
Al benar-benar tak melepaskan Ara sama sekali. Seharian itu, dia benar-benar menjadikan Ara tawanan di kamar. Mereka persis orang yang sedang berbulan madu, karena seharian ini sibuk untuk bercinta.
Barulah ketika Ara merengek lelah dan pura-pura marah, dia dilepaskan. Wanita berkali-kali bergumam kesal, karena liburan dan di apartemen baginya sama saja karena Al selalu mengajaknya menyatu berulang kali.
Hari beranjak sore ketika Al akhirnya mengajak Ara keluar dari villa. Lelaki itu membawa Ara ke pantai, untuk menuruti permintaan Ara yang sejak pagi tadi ingin bermain.
"Awas saja jika kamu mengajakku kembali cepat-cepat, aku tak akan mau lagi berolahraga denganmu!" ancam Ara, ketika melihat Al selalu memperhatikan jam tangannya.
Lelaki itu hanya terkekeh sebagai balasan. "Tidak, kali ini aku akan membiarkanmu di luar sampai puas."
Senyum Ara merekah, dan dia mengangguk dengan senang. Dia lalu berjalan meninggalkan Al menuju dermaga yang kini menampilkan pemandangan matahari yang akan tenggelam dengan indah.
Ara merentangkan tangan, memejamkan mata dan menikmati angin pantai yang berhembus. Saat dia tengah terdiam menikmati suasana, dia tersentak ketika sebuah pelukan dari belakang datang padanya. Tak perlu membuka mata, Ara tahu jika itu Al.
"Bukankah ini menyenangkan? Suasana ini sangat damai dan begitu hening. Di sini kamu bisa merilekskan dirimu agar menjadi tenang."
Baru kali ini Ara mendengar Al berbicara seperti itu. Selama ini, yang dia tahu hanyalah omongan Al yang hanya soal percintaan di atas ranjang. Diam-diam Ara tersenyum, merasa jika ada sedikit kemajuan pada hubungannya dengan Al.
"Al," panggil Ara tiba-tiba. Dia menangkup tangan Al yang ada di perutnya. Lalu menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu. "Apa kita akan seperti ini selamanya?"
"Apa maksudmu, Ara?" tanya Al, terdengar sedikit tidak senang.
Ara mengembuskan napas panjang, menahan bibirnya untuk tidak mengatakan sesuatu yang membuat Al menjadi marah. Wanita itu tak ingin suasana ini menjadi hilang dalam sekejap karena keegoisannya yang mendambakan Al secara lebih.
"Lupakan saja!" balas Ara menggumam lirih.
Untungnya Al tak mendengar akibat suara debur ombak yang ada di dekatnya. Lelaki itu malah menikmati, bagaimana kehangatan tubuh Ara saat menempel padanya.
"Kamu ingin bermain speed boat?" tanya Al kemudian.
"Bolehkah?" tanya Ara balik memekik senang, yang langsung membalik badannya menghadap Al.
"Tentu saja, ayo!" ajak Al yang langsung menarik tangan Ara.
Lelaki itu membawa Ara turun dari dermaga, berjalan menyusuri pasir pantai menjauh dari jalan utama tadi. Tak jauh di depan mereka, tersembunyi di balik-balik rimbunnya pepohonan, ada sebuah gubuk kecil berdiri.
Al meminta Ara menunggu, sedangkan dia masuk ke dalam. Ternyata, Al mengambil jaket pelampung. Lelaki itu memasangkan satu jaket pada Ara, dan satunya lagi padanya.
Ara bingung, pasalnya dia tak melihat speed boat sama sekali di depannya. Tapi itu tak berselang lama, karena tiba-tiba seorang dayang membawa benda itu mendekat pada mereka.
Dahi Ara berkerut dalam, saat memandangi orang yang baru saja datang itu tak mengucapkan sepatah kata sama sekali dan langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka.
'Bahkan untuk penjaga sekalipun, Al tak membiarkanku mengenal mereka,' keluh Ara dalam hati.
"Kamu bilang apa, Ara?"
Mendengar Al bertanya membuat Ara langsung menggeleng dengan salah tingkah. Dia berdoa dalam hati, agar Al tak mendengar gumamannya yang tadi.
"Tidak apa-apa, Al. Kamu salah dengar, aku tak berbicara sama sekali," kata Ara menjawab.
Al mengangguk, seolah tak memperdulikan hal tersebut. Setelahnya dia menarik Ara, membawa wanita itu mendekat dan membantunya naik di atas speed boat.
Entah kenapa jantung Ara berdegup kencang. Meskipun sudah beberapa kali dia naik speed boat, tapi tetap saja dia selalu merasa ketakutan. Dia takut terjatuh ke dalam air laut yang dalam. Meskipun dia bisa berenang, tapi tetap saja hal itu kadang membuatnya panik.
"Kamu siap?" tanya Al ketika dia sudah naik di depan Ara, dia menoleh sedikit sambil menarik tangan Ara memeluknya.
Melihat Ara mengangguk, membuat Al menyalakan motor laut itu. Dia memulai permainannya, menjelajahi lautan dan mengendarai benda tersebut dengan banyak gaya. Ara yang ada di belakang hanya bisa berteriak kegirangan meskipun merasa tegang.
Meninggalkan pasangan yang sedang berlibur itu, di tempat lain Arya tampak termenung di ruang santai. Dia tak fokus menonton televisi, melainkan melamun dengan pandangan kosong seolah pikirannya sedang tak berada di tempat.
Ya, setelah pertemuannya dengan Ara, kini lelaki paruh baya itu selalu memikirkan tentang anaknya. Entah apa yang merasuki Arya, dia kini sangat penasaran dengan kehidupan anak-anaknya dari Diana, dan tentu saja bagaimana dengan mantan istrinya itu.
"Pa."
Sebuah gerakan disertai panggilan di sampingnya itu membuat Arya terkejut. Dia tampak salah tingkah ditatap anaknya, Sherly dengan aneh.
"Papa baik-baik saja?" tanya Sherly mengerutkan dahi dalam.
"Ya, Papa baik-baik saja. Memangnya kenapa?" tanya Arya balik, tanpa menatap wajah sang anak.
"Sejak tadi aku memanggil, tapi Papa malah diam saja dan tampak melamun!" tutur Sherly menyipitkan mata.
Hal ini membuat Arya menghela napas panjang, menampilkan senyum manisnya dan mengusap kepala Sherly. "Tak ada yang terjadi, Nak. Papa hanya sedikit bingung dengan masalah pekerjaan," ucap Arya berdusta. Dia tidak ingin anaknya itu tahu, jika dia sedang memikirkan anaknya yang lain.
"Baiklah, kalau begitu ayo. Mama sudah menunggu di ruang makan," kata Sherly, lalu beranjak berdiri dan pergi lebih dulu.
Arya tampak memejamkan mata sekilas, sebelum akhirnya ikut menyusul sang anak. Setiap langkahnya, dia masih saja kepikiran tentang Ara.
'Aku harus menemukannya, Benny pasti bisa membantu untuk mencari keberadaannya,' gumam Arya penuh tekad. Dia ingin meminta bantuan pada temannya yang tinggal di apartemen yang sama saat dia bertemu Ara kemarin.
Arya tersenyum tipis, membayangkan kembali pertemuannya dengan Ara. Dia tak menyangka jika kunjungannya di apartemen temannya itu akan membawanya bertemu dengan putrinya itu.
'Kamu benar-benar sudah besar, Nak. Cantik persis seperti Bunda mu.'