I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 39



"Mbak Ara...."


Suara teriakan antusias yang menggema di ruangan itu membuat senyum Ara merekah. Dia merentangkan tangan, saat lima pegawai salonnya itu mendekat padanya dan meminta peluk.


Mata Ara terpejam, saat tubuhnya dikerubungi dan tak terlihat lagi. Dia tertawa dan merasa senang melihat karyawannya itu selalu kompak.


"Mbak Ara ke mana saja, kok gak pernah kelihatan?"


"Mbak Ara habis liburan, ya? Oleh-olehnya, dong."


"Mbak, aku mau curhat nih."


"Aku kangen tau, salon sepi gak pernah dijenguk sama Mbak."


"Mbak kok tambah cantik, kulitnya rada coklat tapi esetik banget."


Ara terkekeh, dia sampai bingung dengan ucapan-ucapan yang dilontarkan anak buahnya secara serentak. Dia sampai tidak tahu, manakah yang harus dia jawab lebih dulu.


"Kalian ini, tidak bertemu sebentar kok manja-manja seperti ini, sih!" keluh Ara. Dia menggandeng anak buahnya untuk duduk sofa.


"Habisnya, induknya pergi, sih. Makanya kami seperti anak ayam yang kelimpungan. Lihat Mbak kembali, tentu saja kami senang," jawab Rina, seorang karyawan kepercayaan Ara.


Kepala Ara menggeleng mendengar hal tersebut. Dia merasa senang karena ada orang yang merindukannya selain ibu dan anak-anaknya. Memikirkan soal rindu, tiba-tiba Ara kepikiran tentang Al.


'Di mana pria itu sekarang, apa dia juga merindukanku?'


"Mbak, diajak omong kok malah senyum-senyum sendiri, sih!" keluh seorang karyawan yang paling dekat dengan Ara.


Hal ini membuat Ara tersentak. "Kalian ini, sudah-sudah, sana bubar. Lagi pada pegang orang malah berkerumun ke sini. Ntar pelanggan ngeluh, lho!" usir Ara halus, menginginkan karyawannya pergi. Mau bagaimanapun, masih ada dua orang pelanggan yang ada di dalam salonnya itu.


Mereka tampak mendesah, meskipun begitu tetap berbalik dan kembali ke tempat kerja. Ara yang melihat itu lagi-lagi terkekeh pelan. Dia kembali berdiri, mengambil buku di atas meja resepsionis untuk dibawanya naik.


"Rina, tolong laporan salon selama dua minggu ini kirim ke emailku, ya, biar aku cek lagi," kata Ara, menoleh pada Rina saat berada di anak tangga.


"Sial, Mbak. Akan aku kirim segera!" sahut Rina bercanda dengan mengangkat tangannya membentuk hormat di kening.


Wanita itu baru saja duduk, menyalakan komputer di depannya dan bersiap bekerja ketika dia mengingat akan sesuatu.


Ya, bukankah terakhir kali dia datang ke salon dia mempunyai Saka sebagai satpam pengganti? Lalu di mana lelaki itu sekarang? Kenapa tidak berangkat? Pak Tomo juga tidak terlihat.


Merasa pemasaran, Ara akhirnya memencet telepon salon untuk memanggil Rina naik. Sambil menunggu orang kepercayaannya itu datang, sesekali Ara melihat laporan keuangan yang terlampir di buku di depannya.


"Mbak Ara, manggil?" tanya Rina tepat setelah dia sampai di ruangan tersebut.


Ara yang mendengar itu menoleh, lalu segera memutar kursi kerjanya untuk menatap Rina. Masih sambil duduk dengan memainkan bolpoin di tangannya, dia mulai bertanya, "Di mana Saka?"


"Saka? Maksud Mbak pelanggan rese yang tiba-tiba Mbak kerjakan menjadi satpam itu?" tanya Rina memastikan.


"Ya, apa selama ini dia mengingkari janji dan tidak kerja?" tanya Ara penuh selidik.


Rina menghela napas panjang, dia melangkah kembali mendekati bosnya itu. "Sebenarnya, Mbak. Setelah Mbak bilang gak masuk dan akan pergi sebentar, si Saka itu kerja dengan rajin. Ya meskipun omongannya terkadang menjengkelkan dan sombong, dia baik karena benar-benar menjaga salon ini menggantikan pak Tomo." Rina memulai pembicaraan dengan penjelasan yang detail.


"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Ara lagi, mengangkat sebelah alisnya.


"Tiga hari setelah Saka bekerja, tiba-tiba hari itu ada sekelompok orang datang. Mereka serem, Mbak. Penampilan mereka seperti preman. Mereka tiba-tiba menghajar Saka, dan berkata jika Saka tak boleh lagi bekerja di sini. Mereka menyeret Saka pergi, dan setelah itu Saka tak lagi terlihat," ungkap Rina panjang lebar.


Ara terdiam, cerita itu terasa tidak masuk akal baginya. Memang siapa yang menginginkan Saka tidak boleh bekerja lagi ke sini? Jika orang-orang itu adalah orang yang mencari Saka dulu, mereka pasti hanya akan membawa Saka pulang.


Sekelebat kenangan tiba-tiba terlintas di benak Ara, saat Al pernah mengatakan jika Al cemburu dan tak suka dia dekat dengan lelaki lain, baik itu muda dan tua sekalipun. Menyadari jika mungkin saja semua itu ulah Al, membuat Ara memekik kaget.


"Mbak, Mbak tidak apa-apa?" tanya Rina cemas, melihat bosnya tersentak.


Bukannya menjawab, Ara malah balik bertanya, "Bagaimana dengan pak Tomo?"


"Dia tidak pernah berangkat lagi sejak kejadian itu, Mbak. Bahkan aku tidak bisa menghubunginya," sahut Rina dengan polosnya.


Kepala Ara mendadak pusing seketika. Wanita itu mendesah, menyandarkan tubuh dengan kasar lalu memejam mata dengan frustasi.


'Astaga, Al, apakah begini sikapmu jika cemburu?' gumam Ara dalam hati terlihat stres menghadapi tingkah kekanak-kanakan pria bule yang selama ini menjalin hubungan dengannya itu.