I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 37



"Bun, Ara mau pergi hari ini," kata Ara ketika mereka sedang melakukan sarapan pagi bersama.


Ucapan Ara yang sangat tiba-tiba jelas membuat satu-satunya wanita paruh baya di sana langsung menoleh, menatap anak sulungnya dengan dahinya yang berkerut dalam. "Mau pergi ke mana?" tanyanya penasaran.


"Ara mau mengantarkan koper teman Ara, dia sudah menghubungi dan tidak bisa datang sendiri ke sini mengambilnya. Dia meminta tolong Ara untuk mengantarkannya di hotel tempatnya tinggal sekarang," kata Ara mencari alasan. Dia tidak ingin koper berisi baju-baju haram miliknya saat bersama Al itu berlama-lama di sini. Dia tidak mau ibunya curiga, apalagi dengan si kembar yang selalu penasaran.


"Memangnya temanmu itu rumahnya mana? Kok kamu mengantarnya di hotel?" tanya Diana penuh selidik.


Ara tersenyum, menutupi kegugupannya untuk berusaha berbohong. "Lampung, Bun. Kita pergi ke Surabaya bersama waktu itu, dan dia menitipkan koper miliknya untuk kubawa lebih dulu. Sekarang dia mau kembali, dan meminta kopernya. Dia mengatakan hanya sebentar di Jakarta, makanya tidak bisa mampir ke tempatku."


Diana menghela napas, tampak percaya dengan ucapan sang anak. Tak ada rasa curiga sekalipun di wajahnya yang tampak sedikit keriput itu. "Baiklah, kalau begitu hati-hati, ya," tutur Diana.


"Kita belum pernah ke hotel. Bolehkah kami ikut, Kak?" tanya Keisha yang sejak tadi diam, kini menyahut dengan antusias.


"Iya, Kak. Kakak nggak pernah mengajak kami menginap di hotel. Setidaknya ajaklah kami ke sana meskipun menjadi kurir antar koper doang," pinta Khansa memelas.


Dahi Ara berkerut dalam mendengar adik-adiknya. Sedetik kemudian dia tertawa. "Mana boleh begitu, kalian 'kan harus sekolah!" balasnya.


"Ish, Kakak...." Dua kembar itu serempak mengeluh dengan wajah sedih.


Ara terkekeh karenanya. Dia mengambil gelas minumnya, dan menenggak airnya sampai tandas. Setelahnya dia melihat kedua adiknya dengan lekat. "Kapan-kapan, kalau kalian libur, Kakak bakal ajak kalian berlibur biar bisa nginep di hotel."


"Benarkah?" sahut Keisha.


"Kakak Janji?" Kini gantian Khansa yang menyela.


"Iya, Kakak janji. Doain salon kakak rame terus, ya, biar ada rezekinya buat kalian," balas Ara mengangguk kepala.


Suasana ruang makan itu terasa begitu hangat. Mereka saling bercanda satu sama lain dengan riang. Ara sangat bahagia melihat hal itu, dia merasa kehidupannya berjalan baik meskipun tanpa sosok seorang ayah.


Saat semuanya selesai, Ara akhirnya berpamitan pada sang ibu. Wanita itu memesan taksi online dari rumah, untuk mengantarkannya ke apartemen. Ya, Ara memang berbohong pada sang ibu. Nyatanya dia tidak pergi ke hotel, apalagi menemui temannya. Wanita itu kembali ke apartemen untuk menyimpan kopernya kembali.


Meskipun selalu dihantui rasa gelisah dan tidak tenang setiap saat, Ara tetap nekat untuk datang ke apartemen. Mau bagaimanapun, itu adalah tempat tinggalnya selama ini bersama Al. Dalam hatinya selalu berdoa, agar dia tak bertemu dengan ayahnya lagi di sini.


Sedangkan di tempat lain, dengan waktu yang berbeda. Sherly tampak bersiap diri menemui ayahnya. Meskipun dia gugup, membahas soal ini, tapi dia harus melakukan agar misinya terselesaikan.


Setelah menenangkan diri sambil membuatkan kopi, akhirnya Sherly menyusul ayahnya yang kini sedang ada di ruang santai. Sherly tampak mendesah pelan saat melihat ibunya di sana. Meskipun begitu, dia tetap melakukan apa yang telah direncanakannya sejak siang tadi.


"Paling juga mau minta tambah uang jajan," sahut Maya menyela dengan wajah sinis.


"Mama." Sherly hanya mengeluh mendengar ucapan sang ibu, lalu kembali memasang wajah penuh senyuman saat mendekati ayahnya.


Arya tertawa melihatnya. Dia merentangkan satu tangannya untuk memeluk Sherly dari samping. "Jadi, apa yang kamu inginkan?" tanya Arya tanpa basa-basi.


Sherly tersenyum paksa. Melirik ibunya dengan salah tingkah sebelum menatap sang ayah. "Tidak, kok, Pa. Aku hanya sedang ingin membuatkan kopi untuk Papa, tidak ada hal lain," jawabnya ambigu.


"Benarkah?" tanya Arya mengangkat sebelah alisnya. Melihat Sherly mengangguk, membuat dia kembali berkata, "Kalau begitu terima kasih, kamu memang anak terbaik kebanggaan Papa."


Mendadak Sherly merasa canggung, entah kenapa dia malah bingung untuk memulai dari mana perbincangannya. Mau bagaimanapun, dia tidak ingin dianggap aneh, karena selama ini mereka memang tidak pernah membahas hal tersebut.


"Papa," panggil Sherly tiba-tiba setelah lama terdiam. "Aku ingin tahu siapa nama saudara tiriku. Entah kenapa aku tiba-tiba lupa dengan mereka." 


Mata Maya langsung melotot mendengar hal tersebut, dia tampak marah menatap anaknya dengan tajam.


Sedangkan Arya terdiam dengan tubuh yang kaku. Jantungnya berdegup kencang, dan entah kenapa dia merasa takut. 'Apa Sherly tahu jika dia sedang mencari keberadaan Ara? Tapi itu tidak mungkin, aku sudah merahasiakan hal ini dari siapapun. Seharusnya dia tahu tentang hal ini. Lalu kenapa tiba-tiba Sherly bertanya?' Pikiran lelaki paruh baya itu benar-benar berkecamuk memikirkan hal ini.


"Papa."


Panggilan itu membuat kesadaran Arya kembali. Dia tampak kikuk, ditatap Sherly dengan lekat.


"Sherly, apa-apan kamu?"


Arya baru saja akan menjawab pertanyaan anaknya, ketika mendengar istrinya menyahut dengan sinis. Saat menoleh, dia melihat Maya tengah berwajah marah.


Hal ini membuat Arya bingung untuk bersikap. Baginya, Sherly terlihat polos dan benar-benar bertanya karena penasaran. Tapi melihat bagaimana istrinya itu tampak kesal, entah kenapa membuat Arya tidak mampu menjawabnya.


"Mama, apa-apan, sih? Kan aku lagi bicara sama papa!" keluh Sherly menatap ibunya jengkel.


Maya menggeram, dia tahu bagaimana Sherly sangat penasaran dengan saudara tirinya. Tapi dia tak menyangka jika anaknya itu akan bertanya pada Arya sendiri. Hal ini membuat marah, dia takut jika suaminya itu memikirkan mantan istrinya lagi.


Sebagai pelampiasan, wanita paruh baya itu langsung menarik Sherly untuk pergi dari sana. Dia tidak tahan untuk menceramahi anaknya itu panjang kali lebar dan memperingatkannya.