I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 41



Tak puas karena tak menemukan informasi apapun, hari ini Sherly mengulang niatannya untuk kembali mengintai tentang Ara. Wanita itu pergi pagi-pagi dari rumah, bahkan sebelum ibu dan ayahnya bangun. Dia hanya membeli roti lapis dan susu dari minimarket yang dia gunakan untuk mengintai.


Hasilnya benar-benar memuaskan, karena pada akhirnya Sherly bisa melihat Ara muncul dari rumah yang sejak kemarin dia datangi itu. Melihat sepupunya naik taksi dan pergi, dia segera mengikuti.


"Kerja apa Ara selama ini sehingga bisa menandingi kecantikanku?" gumam Sherly berbicara sendiri di dalam mobil.


Wanita itu terus melajukan mobilnya keluar dari komplek perumahan tempat Ara tinggal. Keluar ke jalan raya dan berjalan hampir setengah jam sebelum akhirnya berhenti ketika dia melihat taksi yang dikendarai Ara pun berhenti.


"Salon? Dia mempunyai salon?" pekiknya sambil mengerutkan dahi.


Rasa penasaran, membuat Sherly akhirnya nekat turun dari mobil. Dia berlagak seperti seorang pelanggan yang datang membutuhkan pelayanan.


"Selamat pagi, Nona, selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"


Tentu saja kedatangan Sherly disambut baik oleh Rina. Karyawan Ara itu bersikap sopan dan langsung menggiring Sherly untuk duduk.


"Aku mendapat rekomendasi dari temanku jika salon ini bagus, aku ingin mencobanya," kata Sherly angkuh, masih tak melepaskan kacamata hitamnya yang bertengger di atas hidung.


"Tentu saja, salon kami berkualitas, masuk dalam sepuluh salon terbaik di kota ini. Apa yang Anda inginkan, saya mempunyai banyak rekomendasinya," tutur Rina sambil tersenyum, mengira mendapatkan pelanggan baru untuk salon.


"Aku ingin creambath saja, rambutku sering rontok akhir-akhir ini jadi aku perlu obat yang sangat baik untuk menutrisi rambut." Sherly berbicara sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.


"Tentu saja, kamu mempunyai vitamin yang tepat untuk rambut Anda. Mari silahkan, kita bisa memulainya sekarang." Tangan Rina terulur untuk meminta Sherly beranjak dari ruang santai.


Sayangnya, Sherly masih diam. Wanita itu tersenyum tipis saat mengatakan, "Aku ingin dipegang oleh karyawan yang baru saja datang tadi. Kebetulan aku berpapasan dengannya di jalan."


"Karyawan?" beo Rina bingung. Dia melihat teman-temannya yang sudah ada bersama dirinya pagi tadi. Jika yang dimaksud yang baru saja datang, mungkinkah itu Ara? Rina cepat-cepat menjelaskan, "Maaf, Nona. Tapi yang baru saja datang itu bukan karyawan melainkan pemilik salon ini."


Praktis wajah Sherly langsung murung seketika. Dia tak menyangka jika salon dengan bangunan dua lantai ini adalah milik Ara. Dia mengira jika saudara tirinya itu hanyalah pekerja di sini.


Sherly yang tadinya berniat datang untuk mengolok-olok Ara, kini mengurungkan keinginannya dan pergi begitu saja bahkan tanpa memberikan penjelasan apapun pada pegawai salon.


"Dasar wanita aneh, kenapa malah pergi?" gumam Rina bertanya-tanya, sambil berdiri di depan pintu kaca sambil mengawasi wanita tadi.


"Eh, Mbak Ara." Rina tersentak, yang membuatnya berbalik menghadap bosnya itu dengan senyum meringis. "Itu, lho, ada pelanggan mau nyalon. Katanya mau dipegang sama Mbak, tapi aku bilang Mbak Ara bosnya bukan karyawan dia malah pergi begitu saja," imbuhnya mengadu.


Dahi Ara langsung berkerut dalam mendengar hal tersebut. "Apa dia pelanggan lama? Jika iya, seharusnya kamu memanggilku tadi biar aku yang menangani."


"Tidak, kok, Mbak. Aku saja baru lihat wajahnya hari ini. Kayaknya orang baru dan belum pernah ke salon sebelumnya," ungkap Rina.


Ara langsung mengangkat kedua bahunya acuh mendengar jawaban Rina. "Biarkan saja, mungkin saja dia akan kembali lagi nanti. Kamu bisa memanggilku jika dia meminta pelayanku," tutur Ara.


"Tapi Mbak Ara, kan sibuk?" pekik Rina seolah tidak terima bosnya itu turun tangan. Mau bagaimanapun, masih banyak karyawan di sini yang seharusnya memegang pekerjaan.


"Tidak apa-apa, Rina. Lagi pula aku juga ingin melihatnya." Ara tersenyum tipis sambil mengangkat salah satu alisnya. Setelahnya dia mengambil apa yang dia butuhkan, lalu kembali naik ke lantai atas mengabaikan wajah Rina yang masih saja tampak tidak terima.


Di sisi lain, Sherly langsung melajukan mobilnya menjauh dari salon. Wanita itu tampak menggeram dengan gigi bergemeletuk kasar. "Sial, jadi selama ini hidupnya benar-benar bagus. Tak salah kalau dia bisa membeli banyak barang dan berpenampilan cantik sekarang," lirihnya bergumam penuh kedengkian.


"Aku tidak bisa membiarkannya. Dia harus menderita, aku tidak mau dia menjadi sainganku!" Sherly terlihat ambisius, begitu yakin dengan keinginannya yang ingin melihat Ara dan keluarganya hancur lagi. 


Wanita itu benar-benar diliputi dengan hati yang iri. Meskipun Ara tidak pernah menyenggolnya sekalipun, dia tetap saja terusik dengan sikap sombong Ara kala itu.


Sherly menghubungi Rendy kembali, dan meminta untuk bertemu sekarang juga di restoran. Dia mengemudikan mobilnya kencang, agar bisa segera sampai di tempat tujuan.


"Ada apa, Sherly? Bukankah kamu sudah menemukan alamatnya? Apalagi yang kamu inginkan sekarang?" tanya Rendy to the point ketika bertemu dengan Sherly. Dia sedikit kesal, pasalnya Sherly memaksanya untuk bertemu padahal dia sedang sibuk dengan pekerjaan yang lain.


"Aku masih butuh bantuan, Rendy. Aku ingin menyewa seseorang yang bisa diandalkan!" pinta Sherly mendesak.


"Untuk apa?" tanya Rendy balik, menatap Sherly serius.


"Untuk membuat huru-hara di sebuah tempat, agar tempat itu tak lagi mempunyai pengunjung."


Dia benar-benar tidak waras. Hanya karena sebuah rasa iri, Sherly nekat melakukan apa saja agar bisa mengusik ketenangan saudara tirinya itu. Sungguh, dia benar-benar tidak bisa hidup tenang melihat kehidupan Ara dan keluarganya baik-baik saja.