
"Pasien selamat, kami berhasil menghentikan pendarahan dan menjahit lukanya. Untung saja tuduhkan itu tidak terlalu dalam, dan Anda membawanya ke sini tepat waktu sehingga kami bisa menanganinya."
Diana memejamkan mata penuh rasa syukur, ketika mendengar penuturan dari dokter yang baru saja keluar dari igd setelah hampir satu jam pintu itu tidak terbuka.
Tangannya tak lupa terulur untuk memeluk kedua anak kembarnya yang lain, seolah saling menenangkan satu sama lain.
"Kalian dengar itu, kakak kalian selamat," tutur Diana dengan bahagia. Senyumnya terbit, meskipun di wajah yang masih terlihat sembab itu.
Setelah menatap anak-anaknya, kini dia kembali menoleh pada sang dokter. "Bolehkah saya menemuinya, Dok?" tanyanya.
"Kami akan memindahkannya, Anda bisa menemuinya di ruang rawat nanti. Untuk saat ini Anda bisa mengurusi pendaftaran administrasinya," kata dokter menjelaskan.
Diana mengangguk, dia mengucapkan kata terima kasih menyambut kepergian dokter itu setelah tak ada lagi yang dijelaskan.
"Oh Tuhan, syukurlah," gumamnya lega dengan embusan napas yang panjang.
Ketakutan yang sejak tadi mendera hatinya, kini perlahan mulai memudar mendengar anaknya selamat. Andai kata Ara benar-benar tak bisa diselamatkan, Diana tak bisa membayangkan menjadi apa dirinya nanti.
"Kalian di sini jaga kakak kalian, ya. Biar Bunda ke ruang administrasi dulu. Jika nanti kakak kalian sudah dipindah, langsung telepon Bunda saja biar langsung menyusul." Diana menatap sang anak lekat saat berbicara.
"Baik, Bun. Serahkan saja urusan itu pada kami," jawab Keisha tersenyum.
Diana mengangguk, setelahnya dia mulai pergi dari sana. Ruang administrasi ada di bagian depan. Bahkan di hari yang beranjak larut ini, ruangan itu masih buka dan dijaga oleh petugasnya. Sesampainya di sana, Diana langsung mendaftarkan Ara sebagai pasien rumah sakit tersebut. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan, sehingga pendaftaran itu membutuhkan waktu hampir dua puluh menit.
Begitu selesai, Diana langsung kembali lagi ke ruang IGD. Tapi dia tak menemukan si kembar di sana. Hal ini membuatnya berniat untuk menelpon, tapi dia urungkan saat menerima pesan dari Khanza tentang ruangan Ara.
Tak menyia-nyiakan waktu, Diana segera naik ke lantai tiga, di mana ruangan rawat anaknya kini berada. Ketika masuk ke dalam, dia melihat Khanza dan Keisha masih berdiri di sisi ranjang Ara. Sedangkan anak sulungnya itu, masih berbaring dengan mata terpejam.
"Kata dokter, Kak Ara akan sadar nanti. Dia terkena obat bius, dan kita disuruh untuk membiarkannya istirahat saja," tutur Khanza menjelaskan.
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak ikut istirahat saja? Biarkan Bunda yang menjaganya. Kalian tidurlah sana di sofa," ucap Diana, menatap anak-anaknya lembut saat memberikan perintah.
"Tapi, Bun ... Bunda pasti juga le--"
"Sssttt, kita bergantian, oke? Malam ini biarlah menjadi tugas Bunda. Biar besok Bunda bisa beristirahat setelah kalian gantikan," sahut Diana menyela ucapan sang anak.
Si kembar saling berpandangan, dan mereka serentak mengangguk. Mereka mencium pipi ibunya sekilas, sebelum akhirnya beranjak ke sofa. Keduanya berbagi di tempat tersebut, lalu mencari posisi nyaman masing-masing untuk tertidur.
Sedangkan Diana menghampiri Ara. Matanya sendu menatap anak sulungnya. Tangannya terulur untuk membelai kepala sang anak.
"Cepatlah sembuh, Nak," lirih Diana bergumam.
Dia baru saja akan duduk di sebelah Ara, ketika pintu ruang rawat diketuk. Diana kira itu perawat, tapi ternyata salah. Matanya melebar melihat sosok yang sudah bertahun-tahun ini tak pernah terlihat lagi di hidupnya.
"Diana ... bagaimana keadaannya?" tanya Arya dengan suara yang sama terdekatnya. Dia menatap mantan istrinya itu sekilas, sebelum beralih pada sosok Ara yang berbaring memejamkan mata.
Mata Arya berkaca-kaca, dia baru saja akan melangkah mendekat, ketika tiba-tiba Diana menghampirinya dengan sorot mata yang tajam. Tanpa berkata-kata, wanita itu tiba-tiba saja menariknya untuk keluar dari sana.
"Diana ... Diana tunggu sebentar, aku masih ingin melihat Ara," kata Arya sedikit menolak ajakan Diana pergi.
Tapi Diana tak peduli, terus menarik Arya sampai akhirnya mereka menjauh dari ruangan itu. Diana membawa Arya ke balkon lantai tiga.
"Apa tujuanmu datang ke sini, Mas? Dari mana kamu tahu jika Ara di sini?" tanya Diana ketus penuh kecurigaan.
"A-aku...?" Arya syok, saking paniknya dia di jalan tadi, sampai-sampai beluk memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada Diana. Lelaki itu tampak kikuk, ditatap tajam wanita yang pernah menjadi bagian an dari hidupnya dulu.
Melihat Arya hanya diam, semakin membuat Diana menjadi geram. Sekelebat ingatan tentang Maya yang beberapa hari lalu datang ke rumah, memenuhi benaknya yang membuatnya harus berpikir keras tentang sangkut pautnya masalah ini.
"Apakah kamu memang sudah tahu sejak awal, Mas? Katakan padaku, ini semua ulah Maya, kan?" tanya Diana dengan suara gemetar.
"Aku tidak tahu, Diana. Maafkan aku," cicit Arya lirih kemudian.
"Jangan berbohong!" bentak Diana marah. "Apa kamu berniat melindunginya, hah?"
"Demi Tuhan, aku bersumpah jika aku belum tahu siapa pelakunya, Diana. Anak buahku baru saja mengejar pelakunya, jika memang sudah ditemukan, aku berjanji akan mengatakan semuanya padamu," jawab Arya cepat-cepat.
"Anak buah?" beo Diana dengan dahinya yang berkerut dalam.
Arya menarik napas berat, menatap Diana dengan lekat. Dia mengangguk saat berkata, "Ya, anak buahku. Maafkan aku, aku selama ini memang membuntuti kalian."
Diana menggeleng tak percaya, sambil berdecak keras. "Jadi karena itu Maya mendatangiku? Semua karena ulahmu yang membuat mereka cemburu dan mengusik ketenangan hidupku bersama anak-anakku? Apa mereka juga berniat untuk membunuh kami?"
"Entahlah, Diana, aku tidak tahu." Arya hanya menggeleng dengan kepala tertunduk lesu.
Hal ini semakin membuat Diana marah. Wanita itu sedikit kalap, langsung mendorong tubuh Arya dengan keras. "Sialan kamu, Mas. Kamu jahat. Pergi saja dari hidupku, bawa anak dan istri sialanmu itu menjauh dariku. Aku sudah bahagia bersama anak-anakku. Tolong jangan ganggu kamu lagi," raungnya histeris, yang sudah tak bisa menahan lagi tangisnya.
Hati Arya begitu sakit, dia tak menyangka jika Diana akan sangat membencinya seperti ini. Tanpa sadar, lelaki itu ikut menangis. Dia tak tahu, apa yang harus dia rasakan saat ini. Rasanya, perasaannya bercampur aduk. Kemarahan, kesedihan, penyesalan. Semuanya menjadi satu, yang membuat dirinya tak berdaya.
Tangan Arya terulur untuk menarik Diana dalam pelukannya, tapi tiba-tiba wanita itu menghempaskan dirinya dengan kasar. Arya hanya bisa tercengang, melihat tenaga Diana ternyata kuat juga.
"Aku tak mau melihatmu lagi, Mas. Dan aku minta, tolong urus anak dan istrimu itu. Jangan lagi kamu datang ke sini, aku tidak mau Ara, Keisha bahkan Khanza melihat sosokmu!" Diana menggeram marah, dengan matanya yang sembab, dia masih menunjuk-nunjuk pada Arya. Setelahnya, dia segera berpaling dan pergi begitu saja.
Arya tertunduk lesu, tubuhnya lemas yang membuatnya langsung mencari sandaran. Lelaki itu menunduk, memegangi kepalanya yang terasa berat. Entah apa yang dipikirkan Arya, selama beberapa saat lelaki itu hanya diam tak beranjak dari tempatnya.