
"Ma, kita mau ke mana?" tanya Sherly panik, melihat ibunya yang kesetanan mengendarai mobil ugal-ugalan di jalanan yang ramai.
"Tentu saja kabur, memangnya kamu mau masuk penjara?" ketus Maya melirik anaknya itu dengan kesal. "Ini semua karena kamu, Sherly. Kamu sangat bodoh. Andai saja kamu tidak merencanakan hal ini, kita pasti tidak akan menjadi buron. Terlebih, papamu pasti tidak akan tahu dan tak akan membenci kita."
"Kok salah Sherly, sih! Bukannya Mama yang berniat membalas dendam pada mereka? Aku, kan hanya mengusulkan rencana saja!" sahut Sherly dengan kesal. Melipat tangan di dada dengan wajah yang sudah sangat cemberut.
"Tapi usulan kamu sudah kriminal! Mama kira kamu hanya akan mencelakainya dengan cara yang normal. Siapa sangka kamu begitu gila menyuruh orang untuk melakukan penusukan pada Ara?" bentak Maya dengan marah, sampai-sampai memukul setir mobilnya dengan keras.
"Tetap saja, aku tidak mau disalahkan sepihak. Mama juga bersalah dalam hal ini. Mama dalang semua kejadian ini." Sherly tetap saja tidak terima, dan semakin menjadi-jadi untuk keras kepala.
Hal ini semakin membuat Maya geram, satu tangannya yang terbebas, terulur untuk menjambak rambut anaknya itu dengan erat.
"Ah, Mama, sakit!" rengek Sherly mengeluh, berusaha melepaskan tangan sang ibu. Tarikan itu membuat kepalanya pusing seketika.
"Jika sejak awal kamu tidak iri dn penasaran dengan Ara, ini semua tidak akan terjadi, Sherly. Kehidupan kita pasti tetap baik-baik saja. Kamu memang benar-benar anak sialan!" maki Maya kalap, dia mendorong sedikit keras kepala anaknya.
Diperlakukan seperti ini, tentu saja membuat hati Sherly merasa sakit hati. Dia tak menyangka, jika ibunya bisa bersikap kasar dan menyalahkannya begitu saja.
Mendadak, dada Sherly terasa sakit. Jantung berdebar kencang, dan membuatnya tak bisa bernapas dengan normal. Matanya tampak berkaca-kaca, menahan bendungan air mata yang terkumpul di sudut seolah mencari celah untuk lolos.
Wanita muda itu menoleh, menatap ibunya dengan nanar. Ekspresi ibunya yang terlihat begitu marah, semakin membuat Sherly merasa terpuruk. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, sepertinya dia benar-benar gila. Karena sedetik kemudian, dia merebut setor mobil dari sang ibu, lalu memutar-mutarnya ke sembarang arah.
"Sherly! Sherly apa yang kamu lakukan?" teriak Maya panik, karena mobil mulai kehilangan kendali.
"Sherly lepaskan tanganmu, kita bisa celaka!" bentaknya marah, berusaha mendorong anaknya sendiri.
Mereka berdua berebut setir, Maya yang panik malah semakin menekan pedal gas dan kopling bersamaan. Hal ini membuat mobil yang dikendarai hilang arah, memutar-mutar di tengah jalanan, menyerempet beberapa mobil yang paling dekat dengan mereka, hingga akhirnya terus melaju sampai keluar jalur dan menabrak pohon di pinggir jalan.
"Aaaa!!!"
Teriakan keduanya mewarnai suasana riuh di dalam mobil, sebelum akhirnya mereka sama-sama terjatuh pingsan akibat benturan keras yang menerpa tubuh dan kepala mereka.
***
"Tuan ... Tuan ada polisi yang ingin bertemu Anda sekarang juga."
Teriakan panik dari pembantu rumahnya, membuat Arya yang tengah beristirahat membaringkan tubuhnya di sofa segera terbangun. Dia yang merasa kesakitan akibat dorongan Maya tadi yang membuatnya terbentur tepian meja, terpaksa beranjak untuk menemui polisi yang katanya sudah menunggu di depan rumah.
Arya berjalan tertatih, sebelah tangannya dia gunakan untuk memegangi pinggulnya. Wajahnya berkerut dalam menahan sakit.
"Pak, bagaimana?" tanyanya to the point, ketika dia bertemu sang polisi. Dia memang sedang menunggu kabar, karena semua urusan penangkapan Maya dan Sherly dia serahkan pada para polisi.
Melihat sang polisi menarik napas dalam saat belum menyelesaikan ucapan, membuat jantung Arya berdebar kencang. Entah kenapa, dia ikut merasa napasnya tercekat menunggu kabar tersebut.
"Mereka ada di rumah sakit sekarang, Pak Arya. Mobil polisi yang mengejar, menemukan mereka kecelakaan di tepi jalan," kata sang polisi menjelaskan.
Tubuh Arya menegang. "L-lalu ... l-lalu bagaimana keadaannya?" tanyanya yang entah kenapa mendadak menjadi gugup.
"Mereka mengalami beberapa luka. Nyonya Maya baik-baik saja, tapi Nona Sherly dalam keadaan sedikit parah karena ada bekas benturan di kepalanya yang membuatnya gegar otak ringan," jawab sang polisi.
Tubuh Arya mendadak menjadi lemas. Dia hampir terjatuh, jika saja polisi di depannya itu tak segera menopang tubuhnya. Dia yang tak kuat berdiri, hanya bisa pasrah saat tubuhnya digiring untuk duduk di sofa.
Arya mematung dengan pandangan kosong. Dia tak menyangka jika keputusannya akan berakibat buruk. Dia memang menginginkan Maya dan juga Sherly di penjara, untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat mereka. Tapi dia benar-benar tidak menyangka, jika mereka akan mengalami nasib sial dengan kecelakaan saat berusaha untuk kabur.
Lelaki paruh baya itu merasa menyesal sekarang. Entah kenapa, dia benar-benar terpuruk dihadapkan dengan dua masalah antara istri dan mantan istrinya secara bersamaan.
'Ini benar-benar karma. Ya Tuhan....' Dalam hatinya, Arya hanya bisa mendesah penuh keluh kesah.
Kepala Arya tertunduk, dia menggunakan dua tangannya untuk menopang. Dia memejamkan mata, terlihat begitu bingung dengan situasi saat ini yang membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.
"Anda baik-baik saja, Pak?" Ternyata, polisi yang menemui Arya masih berada di sana. Berdiri di dekat Arya, sambil menatap dengan cemas.
Arya yang menyadari itu langsung mendongak. Dia tersenyum tipis saat mengatakan, "Y-ya ... aku baik-baik saja, hanya masih sedikit terkejut."
"Baiklah kalau begitu, karena urusan saya sudah selesai, saya berpamitan lebih dulu. Apa Anda ingin ikut dengan saya ke rumah sakit, atau nanti akan menyusul sendiri? Kami masih membutuhkan keterangan saksi dari Bapak," kata polisi itu, menatap Arya lekat.
"Pergilah dulu, Pak. Saya akan menyusul sendiri nanti. Masih ada hal yang perlu saya lakukan," ungkap Arya, menolak dengan halus ajakan polisi itu.
"Baiklah, saya pamit. Selamat siang, Pak Arya."
Arya mengangguk, hanya bisa mengantar kepergian polisi dengan pandangan. Karena dia masih belum kuat untuk beranjak dari duduknya. Sungguh, Arya benar-benar merasa tubuhnya sangat lemas sekarang.
Lelaki itu mendesah kasar tatkala tinggal dia sendirian di ruangan itu. Tangannya terulur untuk menutup matanya dengan frustasi. Dia terus berdiam seperti itu selama beberapa saat. Tanpa beranjak, tanpa bergerak, bahkan untuk bernapas saja tidak terlihat maupun terdengar. Benar-benar seperti patung yang sangat tenang.
"Maafkan aku Maya, Sherly," gumam Arya kemudian penuh penyesalan. "Dan Diana, maafkan aku juga. Tapi sekarang aku menepati janjiku untuk tak melepaskan orang yang membuat anak kita celaka."
Lelaki paruh baya itu bahkan mengorbankan anak dan istrinya, hanya karena perasaan bersalahnya pada masa lalu. Arya benar-benar orang yang sangat egois, dia bahkan tak memikirkan bagaimana perasaan Maya maupun Diana untuk saat ini.
Dia lelaki yang bodoh. Sosok yang tak bisa menjadi panutan untuk keluarga. Dan orang yang begitu egois dan tinggi akan harga diri. Karena ulahnya sendiri, dia kehilangan kehidupannya. Semuanya telah pergi, menyisakan dia sendiri dengan penyesalan yang mendalam.