah tumbuh menjadi dewasa.


Namun, rasanya masih kurang karena tak ada sosok Ara di antara mereka.


"Keisha, Khanza, bisakah kalian melihat kakak kalian sebentar? Jika masih tidur, biarkan saja. Tapi jika sudah bangun, cepat ajak ke sini agar suasana semakin ramai," pinta Diana menatap anak-anaknya lekat.


Si kembar langsung saling pandang. Mereka sama-sama tersenyum jahil, seolah sedang merencanakan sesuatu untuk kakak mereka.


"Siap, Bun," jawab mereka serempak, dan langsung beranjak berdiri pergi dari sana.


Sedangkan Diana, kembali menikmati hangatnya api unggun di depannya itu. Dia menoleh, ketika tak sengaja berpapasan tatap muka dengan lelaki muda yang menjadi sopir yang mengantarkan mereka siang tadi.


Diana baru saja akan beetegur sapa dengan orang itu, ketika melihat Keisha berlari panik sambil menangis. Reflek, Diana langsung berdiri dan menyambut anaknya.


"Hiks, Bunda." Geisha terisak, terlihat begitu menyedihkan.


"Apa apa, kenapa?" tanya Diana mendadak cemas, apalagi saat melihat salah satu anak kembarnya itu menunjuk ke arah villa.


Diana yang tidak sabar menunggu jawaban, segera berlari panik untuk masuk ke dalam villa. Keisha menyusul, diikuti dengan lelaki sopir tadi.


Entah kenapa, jantung Diana berdegup kencang. Dia bisa merasakan ada yang tidak beres, yang membuat hatinya merasakan perasaan tidak enak.


"Bunda."


Ternyata, dugaan Diana benar. Dia melihat bagaimana Khanza memeluk anak sulungnya yang kini tergeletak dengan banyak darah di perut.


"Ara!" Hal ini membuat Diana mendekat dengan panik. Tangisnya sudah pecah, saat dia memeluk tubuh anaknya yang tak bergerak itu.


"Apa yang terjadi, Ya Tuhan ... Ara, bangun, Nak. Bangun!" raung Diana dengan histeris.


Sopir yang berada di sana, segera mendekati Diana. "Bu, kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang."


Diana tak bisa berkata-kata. Hanya mengangguk dengan pasrah, dan meminta bantuan sopir itu untuk membawa tubuh Ara. Tangis Diana semakin menjadi, dan tubuhnya terasa begitu lemas. Untungnya, anak kembarnya itu bersedia untuk membantunya menopang tubuh.


Perjalan itu membutuhkan waktu hampir empat puluh menit. Jarak rumah sakit dengan villa yang menjadi tempat liburan mereka sedikit jauh. Untung saja, saat sampai Ara langsung ditangani dokter dan suster setempat.


"Bunda ... kakak kenapa?" tanya Keisha ikut menangis.


"Kakak akan hidup, kan, Bun? Kakak tidak akan meninggalkan kita, kan?" Kini, gantian Khanza yang bertanya.


Diana bingung untuk menjawab. Dia hanya merentangkan tangan agar anak-anaknya itu mau dipeluk. Dia sendiri bingung menenangkan dirinya sendiri, sehingga dia tak bisa menenangkan anak-anaknya.


"Berdoa saja, semoga Kakak kalian baik-baik saja." Hanya kata itulah yang akhirnya terucap untuk penghiburan diri.


Untungnya, si kembar menurut dan tak lagi rewel. Bahkan, mereka tak lagi menangis histeris dan berusaha bersikap tenang seperti apa yang dilakukan ibu mereka.


"Kalian tahu apa yang terjadi tadi?" tanya Diana setelah terdiam selama beberapa saat. Dia melepaskan pelukan itu, dan menatap anak kembarnya bergantian.


Hal ini membuat Diana memejamkan mata begitu frustasi. 'Ya, Tuhan ... siapa yang telah melakukan hal ini pada putriku?' Dia bertanya-tanya dalam hati dengan bingung.


Sedangkan di tempat lain, Arya baru saja bersiap untuk memejamkan mata ketika teleponnya berdering. Arya ingin menolaknya, tapi melihat nama Marwan di sana, membuat dahinya berkerut dalam.


Lelaki paruh baya itu akhirnya terduduk, mengangkat panggilan itu sambil menutup mulutnya yang tengah menguap.


"Tuan, Tuan gawat!"


Suara panik Marwan yang menyambut panggilan itu membuat Arya segera membuka Ma anta lebar-lebar. Entah kenapa, jantungnya berdegup kencang dan merasakan panik secara tiba-tiba.


"Ada apa, Marwan? Katakan segera!" perintahnya dengan tegas.


"Terjadi penyerangan di villa tempat Nyonya Diana berlibur. Nona Ara sekarang masuk rumah sakit karena ditusuk orang tak dikenal."


Ucapan Marwan membuat tubuh Arya mendadak kaku. Dia sampai tak bisa bernapas selama beberapa saat setelah mendengar kabar yang tak terduga ini.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana dengan Ara?" tanya Arya beruntun dengan panik.


"Nona Ara berada di rumah sakit terdekat, sedangkan saya masih berusaha mengejar orang yang telah melakukan penusukan tersebut. Saya akan mengirimkan alamat rumah sakitnya, Tuan. Untuk sementara, akan saya matikan dulu teleponnya karena saya masih dalam pengejaran."


Arya bahkan tak tersinggung saat Marwan langsung mematikan panggilan tersebut. Begitu teleponnya kembali berdering dan pesan dari Marwan masuk, Arya hanya bisa mendesah kasar.


Lelaki itu memutuskan bangun, dan keluar dari kamar tamu. Memang, sejak pertengkarannya dengan Maya beberapa hari yang lalu, kini Arya tidur di kamar tamu sendirian. Dia masih ingin menenangkan diri, akibat ulah brutal istrinya yang bertindak bodoh dengan Diana.


Arya masuk ke kamarnya sendiri, lalu bersiap mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian hangat. 


Tentu saja, hal ini membuat Maya yang sudah tertidur kembali terjaga. Melihat suaminya ingin pergi, dahinya berkerut dalam dan langsung bangun. "Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Maya penuh selidik.


"Kantor baru saja  kemalingan!" jawab Arya asal-asalan untuk berbohong.


"Astaga, apakah ada yang hilang? Lalu bagaimana sekarang? Pelakunya sudah ditemukan?" tanya Maya yang mendadak panik.


"Masih belum," jawab Arya menggeleng. Dia menatap lekat pada sang istri saat mengatakan, "Aku pergi dulu."


"Aku ikut, Mas," pinta Maya mencoba menahan Arya.


"Tetaplah di rumah, aku akan mengurusi hal ini dengan para polisi. Kamu butuh istirahat," kata Arya dengan tegas. Dia tak mau Maya tahu, ke mana dia akan pergi malam ini.


Tanpa menunggu respon dari Maya, Arya bahkan langsung melepaskan genggaman tangan wanita itu dan pergi dari sana. Dia berjalan dengan langkah cepat, dan terlihat begitu tidak sabar untuk segera menusuk anaknya ke rumah sakit dan mengetahui kondisinya.


Namun, entah apa yang terjadi. Sepanjang jalan Arya tampak gelisah. Entah apa yang merasukinya, dia malah mempunyai asumsi-asumsi liar di pikirannya tentang kecelakaan yang menimpa Ara saat ini.


Bagaimana jika ini ada sangkut pautnya dengan Maya dan juga Sherly?


 Memikirkan hal ini, entah kenapa membuat Arya kerasa geram. 'Jika saja itu benar, aku tak akan melepaskan kalian meskipun kalian keluargaku sendiri!' gumamnya dalam hati penuh tekad.


Di malam yang sangat larut itu, Arya melajukan mobilnya sendirian menuju perjalanan jauh untuk menyusul sang anak.