
Jawaban Ara adalah yang paling ditunggu-tunggu, karena semua yang Al sampaikan berkaitan dengan masa depan Ara, meski Diana, Arya, Keizha dan Kansha bisa menerima serta memberi restu. Sekali lagi keputusan ada di tangan Ara.
Rona bahagia seketika terpancar dari wajah semua orang, termasuk Al. Dia senang sebab jawaban dari Ara merupakan sebuah hal yang sangat Al harapkan, meski awalnya Ara cemas dan takut, tapi berkat Al yang terus saja meyakinkan serta menjamin Ara jika ketakutannya tidak akan terjadi, sehingga membuat wanita itu akhirnya luluh dan menerima lamaran dadakan Al.
"Wah, selamat ya Kak Bule tampan. Akhirnya kakakku yang cantik ini menerima lamaran Kak Bule, dan sebentar lagi dia akan menjadi pendamping Bule idaman." Keizha berjingkrak senang, dia langsung menjabat tangan Al dan memeluk Ara.
Semua orang senang, Kansha melakukan hal serupa seperti kembarannya. Kemudian Diana memeluk Puri sulungnya, sebagai ibu. Sudah waktunya Ara memilih masa depannya dengan pria yang dicintainya, setelah Ara menghabiskan banyak waktu di masa remajanya untuk menjadi tulang punggung.
"Selamat, Sayang. Berbahagialah. Bunda minta maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang baik untukmu, setelah ini kamu harus patuh pada pria yang akan menjadi suami kamu, sudah saatnya kamu bahagia." Diana terharu, dia mendekap Ara dan Diana terisak.
Bagaimana Ara mampu bersikap dewasa, menerima kenyataan tentang perpisahan orang tuanya. Menjadi tulang punggung sungguh membuat Ara hampir menyerah, tapi pertemuannya dengan Al. Meski diawali sebatas kesepakatan demi uang, namun cinta perlahan mulai tumbuh dihati Ara, meski sangat mustahil sekali dia bisa bersanding dengan pewaris tunggal bangsawan keturunan Turki.
Waktu yang pada akhirnya membawa Al ke hadapan orang tuanya, pria itu bahkan meyakinkan Ara dengan begitu kuat. Jika dirinya tak memperdulikan apapun tentang masa lalu orang tua Ara, yang Al inginkan hanyalah doa restu dari mereka semua, maka saat semuanya justru setuju dengan lamaran Al yang mendadak, membawa Ara pada keputusan akhir yaitu menerima lamaran Al.
"Aku akan menikahi Ara secepatnya, kalian tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya." Al mengatakan hal itu pada orang tua Ara.
"Kami akan setuju kapanpun kalian menikah, asal keluarga kamu juga setuju. Maka kami tak bisa menolaknya, tapi jika mereka tidak memberikan restu. Kami pasti akan mundur, sebab sebagai orang tuanya Ara. Saya tentu tidak akan membiarkan putri saya masuk ke dalam keluarga yang tidak menginginkannya." Diana memberi ultimatum pada Al, Mengenai restu atas keinginan Al menikahi Ara.
Al paham, maka dari itulah dia akan melakukan satu hal agar Ekrem Zeeshan menyetujui permintaannya menikahi Ara, juga memberi restu. Al sangat yakin sekali jika kakeknya tidak akan mungkin bisa menolaknya.
"Aku pastikan keluargaku akan datang kesini melamar Ara secara resmi, kakek tidak mungkin bisa menolak permintaanku. Sekarang aku pulang dulu, doakan aku agar semuanya berjalan dengan lancar." Al pamitan pada Diana dan Arya, serta mengelus kepala Ara sebelum akhirnya Al meninggalkan kediaman Ara.
Setelah Al pulang, sekarang semua orang mengarah pada Ara. Seolah menuntut penjelasan tentang kabar yang mengejutkan juga membahagiakan mereka, Diana membawa Ara kembali masuk ke rumah. Mereka semua sudah ada di ruang tamu.
"Jelaskan sama kami semua, bagaimana awal mula kalian berhubungan? Karena selama ini kamu tidak pernah menceritakan apapun mengenai Al. Sungguh, Bunda benar-benar terkejut. Bunda kira sedang mimpi, tiba-tiba ada pria bule yang datang ke rumah kita ini. Ditambah lagi dia mengaku sebagai kekasihmu dan berniat ingin menikahi kamu, siapapun pasti akan terkejut mendengarnya." Diana duduk diantara Keizha dan Kansha.
Sementara Ara dan Arya duduk di dua sofa single, Ara tahu jika sekarang sudah saatnya menceritakan bagaimana tentang hubungannya dengan Al. Tanpa perlu Ara memberi tahu mereka semua jika awal mula kedekatannya dengan Al, karena Ara bersedia menjaga wanita simpanan Al.
"Kak, kak Bule pintar sekali berbicara bahasa Indonesia, kakak mengajarinya?" celetuk Khansa mendapat cubitan pelan dari Keizha sebab jawaban bunda mereka belum dijawab Ara.
Diana dan Arya tak mengorek informasi lebih dalam lagi, karena mereka percaya jika Ara sudah menceritakan semuanya dengan jelas. Dan Al memang pria baik juga mencintai Ara, jadi tak ada lagi yang harus mereka khawatirkan.
***
Al sudah sampai di apartemennya, dia merasa sangat bahagia sekali. Karena akhirnya Ara menerima lamarannya. Tinggal besok Al akan kembali ke Turki untuk memberi tahu semuanya pada kakeknya, tapi Al harus ke rumah Ara dulu untuk berpamitan pada keluarga Ara.
Tinggal selangkah lagi, semua harapan dan keinginan Al terwujud. Tidak ada kecemasan sedikitpun dari diri Al, karena dia meyakini jika kakeknya tak akan mungkin menolak keinginannya. Hal itulah yang membuat Al tenang.
"Sebaiknya aku tidur dulu, untuk persiapan besok," gumam Al.
Kemudian setelah membersihkan tubuhnya, Al memutuskan untuk langsung tidur. Wajah Al berbinar, kebahagiaan tengah berada dipihaknya. Perlahan matanya terpejam dan mulai memasuki dunia mimpi yang indah.
Keesokan harinya, Al terbangun dengan bersemangat. Dia segera menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya, dan mengganti pakaian terbaik. Karena hari ini dia kan ke rumah Ara terlebih dahulu, sebelum dia kembali ke Turki menemui keluarganya.
"Baiklah, semuanya sudah beres. Aku akan pergi sekarang ke rumah Ara, dan kembali dengan membawa keluarga untuk melamar Ara secara resmi." Al tersenyum melihat penampilannya di depan cermin, kemudian keluar dari kamarnya.
Langkah kaki Al terhenti, saat dia melihat seseorang sudah ada di ruang tamu apartemennya. Al terkejut karena kakeknya sudah ada disana, menatapnya dengan tatapan tajam. Nampak sekali terlihat jika Ekrem Zeeshan tengah marah pada Al.
Ekrem Zeeshan sudah sampai di apartemennya dengan Daniel, tanpa memberi kabar padanya terlebih dulu. Tapi Al merasa bersyukur karena dengan begitu, dia tidak perlu pulang ke negaranya. Sebab orang yang akan Al minta untuk datang ke Indonesia dan melamarkan Ara untuknya.
"Ah, kakek. Apa kabar? Kapan sampai Indonesia, kenapa tidak memberitahuku? Setidaknya kan aku bisa menjemput kakek ke bandara." Meski Al terkejut dan juga takut, tetapi Al berjalan tenang ke arah Ekrem Zeeshan yang masih duduk dengan penuh wibawa, meski usianya sudah tidak muda lagi. Tapi Ekrem Zeeshan terlihat mempesona di usia tuanya.
Ekrem Zeeshan tak menjawab pertanyaan Al, dia berusaha untuk menguasai hatinya yang begitu marah atas apa yang sudah Al lakukan.
Tatapan yang begitu nyalang dia berikan pada Al.